
“Rara, benda ini sudah lama ingin ayah berikan padamu,” ucap Sin Toga sambil menyodorkan sebuah cincin kepada anaknya.
“Inilah jawaban dari pertanyaanmu barusan dan benda ini mungkin bisa membantumu” ucap Sin Toga. Ia tersenyum melihat anaknya menerima pemberiannya tanpa berkomentar.
Di sisi lain, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia sungguh merasakan kesedihan. Ia sulit menerima kenyataan bahwa anaknya tidak lagi seanggun dan secantik dulu.
Sebelumnya, Dewi Rara adalah salah satu wanita tercantik di Kerajaan Langit. Namun kini penampilannya menjadi lebih mirip Pendekar Aliran Hitam.
Dewi Rara terlihat menggunakan cadar yang hampir menutupi seluruh wajahnya. Yang kelihatan hanya mata kanannya saja. Pedang Langit yang sebelumnya ia pasang di pinggangnya, kini ia ikat di punggungnya, karena ukuran pedang itu menjadi lebih besar dan panjang dari sebelumnya.
“Sekarang ayah tidak bisa mendampingimu lagi. Sekarang kembalilah ke tempat di mana kamu pertama kali menyentuhkan kakimu ke bumi. Maka di sanalah tempatmu untuk kembali ke langit.” jelas Sin Toga. Tubuhnya sudah mulai tampak meredup dan nyaris menghilang.
Setelah memberi hormat kepada ayahnya, Dewi Rara kemudian melesat menorobos hujan. Dengan adanya cincin pemberian ayahnya itu terpasang di jemarinya, maka ia tidak akan tersentuh oleh air kecuali atas keinginannya sendiri.
Di sisi lain, Sin Toga masih berdiri mematung memperhatikan anaknya
yang melesat pergi meninggalkannya. Seiring menghilangnya Dewi Rara dari pandangannya, roh Sintoga juga ikut menghilang dan kembali menyatu dengan jasadnya yang berada di langit.
***
Sehari sebelum Aron dan enam rekannya menyerang markas Klan Serigala Putih, para perwakilan dari tiga kerajaan, belasan sekte dan puluhan klan tanpa sekte dijadwalkan untuk berkumpul di markas besar Perserikatan Bumi di lereng Gunung Himala yang terletak di kawasan selatan bumi.
Hari pertemuan yang seharusnya digunakan untuk membahas isu terkait Klan Serigala Putih yang akan mengaktifkan Gerbang Naga, berubah menjadi hari kehancuran bagi banyak kalangan. Bagaimana tidak, dari sekian banyak utusan yang melakukan perjalanan menuju markas Perserikatan Bumi, hanya ada tujuh utusan yang bisa mencapai markas. Para utusan yang lainnya tewas dalam perjalanan setelah diserang oleh monster naga.
Tujuh utusan itulah yang kemudian sepakat untuk menyerang markas Klan serigala Putih tanpa mengetahui bahwa mereka semua tidak akan mampu mengalahkan ketua Klan Serigala Putih, apalagi Monster Naga berkepala tujuh.
__ADS_1
Beruntung, empat dari tujuh pendekar itu sempat diselamatkan oleh Dewi Rara dan Sintoga. Bahkan mereka berempat menjadi bertambah kuat berkat energi dewa yang diberikan oleh Sintoga.
Dengan Energi yang baru didapatkannya, kekuatan Aron kini menjadi jauh lebih kuat. Kecepatan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya kini menjadi sepuluh kali lebih gesit dari sebelumnya. Aron melesat bak angin badai melewati para naga di sepanjang perjalanannya. Jarak ribuan mil ia tempuh hanya dalam waktu beberapa jam saja.
Ketika Aron sudah hampir sampai di Gua Air Terjun tempat Klan Gojo berdiam diri, ia dikejutkan oleh sebuah fenomena aneh yang terjadi di depan matanya.
“Apa yang terjadi?” Aron sontak menghentikan gerakannya. Ia memandangi ribuan ekor naga yang terseret oleh awan hitam. Hanya dalam hitungan detik, ribuan ekor naga yang memenuhi langit, kini menghilang semuanya.
