Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 23 - Kubus Cahaya


__ADS_3

Butiran air hujan menetes sedikit demi-sedikit dan kabut tebal menutupi pandangannya. Noguchi menenteng sebuah lentera untuk menerangi jalan yang ia lalui.


Noguchi kemudian melepas tali tambang perahunya yang terikat di pohon bakau yang berdiri tegak di pinggir danau. Ia kemudian menaiki perahu kecil miliknya dan mendayungnya hingga ke tengah danau.


Sesampainya di tengah danau, Noguchi kemudian mengeluarkan peralatan pancingnya, lalu kemudian melemparkan mata kail miliknya yang sudah dipasangi umpan.


“Semoga malam ini aku bisa mendapatkan ikan yang banyak. Kalau tidak, Tuan Yorinaga pasti akan marah dan memukulku lagi” Noguchi memegang pundaknya yang lebam sambil menatap ke arah air tempat ia menurunkan mata kail pancingnya.


Setelah beberapa jam lamanya menunggu dengan sabar, Noguchi kemudian menjadi waspada ketika menyaksikan benang pancingnya ada yang menarik.


“Sepertinya ini ikan yang besar!” Gumam Noguchi penuh harap.


Noguchi kemudian mencoba menarik benang pancingnya. Namun tarikan dari bawah air ternyata lebih kuat, sehingga membuatnya kesulitan dan berkeringat dingin. Perahu kecil miliknya menjadi oleng dan nyaris terbalik.


Ketika Noguchi melepaskan alat pancing yang sudah tak mampu ia tahan, sebuah ledakan cahaya dari dalam air membuatnya terperanjat dan spontan melompat menyelamatkan diri karena mengira ledakan itu akan melukai dirinya.


Didalam air, Noguchi kemudian disuguhi sebuah pemandangan yang amat menakjubkan. Cahaya berbentuk


kubus menerangi permukaan dasar danau, sehingga  terumbu karang dan tanaman bawah air serta berbagai jenis ikan yang berada disekitar kubus cahaya tersebut bisa Noguchi lihat dengan amat jelas.


Noguchi kemudian kembali ke permukaan air untuk mengambil nafas sebelum kembali menyelam. Ia penasaran dan berniat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu.


Noguchi kemudian menghampiri kubus cahaya tersebut dan menyentuhnya dengan ujung jari-jarinya. jari tangannya menembus kubus cahaya dan ia kembali takjub karena menyadari bahwa sisi dalam kubus cahaya tersebut tidak tersentuh air sama sekali.


Ia kemudian mencoba memasukkan wajahnya kedalam kubus cahaya dan menemukan ada seorang remaja sedang berbaring tak sadarkan diri.


“Siapa dia? Kenapa dia ada ditempat ini?” Gumam Noguchi sambil menerobos masuk menghampiri Firon yang terbaring tak sadarkan diri.


Di atas tumpukan jerami, di dalam gua yang yang gelap, tubuh Firon terbaring tak bergerak sama sekali, hanya wajahnya yang sesekali bergerak ke kanan dan kekiri, seolah menahan rasa sakit. Sudah empat hari Noguchi menyembunyikan tubuh Firon di dalam gua. Setiap malam Noguchi mengunjungi gua hanya sekedar ingin melihat kondisi Firon.

__ADS_1


Noguchi memasuki gua dengan menenteng lentera kecil untuk menerangi jalannya.


“Aku tidak tahu kau siapa, namun entah kenapa hatiku selalu tergerak untuk menolongmu! Semoga kau bukan orang jahat!” Noguchi menyelimuti tubuh Firon dengan selimut yang baru saja ia bawa dari rumah majikannya lalu melangkah keluar meninggalkan gua.


Tidak berselang lama keluarnya Noguchi dari gua, Firon tersadar dan membuka matanya. Ia mencoba mengangkat kepala, namun ia hanya mampu mengangkat beberapa inchi dari tumpukan jerami. Ia kembali mengingat betapa lemah tubuhnya ketika tersadar dari maut yang hampir merenggut nyawanya sepuluh tahun yang lalu.


‘Sudah berapa lama aku di  sini?’ Firon menatap dinding gua yang disinari bias cahaya rembulan dari arah mulut gua.


‘Ah, aku tak mampu menggerakkan seluruh tubuhku!’ Firon mengeluhkan tubuhnya yang tak bisa ia gerakkan.


