Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 44 - Serangan Lima Perisai Emas III


__ADS_3

'Ada yang aneh dengan suara seruling ini.' Sazaki menyadari sesuatu, "Ketua Sin, irama bunyi serulingnya berubah."


Meski bunyi suara Seruling Iblis terdengar agak samar, namun irama baru yang dikeluarkan Seruling Iblis cukup membuat Sazaki terganggu. Ia bahkan harus bersusah-payah agar tetap bisa berdiri di puncak pohon.


Sin Toru menyadari situasi yang dialami oleh Sazaki.


"Kau lihat mereka!" Sin Toru menunjuk ke arah orang-orang yang tadinya sekarat namun kini kembali bugar setelah lubang telinga mereka diisi air, "Mungkin kau mau mencoba cara mereka?" Sin Toru tersenyum ke arah Sazaki.


"Tidak perlu, Ketua."


Sazaki sebenarnya sempat berfikir untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Nara dan yang lainnya, namun ia mengurungkan niatnya demi menjaga reputasinya sebagai tetua di Kota Hidden.


Sazaki mengerutkan dahi, "Ketua Sin, nampaknya mereka sudah mulai bergerak."


Setelah melihat situasi yang kini berubah, Sin Toru kemudian memejamkan mata, "Bersiaplah! musuh sudah bergerak." Sin Toru menggunakan ilmu telepati untuk berkomunikasi dengan semua orang di pihaknya.


Kabut tebal tiba-tiba muncul dan menyelimuti seluruh area hutan.


"Tunggu...!" Otai menghentikan langkah kudanya, "Lihat kabut itu!"


Semua orang sontak menghentikan langkah kudanya kecuali para pendekar dari Sekte Gunung Besi.


Watanabe, sang tetua Sekte Gunung Besi bersama seluruh pendekar yang mengikutinya terus memacu kudanya memasuki area Hutan Terlarang.


Otai hanya bisa berdecak kesal menyaksikan Watanabe menghilang di balik kabut tebal, "Orang ini masih saja seperti dulu... Gegabah!" batinnya.


"Tetua Otai, izinkan aku yang mengatasi hambatan ini." Tanpa menunggu persetujuan dari Otai, Senjiro langsung memberi aba-aba kepada Akio untuk segera menyusun formasi.


"Formasi Bunga Api," teriak Akio. Ia dan sepuluh orang pendekar dari Sekte Lembah Seribu Bunga kemudian melakukan gerakan indah nan gemulai seperti orang yang sedang melukis sekuntum bunga raksasa.


Mereka kemudian serentak mendorong kedua telapak tangan mereka ke arah hutan, dan dorongan telapak tangan mereka itu menyemburkan api yang berwarna biru dan membakar semua pepohonan yang ada di hadapan mereka.


Akio dan sepuluh orang pendekar itu terus mengeluarkan api dari telapak tangan mereka.


"Formasi Bunga Angin." Akio dan sepuluh orang pendekar itu mengulangi gerakan tadi, namun kali ini, telapak tangan mereka mengeluarkan angin yang sangat kencang.


Para kurcaci berlarian menyelamatkan diri dari kebakaran hebat yang melanda hutan. Mereka tidak lagi peduli dengan strategi yang sudah mereka atur sebelumnya.


Sin Toru dan Sazaki segera melompat dari puncak pohon dan menghampiri Nara.


Nara segera menyambut Sin Toru.


"Ketua Sin," ucap Nara sambil membungkuk, "Bagaimana sekarang? kelihatannya hutan ini akan musnah sebentar lagi."

__ADS_1


"Perintahkan para kurcaci dan Kaum hidden untuk mundur!"


"Baik, Ketua." Nara menerima perintah dan segera beranjak pergi.


"Tunggu...!"


Nara sontak menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Sin Toru yang menyuruhnya untuk menunggu. Ia kemudian menoleh ke arah Sin Toru.


"Kecuali para tetua kaum hidden."


"Baik, Ketua." Nara melanjutkan langkahnya.


"Tetua Sazaki, nampaknya ada sekelompok pendekar yang berhasil memasuki perangkap ilusi, ajak beberapa orang tetua kaum hidden untuk menghadapi mereka!"


"Baik, Ketua." Sazaki langsung meninggalkan tempat setelah menerima perintah dari Sin Toru.


**


Suasana di hadapan Watanabe dan sebelas orang pendekar yang ikut bersamanya tiba-tiba berubah.


