
“Prakkk.”
Perahu milik Aron tiba-tiba oleng. Sesaat kemudian, suara hantaman kaki di lantai perahu terdengar oleh telinga Aron. Ia menoleh ke arah sumber suara.
“Boss, aku menemukan seseorang di atas perahu ini!” teriak seorang lelaki bertubuh ceking.
Beberapa saat kemudian, puluhan orang melompat ke atas perahu dan mengepung Aron yang masih terbaring santai dan nampak cuek. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang telah siap menyerangnya itu.
“Tangkap dia, dan ambil semua barang berharga di atas perahu itu!” seru seorang lelaki yang berbadan kekar, bewajah sangar dan berdiri di atas perahu yang ukurannya jauh lebih besar dari perahu milik Aron. Lelaki itu adalah pemimpin para penyamun.
Aron yang tadinya terbaring, kini mengambil posisi duduk dan tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Hey kau!” teriak lelaki ceking itu.
“Iya kau!” teriak lelaki ceking itu lagi. Ia sangat murka melihat Aron memasang wajah konyol sambil menunjuk batang hidungnya.
“Menyerahlah dan serahkan semua hartamu!” pekik sang pemimpin para penyamun.
Aron yang telah memiliki rencana. Ia kemudian meletakkan pedangnya, lalu berdiri dan mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda ia menyerah.
Beberapa orang dari perompak itu kemudian menghampiri Aron. mereka memungut pedang milik Aron dan memeriksa Aron mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Lumayan!” ucap lelaki ceking tadi ketika membuka bungkusan yang berisi ratusan keping koin emas. Mereka menemukan bungkusan itu di balik pakaian Aron.
Aron kemudian diikat dan diseret naik ke perahu yang ditumpangi para penyamun itu.
Ketika tiba di depan pintu kurungan, para penjahat itu tidak segan-segan menendang bokong Aron hingga membuatnya tersungkur ke lantai kurungan.
“Awas kalian semua! Sebentar lagi kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal!” ucap Aron. Ia terlihat santai dan berlagak masa bodoh.
“Hahaha, berani juga kamu berkata begitu terhadap mereka anak muda,” kelakar seorang lelaki paruh baya yang berada satu kurungan dengan Aron.
Aron terlihat tidak peduli dengan ucapan lelaki paruh baya itu. Ia lebih memilih duduk di sudut ruangan, sambil memperhatikan penampilan Lelaki paruh baya itu dengan seksama.
“Hai anak muda, sepertinya kau sudah lama berada di tengah lautan,” ucap lelaki paruh baya itu lagi.
“Apa yang anda maksud dengan lautan?!” Aron yang tadinya cuek, kini mulai meladeni lelaki paruh baya itu.
“Yaa ... Hamparan air yang entah di mana tepinya ini” jawab lelaki paruh baya itu berlagak sok tahu.
__ADS_1
Aron hanya menggaruk kepala dan berlagak bodoh ketika mendengarkan jawaban lelaki paruh baya itu.
“Perkenalkan, namaku Ligo. Aku adalah pemilik yang sesungguhnya perahu ini,” ucap lelaki paruh baya itu memperkenalkan diri.
“Tuan Ligo, dari mana anda mengetahui
perihal tentang lautan yang anda sebutkan tadi?!” tanya Aron dengan wajah penasaran.
“Hemm ... Anda tidak ingin memperkenalkan diri dulu anak muda?” tanya Tuan Ligo terlihat kecewa karena Aron tidak berniat memperkenalkan diri.
Mendengar pertanyaan Tuan Ligo, Aron hanya diam dan lagi-lagi menggaruk kepalanya. Tergambar keraguan di wajahnya. Dia tidak yakin akan memberitahu identitasnya kepada orang yang baru saja dikenalnya.
“Baiklah jika anda tidak ingin memperkenalkan diri,” ucap Tuan Ligo mencoba memahami Aron.
