
Alangkah terkejutnya Watanabe ketika merasakan tubuhnya terseret sesuatu dengan kecepatan tinggi.
Apalagi ketika Watanabe mengetahui ternyata sesuatu yang menyeretnya itu adalah seseorang yang beberapa saat yang lalu sempat ingin membunuhnya.
"Kau...! Kenapa masih mengincarku?! Bukankah kau sudah berjanji untuk melepaskan aku" ucap Watanabe panik.
"Tenang saja! Aku kesini bukan untuk membunuhmu, tapi untuk menyelamatkanmu," balas Firon sambil tersenyum.
Watanabe mengerutkan dahi, ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Firon.
"Hei, kau! Lancang sekali kau mencampuri urusan orang lain!" ucap Pendekar itu lantang.
"Aku tidak ingin mencampuri urusan siapa pun, tapi aku tidak akan membiarkan siapapun berbuat sesuka hati di hutan ini." Firon membalas pernyataan pendekar bertopeng itu tanpa menoleh padanya.
"Bukankah pemuda ini yang telah mengalahkan Lima Perisai Emas, tapi kenapa dia tidak menggunakan jurus yang sama untuk menghentikan aku?"
Disaat Pendekar itu mencoba memikirkan alasan kenapa Firon tidak langsung menggunakan Surudoi untuk menghadapi mereka, Firon justru sedang mencoba memfokuskan pendengarannya ke satu arah.
"Saudari Nara... Jangan perlihatkan dirimu dengan para pendekar yang sedang aku hadapi ini! Masih ada seorang lagi yang sedang mengintai dan menunggu celah agar bisa membunuhku..!" ucap Firon dengan menggunakan telepati.
Nara yang sudah melihat posisi Firon dari kejauhan segera menghentikan langkahnya dan mencoba memahami maksud perkataan Firon.
Setelah berfikir sejenak, Nara akhirnya mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia kemudian melompat ke dahan pohon yang tinggi dan mencoba mencari dimana posisi pendekar yang dimaksud oleh Firon.
'Walaupun aku tidak yakin akan mampu mengalahkan pria ini, namun setidaknya kami mampu membuka celah agar Kapten Yin bisa melukai pria ini dari tempat persembunyiannya." Pendekar itu dan seluruh rekannya kemudian menyerang Firon secara bersamaan.
Firon cukup kewalahan menghadapi kelima pendekar itu. Selain karena kekuatan gabungan dari kelima pendekar itu berada sedikit diatasnya, ia juga harus menutup semua celah agar pendekar yang bersembunyi itu tidak punya peluang untuk melukainya.
Pertukaran jurus demi jurus terus berlangsung, akhirnya sebuah tendangan berhasil mendarat di tubuh Firon dan membuatnya terpental cukup jauh.
"Tendangan ini tidak akan membuatku terbunuh, tapi kelihatannya jarum-jarum itu sangat berbahaya." Mata Firon melebar ketika menyaksikan batang pohon yang terkena jarum beracun itu tiba-tiba menghitam.
Firon kemudian menghubungi Nara, "Nara...! Apa kau belum menemukannya?! Oyah, pendekar itu memiliki jarum beracun, jadi kau harus berhati-hati."
Nara mendengus kesal. Ia sangat mengerti situasi Firon saat ini, namun ia belum bisa berbuat apa-apa.
"Kalau begini terus dia akan mati," Batin Nara, "Ow... Aku tau sekarang."
Sebuah ide tiba-tiba mengisi kepala Nara. Ia kemudian melesat mengitari area pertarungan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Tujuannya tentu untuk memancing pendekar rundup itu agar mau keluar dari persembunyiannya.
Nara sangat tahu kalau idenya itu bisa membahayakan nyawanya, namun ia tetap melakukannya karena tidak ingin Firon terbunuh.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?! Itu sangat berbahaya!" Melalui pendengarannya yang sangat tajam, Firon bisa mengetahui pergerakan yang dilakukan oleh Nara.
Nara tidak peduli dengan perkataan Firon yang baru saja mengisi kepalanya. Ia hanya ingin segera menemukan pendekar rundup itu.
"Kalau begini terus, Nara bisa mati." Firon bangkit dan segera melakukan serangan. Kali ini ia tidak lupa mengalirkan sedikit energi dewa dan sedikit tenaga dalam ke Pedang Ratu Iblis.
Pertukaran jurus kembali terjadi. Kali ini para pendekar itu yang terlihat kewalahan.
Sambil menghindari jarum-jarum yang meluncur ke arahnya, Firon juga mencoba menyerang dengan serangan mematikan.
Selain karena memang ingin membunuh para pendekar itu, Firon juga sengaja melakukan serangan membabi-buta dan membuka beberapa celah agar pendekar rundup itu juga gencar melakukan serangan. Tujuannya tentu agar Nara bisa secepatnya mengetahui posisi pendekar rundup itu.