Hutan rimbun yang dipenuhi pohon kriptomeria raksasa tiba-tiba berubah menjadi gurun pasir yang amat luas.


Cahaya bulan redup membuat suasana di sekeliling mereka semakin mencekam.


"Tetua Watanabe, apa yang harus kami lakukan?" ucap salah seorang di antara mereka.


Pendekar itu menyadari bahwa mereka kini menjadi sasaran empuk bagi musuh yang hendak menyerang.


"Diam..! Tetaplah waspada!" teriak Watanabe.


Kecuali Watanabe dan Hidate yang tetap tenang, para pendekar yang lainnya sudah berkeringat dingin dan diliputi rasa takut.


"Hidate, gunakan Formasi Dinding Besi untuk membuat perlindungan!" perintah Watanabe kepada tangan kanannya itu.


Hidate kemudian memberi aba-aba kepada semua rekannya untuk turun dari kudanya masing-masing.


Watanabe dan Hidate yang baru saja turun dari kudanya segera berlari menjauhi kuda-kuda itu.


Para pendekar yang lainnya turut mengikuti langkah Watanabe dan Hidate.


"Formasi Dinding Besi!"


Hidate dan sepuluh orang rekannya kemudian membuat posisi satu lingkaran dan menghentakkan kaki kanan lalu diikuti dengan pukulan telapak tangan kanan ke arah bumi, lalu diikuti telapak tangan kiri dan telapak tangan kanan sekali lagi.

__ADS_1


Sebuah dinding setinggi dua meter muncul dari dalam bumi dan membentuk satu lingkaran mengelilingi mereka.


"Dinding Besi Bening!"


Hidate dan rekan-rekannya menarik tapak tangannya dari bumi, kemudian menariknya ke belakang, lalu mendorongnya ke arah dinding menggunakan tenaga dalam.


Lingkaran dinding besi itu kemudian berubah menyerupai sebuah lingkaran kaca.


Watanabe berlagak pongah, ia begitu yakin bahwa tidak ada lagi yang akan mampu melukainya.


"Siapkan busur dan anak panah kalian!" perintah Hidate sambil mengambil busur dan anak panah dari punggungnya.


Para pendekar itu kemudian mengambil posisi siap menembak.


"Tembak setiap pergerakan yang kalian lihat!" ucap Hidate lantang.


Tidak lama kemudian, sebuah pisau meluncur dengan kecepatan tinggi dan membentur dinding besi.


Hanya berselang beberapa detik, sesosok manusia muncul dari arah berlawanan.


Salah seorang dari pendekar yang ada di dalam lingkaran itu segera melepaskan anak panahnya ke arah sosok manusia itu.


Sosok itu menghilang sebelum anak panah yang meluncur dengan kecepatan tinggi itu menyentuhnya.


"Hahahahaha...!" Watanabe tertawa lepas, "Kalian tidak akan mampu melukai kami, namun sebaliknya, dengan mudah kami akan menghabisi kalian jika menampakkan diri... Dinding ini dibuat untuk menangkal serangan dari luar namun tidak dari dalam."


"Hahahahaha..." Suara tawa tiba-tiba menggema di udara, "Jangan bangga dengan formasi rendahan yang kalian buat itu, karena hanya orang-orang pengecut yang mau menggunakan formasi rendahan itu untuk berlindung."


"Cih...!" Watanabe berdecak kesal dan mengumpat dalam hati.


"Bukannya kau yang pengecut? Hanya bisa bermain petak-umpet seperti anak kecil...!" Watanabe melanjutkan gelak tawanya. Ia sengaja memancing pemilik suara itu untuk menampakkan diri.


"Hahahahaha... kalau boleh aku peringatkan, jangan terlalu bergerak dari situ, karena realitanya kau sekarang sedang berada di tepi jurang."


Raut wajah Watanabe sontak berubah, pernyataan yang baru saja ia dengar cukup mengganggu fikirannya.


Watanabe kemudian memandang ke segala arah, "Aku tidak percaya ucapanmu... Aku yakin, kau hanya ingin memecah formasi kami."


"Ya sudah kalau tidak mau percaya, sebentar lagi kalian akan menyusul kuda-kuda kalian ke neraka."


Kali ini raut wajah Watanabe dan semua pendekar yang bersamanya menjadi sangat buruk. Mereka baru kefikiran kuda-kuda yang mereka tinggalkan tadi.


"Benarkah kuda-kuda itu terperosok ke dalam jurang?" batin Watanabe.

__ADS_1


__ADS_2