Aron kemudian meloncat ke sebuah puncak bukit untuk melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi.
“Sepertinya mereka sudah berhasil,” gumam Aron sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, senyuman Aron menghilang, tiba-tiba langit menjadi gelap, suara halilintar menggelegar bersahut-sahutan. Butiran air hujan yang tampak lebih besar ukurannya dari biasanya, berjatuhan mengguyur bumi.
Aron kemudian memutuskan untuk secepatnya tiba di Gua Air Terjun. Ia kembali melesat dengan kecepatan tinggi menembus hujan. Tak lama kemudian ia pun tiba di kediaman Klan Gojo.
Tidak mau membuang-buang waktu, Dewi Rara langsung memusatkan energi dari seluruh tubuhnya ke telapak tangannya. Energi yang berbentuk bola cahaya berwarna kebiruan itu kemudian ia dorong ke arah mulut gua yang berada di hadapannya.
Gua kecil itu kemudian berubah menjadi gerbang cahaya yang menghubungkan antara bumi dan langit.
Portal yang diciptakan oleh Dewi Rara itu kemudian lenyap tanpa bekas, sesaat setelah Dewi Rara masuk ke dalam Portal tersebut.
“Semoga kelak kita bisa berjumpa lagi,” bisik Aron dari balik air terjun. Ia hanya bisa merelakan kepergian orang yang telah membuat dirinya jatuh cinta. Yah, pada pandangan pertama.
“Aron, jangan mimpi! Kau tidak pantas untuknya.” Aron memaki dirinya sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Aron kemudian masuk menemui ayahnya dan menyampaikan semua hal yang diketahuinya.
Ketua Jo kemudian memerintahkan anggotanya untuk melaksanakan amanah yang diberikan oleh Sin Toga terkait bencana yang akan menimpa bumi.
***
Di sisi lain, Seorang lelaki tampan tersenyum mesra menyambut kedatangan Dewi Rara yang baru saja muncul dari Gerbang Bumi. Ia terlihat bingung melihat penampilan Dewi Rara. Bagaimana tidak, sebagian besar wajah Dewi Rara terbungkus balutan cadar yang sedikit berantakan. Apalagi adanya pedang panjang terikat di punggungnya membuatnya terlihat semakin sangar.
“Sayang, kenapa kamu menyembunyikan wajah cantikmu?” tanya lelaki yang kebingungan itu.
“Pangeran Yong … ," ucap Dewi Rara sambil menatap lelaki itu dengan tatapan tajam.
“Kata sayang yang kamu ucapkan padaku barusan, mungkin adalah yang terakhir.” Dewi Rara menghela nafas panjang sambil melangkah mendekati Pangeran Yong.
“Dirimu tidak akan mungkin menerimaku dengan kondisi seperti ini.” Dewi Rara membuka penutup wajahnya.
Pangeran Yong terdiam. Ia hanya mematung. Ekspresi wajahnya begitu jelas menggambarkan bahwa ia ngeri sekaligus jijik melihat wajah Dewi Rara.
Pangeran Yong kemudian menunduk. Ia seolah-olah ingin menghindari tatapan Dewi Rara.
Dewi Rara mencoba memahami situasi yang dihadapinya. Ia kemudian melangkah membelakangi Pangeran Yong sambil berkata, “Kamu tidak usah khawatir, setelah aku memberi laporan pada raja langit terkait misi yang baru saja kuselesaikan, aku akan meminta Raja Langit untuk membatalkan pertunangan kita!”
Dewi Rara kemudian beranjak meninggalkan Pangeran Yong yang masih tertunduk dalam kebisuannya. Ia bergegas menuju istana.
Prajurit istana yang menjaga gerbang istana sempat menahannya karena penampilannya yang terlihat asing. Namun setelah Dewi Rara menunjukkan identitasnya, para prajurit itu kemudian membiarkan Dewi Rara memasuki area istana.
__ADS_1
Dewi Rara kemudian diantar oleh salah seorang prajurit untuk menemui pihak istana yang berwenang menerima laporan.
Setelah menyampaikan hal-hal yang perlu ia sampaikan kepada pihak istana, Dewi Rara kemudian meninggalkan area istana dan pulang ke kediamannya.