Nara sontak menghentikan pergerakannya. Sesuatu yang dicarinya ia temukan sedang bertengger di sebuah dahan pohon raksasa.
"Itu dia." Nara tidak mau membuang-buang waktu, ia langsung menyerang pendekar rundup dari arah belakang.
Sebelum Nara berhasil mendaratkan ujung pedangnya, pendekar itu tiba-tiba menyadari kedatangannya dan berhasil menghindar meski ia harus kehilangan kain penutup wajahnya karena terkena ujung pedang.
"Cantik sekali orang ini." Nara begitu takjub melihat kecantikan wajah pendekar yang berada di depannya itu.
Wanita cantik yang memiliki tanda lahir berbentuk kerucut di dekat mata sebelah kirinya itu tersenyum ke arah Nara sebelum melancarkan serangannya ke arah yang sama.
Nara tidak tinggal diam, ia segera menangkis serangan wanita itu dan mencoba menyerang balik.
"Orang ini sangat hebat, tapi setidaknya aku bisa mengalihkan perhatiannya." Nara mengusap darah di sudut bibirnya sambil tersenyum ke arah wanita yang telah melukainya itu.
Sementara itu, Firon yang bisa medengar pertarungan Nara dan pendekar rundup itu tidak mau membuang-buang waktu dan segera melompat mundur beberapa langkah.
Firon kemudian tersenyum ke arah para musuhnya. Ilham tiba-tiba mengalir ke kepalanya.
"SURUDOI...! Tekhnik Pengunci!"
Kalimat yang tiba-tiba muncul dan ia ucapkan mengiringi jurus yang keluar dari kedua matanya.
Kelima pendekar itu mematung seketika.
Firon tidak ingin membuang-buang waktu. Ia melesat dan langsung menebas leher para pendekar itu satu-persatu.
Watanabe melotot menyaksikan pembantaian yang dilakukan oleh Firon. Ia bahkan gemetar ketakutan ketika kepala pendekar yang hendak membunuhnya tadi menggelinding kearahnya dan tepat berhenti di dekat kakinya.
"Tunggu disini kalau kau tidak ingin berakhir seperti itu!" Firon kemudian meninggalkan Watanabe di lokasi pertempuran tadi.
__ADS_1
Nara mencoba bangkit dan hendak melakukan serangan. Namun baru selangkah ia meninggalkan tempatnya, beberapa jarum beracun tiba-tiba meluncur dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
Nara merintih kesakitan. Beberapa jarum beracun kini bersarang di dadanya.
Seluruh tubuh Nara beransur menghitam dan ia kemudian terbatuk darah sebelum akhirnya ia jatuh dari pohon Kriptomeria tempatnya tadi bertarung.
"Gawat... Aku terlambat!" Beruntung Firon bisa mencapai tubuh Nara sebelum menyentuh tanah.
Dalam kondisi yang hampir kehilangan kesadaran, Nara berkata, "Firon, aku-" Kata-katanya terhenti dan ia kini menutup mata.
"Nara, Nara, Nara...! Kau jangan mati, Nara!" Firon merapatkan gigi. Matanya berkaca-kaca seperti orang yang hendak menangis.
Pendekar perempuan itu segera melompat dan mendaratkan kakinya tidak jauh dari posisi Firon berada.
Ekspresi wajah pendekar itu berubah menjadi orang yang tampak kebingungan sejak mendengar suara Firon dari dekat. Apalagi ketika ia mendengar Nara menyebut nama Firon.
"Kau, siapa? Siapa namamu?" tanya pendekar itu dengan nada gemetar.
"Apa urusanmu dengan namaku, hah?!" pekik Firon sambil menoleh ke arah pendekar itu.
Ekspresi wajah Firon yang tadinya dipenuhi amarah justru menjadi tenang ketika memandang wajah wanita itu.
"Adik Yin, kaukah itu?" tanya Firon lembut.
----
Author mau curhat sedikit nih😊
Mungkin tidak semua Author punya pandangan yang sama, namun yang ingin aku sampaikan adalah bahwa aku sangat bersyukur masih ada yang setia membaca novel ini hingga sekarang.
Hanya saja ada beberapa hal yang kadang membuat aku heran.
Setiap hari aku selalu memperhatikan trafik pembaca novel ini, yah.. Alhamdulillah sudah ada seribu hingga dua ribu viewers dalam sehari. Dan yang menjadi pertanyaan ;
▶kok, like dan komennya dikit, yah?
▶Apa karena novelnya jelek ya?
▶Apa mungkin memberi like itu susah?
▶Memberi komen itu susah?
__ADS_1
Tapi, yah sudahlah, apapun itu author akan mencoba memberikan yang terbaik yang author bisa.
Readers yang budiman, jangan tersinggung yah!🙏😊