Nyamuk-nyamuk mendengung-dengung di sekitar kepala Firon. Ia ingin menghalau atau pun membunuh nyamuk-nyamuk tersebut, namun mengangkat tangan pun ia tak mampu. Ia benar-benar tidak berdaya. Bukan gigitan nyamuk-nyamuk itu yang amat mengganggunya, namun suara nyamuk-nyamuk yang berada di sekitar telinganya itulah yang membuat kepalanya seperti mau pecah.


Berbagai macam suara mulai beradu di telinganya. Suara binatang malam di dalam gua dan bahkan dari dalam hutan yang jaraknya ratusan meter darinya terngiang jelas di telinganya.


Firon benar-benar tersiksa. Ia ingin menutup kedua telinganya, namun apa daya, tangannya benar-benar tak sanggup ia gerakkan. Ia kemudian berusaha mengendalikan pendengarannya dengan berlatih fokus untuk mendengar suara tertentu saja.


“Ah, Pasti ikan-ikan itu aku tinggalkan di sekitar sini!” Bisik Noguchi Sambil mengarahkan pandangannya ke seluruh bagian gua.


Pandangan Noguchi berhenti tepat di atas kepala Firon. Sesuatu yang ia cari ternyata berada di sana. Ia kemudian meletakkan lentera kecilnya tepat di samping kepala Firon, lalu meraih keranjang yang terbuat dari rotan, lalu membuka penutupnya.


“Syukurlah, ternyata tikus gua belum sempat memakanmu!” Noguchi tersenyum lebar karena menemukan ikan-ikan yang ia dapatkan dari hasil memancing di danau ternyata masih utuh semuanya.


Firon yang dari tadi memperhatikan, berniat ingin menegur Noguchi. Firon yakin, bahwa orang yang telah menolong dan membawanya ke dalam gua adalah orang yang ada di depan matanya sekarang.


‘Ah, ternyata aku juga tak mampu berbicara’ Firon menggerutu menyadari bahwa dirinya juga tak mampu berbicara. Lidahnya menjadi keluh. Tenggorokannya tak mampu mengeluarkan suara.


Banyak hal yang ingin Firon tanyakan kepada orang asing yang saat ini ada di depannya, namun Firon harus rela membiarkan Noguchi melangkah pergi meninggalkannya.


Noguchi terus melenggang dengan senyum lebar meninggalkan Firon. Namun langkahnya terhenti saat ia sudah tiba di mulut gua. Ia mendengar seseorang memanggilnya.

__ADS_1


“Siapa?!” Tanya Noguchi dengan wajah yang tampak sedikit ketakutan.


Noguchi kemudian menoleh ke dalam Gua. Namun dari jauh ia bisa melihat firon tidak bergerak sama sekali.


‘Tolong kembali ke sini’


Suara yang sama kembali terdengar di kepala Noguchi.


‘Mungkinkah orang itu yang sedang berbicara padaku? Tapi kenapa suaranya berada di kepalaku?’ Noguchi tertanya-tanya sambil memperhatikan Firon yang masih tak bergerak sama sekali.


Noguchi kemudian memberanikan diri bertanya, “Kaukah yang berbicara padaku?.”


Noguchi terus memandang ke arah Firon yang tengah terbaring.


‘Ia, aku yang terbaring di dalam gua!’


Jawaban yang Noguchi dengar bukan dari telinganya, melainkan di kepalanya.


“Kaukah yang berbicara di kepalaku?” Wajah Noguchi tampak keingungan. Keningnya mulai mengeluarkan keringat dingin dan lututnya menjadi gemetar.


‘Ia, akulah orangnya’


Suara yang baru saja memenuhi kepala Noguchi, membuat ia berlari meninggalkan gua. Ia ketakutan. Ia mengira Firon adalah seorang siluman.


‘Kenapa kau pergi? Kau jangan takut! Aku tidak akan mencelakaimu’


Firon menyadari bahwa dirinya mampu berkomunikasi menggunakan ilmu telepati. Ia terus berusaha membujuk Noguchi untuk mau menolongnya.


Meskipun Noguchi telah jauh meninggalkan gua, namun suara di kepalanya tetap saja terdengar dengan jelas. Bahkan lebih jelas dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2