Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 39 - Konflik Di Tepi Hutan Terlarang III


__ADS_3

Ryusa yang sejak tadi mengamati pergerakan para anggota Pilar Golok Angin hanya bisa mengerutkan dahi melihat situasi yang terjadi tidak sama dengan yang ia duga sebelumnya. Ia segera melompat ke dahan yang sama dengan dahan yang didiami Sin Toru sejak tadi.


“Padahal aku sangat berharap ada pertarungan sengit antara tuan muda Firon dan para pengacau itu,” ucap Ryusa saat tiba di dekat Sin Toru.


“Aku juga berharap begitu. Aku mengira, hari ini adalah momen yang tepat untuk menguji, apakah  Firon sudah bisa sedikit mengontrol energi dewa dan tenaga dalam miliknya menggunakan pedang itu.”


“Lalu, apa yang akan kita lakukan terhadap mereka, Ketua?”


“Lumpuhkan pergerakan semua pendekar itu terlebih dahulu, kemudian bawa mereka semua ke Pulau Sembilan! nanti aku temui mereka di sana… oiya, gadis yang terluka itu nanti aku suruh Nara yang mengurusnya.”


“Baik, Ketua,” ucap Ryusa sebelum menghilang dari pandangan Sin Toru.


Sin Toru kemudian menoleh ke arah Nara yang tengah asyik memperhatikan gerak-gerik Firon di kejauhan.


“Nara… bawa gadis yang terluka itu ke Pulau Bambu, aku akan mengobati gadis itu di sana!”


“Baik, Ketua,” ucap Nara sebelum menghilang dari pandangan Sin Toru.


Saat Momo dan Yatsu sedang memperhatikan Firon yang masih sibuk memperbaiki posisi tubuh Miya di atas punggung elang raksasa, seorang lelaki yang mengenakan pakaian serba hitam dan menggunakan penutup wajah tiba-tiba muncul di belakang mereka. Lelaki yang tak lain adalah Ryusa itu menotok aliran persendian Yatsu dan Momo dan membuat keduanya tidak mampu bergerak sama sekali.


Setelah berhasil melumpuhkan Yatsu dan Momo, Ryusa menghilang beberapa saat sebelum akhirnya muncul di belakang Yugo.


Yugo hanya bisa berdecak kesal ketika menyadari pergerakannya telah dikunci oleh seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


Hanya berselang beberapa detik, Yura yang berdiri berhampiran dengan Yugo, hanya bisa mengumpat dalam hati ketika melihat sesosok lelaki berpakaian serba hitam tiba-tiba berdiri di hadapannya. Ia ingin sekali menyerang sosok lelaki itu, namun ia tak mampu menggerakkan tubuhnya sama sekali.


“Tuan Kurcaci, sepertinya burung ini hanya bisa membawa dua orang, jadi aku ingin meminta tolong, antar nona ini menemui kakek Sin.” Firon mencoba berkomunikasi dengan kurcaci yang ada di punggung elang raksasa menggunakan ilmu telepati.


Kurcaci itu tidak merespon sama sekali, hal itu membuat Firon mengulangi ucapannya sekali lagi, “Tuan Kurcaci, sepertinya burung ini hanya bisa membawa dua orang, jadi aku mohon, antar nona ini menemui kakek Sin.”


Kurcaci itu masih belum bereaksi sama sekali.

__ADS_1


‘Apa yang harus aku lakukan agar manusia kerdil ini bisa memahami permintaanku?’ Firon berfikir keras bagaimana cara membuat kurcaci itu paham.


Suara tawa lembut tiba-tiba mengisi pendengaran Firon.Seorang gadis berpakaian serba hitam dan menggunakan penutup wajah tiba-tiba muncul di sampingnya.


Firon langsung menoleh ke sumber suara tawa lembut itu.


“Siapa kau?” tanya Firon denga nada yang agak kasar.


Gadis itu membuka penutup wajahnya, “Aku Nara, kurcaci itu tidak mengerti bahasa manusia. Hanya Ketua Sin dan beberapa Tetua Kaum Hidden yang punya kebolehan berkomunikasi dengan kaum Kurcaci. Apalagi kau berkomunikasi menggunakan ilmu telepati.”


“begitu ya? Bagaimana denganmu?”


“Aku juga tidak punya kemampuan untuk berkomunikasi dengan mereka, namun aku sering menggunakan bahasa isyarat jika terpaksa harus berkomunikasi dengan mereka.”


“Bahasa isyarat?”