“Sebenarnya aku juga baru tahu perihal
lautan ini dari perempuan yang berada di kurungan sebelah. Aku tidak tahu siapa sebenarnya perempuan itu. Dia juga enggan memberitahu identitasnya. Tapi kelihatannya ada banyak hal yang.dia ketahui,” ungkap Tuan Ligo sambil mengarahkan wajahnya ke arah kurungan yang ada di sebelahnya.
Kini perhatian Aron dia alihkan ke
kurungan yang berada di sebelahnya itu. Terlihat perempuan yang nyaris menutup seluruh wajahnya itu ikut memandangi Aron.
Aron sempat berniat untuk menyapa perempuan misterius itu, namun ia mengurungkan niatnya, ia sedang tidak ingin berurusan dengan siapapun sebelum mencapai daratan.
Hari demi hari Aron lalui di dalam
kurungan bersama Tuan Ligo dan para awak kapalnya. Semua penghuni kurungan, baik kurungan yang dihuni para lelaki, maupun kurungan yang dihuni oleh para perempuan, sudah tampak tak bisa bertahan lebih lama lagi.
“Kalau begini terus, kami semua bisa mati disini” gumam Aron sambil memperhatikan para tahanan.
“Boss ... Aku melihat ada daratan!” teriak seseorang dari dek paling atas.
Aron yang mendengar teriakan itu mulai
bereaksi. Ia mengambil sehelai batang jerami, lalu mengaliri jerami itu dengan tenaga dalam. Ia kemudian menembakkan jerami itu ke kening penjaga yang sedang duduk sambil meminum arak.
“Taappp.”
Jerami itu menancap di kening penjaga tersebut. Ia kemudian jatuh ke lantai dan tewas seketika.
__ADS_1
Puluhan orang yang berada dalam satu kurungan dengan Aron terlihat bereaksi. Mereka ketakutan menyaksikan kejadian tadi.
“Kalian semua tenang dulu. Aku akan membereskan para penjahat itu!”
Para tahanan tidak jadi bereaksi lebih jauh. Aron memberi mereka aba-aba untuk tetap tenang.
Aron kemudian mengambil pedang milik penjaga yang sudah tak bernyawa itu. Ia kemudian menghabisi para penjahat itu satu persatu tanpa perlawanan.
Kecepatan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Aron benar-benar membuat dirinya begitu mudah menghabisi lawan-lawannya yang hanya pendekar biasa.
Aron kemudian menuju ruang kemudi dimana pemimpin para penjahat itu berdiam diri.
“Prakkk.” Pintu ruang kemudi terlempar dan menghantam salah seorang penjahat yang sedang berdiri di belakang pintu.
Semua orang di ruangan itu terkejut bukan main. Mereka menjadi murka melihat Aron berdiri santai sambil tersenyum bodoh seolah-olah tak melakukan kesalahan.
“Tunggu apa lagi? Habisi dia!” pekik
pemimpin penjahat itu.
Puluhan orang kemudian mengepung Aron dari segala penjuru.
Jurus Mata Elang : Terkuncilah!!!
Tatapan mata Aron seketika membuat semua orang di ruangan itu tidak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali. Seluruh persendian mereka seolah terkunci. Dengan langkah santai, Aron kemudian membunuh para penjahat itu dengan tusukan dan tebasan pedang.
“Serahkan kembali pedang milikku!” ucap Aron santai sambil tersenyum ke arah satu-satunya penjahat yang belum ia bunuh.
“A ... am ... pun!” pemimpin penjahat itu kemudian berlutut sambil menyodorkan pedang milik Aron yang sebelumnya ia ambil.
“Kau tahu kenapa aku belum membunuhmu? Itu karena kau sedang memegang pedangku!" tegas Aron. Kali ini ia terlihat serius.
Aron kemudian menebas leher lelaki yang tersisa itu dengan satu tebasan.
“Tidak ada gunanya membiarkan para
penjahat rendahan ini hidup,” gumam Aron ketika mengambil sekantong koin emas miliknya dari pakaian lelaki yang baru saja ia bunuh. Ia kemudian melangkah ke arah tempat ia dikurung sebelumnya.
Sesampai di depan pintu kurungan, Aron
__ADS_1
kemudian memberitahu semua orang, bahwa ia telah menghabisi para penjahat itu.