“Iya, bahasa dengan menggunakan anggota tubuh.”


“Misalnya, begini.” Nara kemudian membuat gerakan tangan dengan merapatkan telapak tangannya ke dada, lalu membuat membuat symbol hati menggunakan kedua tangannya, kemudian mengarahkan ujung jemari tangannya ke arah Firon.


“Artinya?” tanya Firon penasaran.


“Ah, sudahlah! Ketua Sin menyuruhku membawa nona ini ke Pulau Bambu untuk diobati,” ucap Nara sambil memancungkan bibirnya ke arah Miya. Tergambar sedikit rasa tidak senang di mata Nara ketika memandang wajah Miya.


“Ooo.. bagaimana dengan kedua orang itu?” Firon kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Yatsu dan Momo.


“Para kurcaci yang akan mengurusnya, lebih baik kita tinggalkan tempat ini segera.” Nara kemudian menggunakan bahasa isyarat menyuruh kurcaci itu agar turun dari punggung elang raksasa. Ia menunggangi elang raksasa menggantikan kurcaci yang sejak tadi berada di punggung elang raksasa itu.


“Tunggu apa lagi, ayo kita tinggalkan tempat ini!” ajak Nara.


Firon hanya menaikkan alis dan menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya karena ingin memastikan apakah yang diajak oleh Nara adalah dirinya.

__ADS_1


“Iya, kamu.. ayo naik!” ucap Nara sambil menepuk-nepuk punggung elang raksasa tepat di belakang tempat ia duduk.


Bukannya langsung menuruti ajakan Nara, Firon justru kebingungan dan menjadi salah tingkah. Ia tidak menduga sama sekali Nara akan mengajak dirinya untuk menunggangi elang raksasa bersama-sama.


Nara hanya tersenyum melihat Firon yang salah tingkah.


“Ayolah.. aku tidak mengajakmu karena aku menyukaimu, tapi ini adalah perintah dari Ketua Sin, jadi kamu jangan berfikir macam-macam.” Nara mencoba berbohong agar Firon mau menuruti perkataannya.


Firon akhirnya menuruti ajakan Nara dan segera duduk di belakangnya.


Untuk pertama kalinya semenjak menginjak usia remaja, Firon berada sangat dekat dengan lawan jenisnya. Jantungnya berdetak kencang ketika aroma tubuh Nara yang begitu wangi mengusik penciumannya. Ada gejolak yang sama sekali  tidak ia mengerti mengganggu batinnya.


Ketika burung elang raksasa terbang di udara, rambut lurus nan lembut milik Nara sekali-kali menampar wajah Firon, namun tidak membuat Firon merasa terganggu, justru hal itu sesekali memaksanya harus menelan ludah.


‘Ah.. Fikiran bodoh macam apa ini?’ Firon mencoba membuang semua perasaan yang mengganggunya.


Dalam perjalanan menuju Pulau Bambu, Firon dan Nara tidak pernah melakukan dialog hingga mereka tiba di tempat tujuan. Hal itu terjadi karena Firon yang bingung dan gugup ketika berada di dekat Nara, dan Nara yang sebenarnya tidak suka melakukan percakapan melalui ilmu telepati.


**


“Apa tujuan kalian membuat kerusakan di Hutan Terlarang?” tanya Ryusa setelah menotok bagian leher Yatsu dan kelima rekannya agar bisa berbicara.


“Tuan, lebih baik kau bunuh saja kami! Kau tidak akan mendapatkan informasi apapun dari kami,” ucap Ningju dingin.


“hahahahaha.. sudah berbuat salah tapi masih juga bersikap sombong.” Ryusa kemudian melangkah menghampiri Yatsu, “Kalau tidak salah, anda adalah pemimpinnya bukan?”


Yatsu tidak langsung menjawab, ia hanya tertunduk, “Teman-teman, maafkan aku,” ucap Yatsu lirih. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Ryusa, “Tuan, Aku mohon lepaskan mereka! Jika ada yang harus disalahkan, maka Akulah orangnya. Akulah yang telah memerintahkan mereka untuk menghancurkan hutan.”


Ryusa terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Yatsu akan berkata begitu, “Baik, Aku bisa memenuhi keinginanmu, tapi katakan! Apa benar kalian datang ke sini untuk membunuh Pangeran?!”


“Maksud Tuan? Aku tidak mengerti.” Yatsu menjadi kebingungan mendengar pertanyaan Ryusa.

__ADS_1


__ADS_2