
“A ... A ... Ada apa ini?!” teriak beberapa prajurit yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Tunggu Jenderal Moo, dia adalah kakakku, biar aku saja yang berurusan dengannya!” teriak Jenderal Lee setelah menyadari apa yang dilakukan Aron terhadap para prajuritnya.
“Kakak, kuharap kau bisa memaafkan kesalahpahaman ini,” ucap Jenderal Lee mencoba mendinginkan suasana.
Mendengar perkataan Jenderal Lee, Aron kemudian menarik kekuatan Jurus Mata Elang yang ia gunakan untuk mengunci pergerakan para prajurit yang hendak menyerangnya itu.
“Baiklah, tapi aku hanya ingin bicara dengan kau saja. Perintahkan semua orangmu untuk keluar dari kota ini sekarang juga! Aku tidak ingin melihat mereka atau aku bunuh kalian semua!”
Semua prajurit yang mendengar ucapan Aron hanya bisa berdecak kesal dan menunggu perintah dari Jenderal Lee.
“Jenderal Lee!” Jenderal Moo mengalihkan pandangannya ke arah Jenderal Lee. Ia geram mendengar ucapan Aron yang dianggapnya sangat lancang.
Saat Jenderal Moo hendak mengatakan sesuatu, Jenderal Lee tiba-tiba mengangkat tangan ke arahnya sebagai aba-aba agar ia menahan diri.
“Jenderal Moo, kamu tenang dulu, kau ikuti saja perintahku! Sekarang, kau bawa semua pasukan kita keluar dari kota ini!" ucap Jenderal Lee sambil tersenyum licik.
Dengan perasaan yang masih diliputi dengan amarah, Aron kemudian mengajak Jenderal Lee untuk masuk ke ruang tengah kediamannya. Hatinya sangat kecewa melihat sikap yang diperlihatkan oleh satu-satunya adik yang ia miliki. Seandainya Jenderal Lee bukan adik kandungnya, mungkin ia tak akan menahan diri melihat orang yang dicintainya dihina dan dicemoohkan seperti itu.
“Kakak, Bagaimana ceritanya kau bisa ada di tempat ini? Bukankah kau berada di Gua Air Terjun saat bencana alam terjadi?” Jenderal Lee mencoba membuka pembicaraan. Ia merasa tertekan melihat kakaknya masih memperlihatkan mimik wajah yang penuh amarah.
“Justru aku yang ingin bertanya padamu. Kenapa kau bisa menjadi seorang jenderal yang sombong seperti ini?!” Aron terlihat masih belum bisa memaafkan adiknya.
Melihat Aron memperlihatkan sikap tak bersahabat, Jenderal Lee kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu
membungkukkan badan ke arah Aron.
__ADS_1
“Maaf Kakak, aku benar-benaar minta maaf, aku benar-benar tidak tahu kalau beliau adalah kakak iparku,” ucap Jenderal Lee sambil memasang wajah lesu. Ia tahu betul bahwa Aron adalah orang terkuat di Klan Gojo, Ia tidak ingin menyinggung hati kakaknya itu. Apalagi ia juga tahu bahwa Aron memiliki Energi Dewa yang ia dapatkan dulu dari Dewa yang menyelamatkannya ketika menjalankan misi.
“Oww, jadi maksud kamu, kamu boleh bersikap begitu sama orang lain, hah?” teriak Aron yang mulai tidak dapat menahan emosi.
“Sayang, sudahlah, masalah tadi tidak usah diperpanjang!” Dewi Rara mengelus bahu suaminya itu untuk mendinginkan suasana. Ia kemudian berdiri dan memberi hormat kepada Jenderal Lee.
“Jenderal Lee, silahkan duduk. Maafkan sikap suamiku.”
“Terima kasih kakak ipar. Ini memang kesalahanku,” ucap Jenderal Lee. Ia kemudian duduk sambil tersenyum dingin ke arah Dewi Rara.
Dewi Rara sesungguhnya menyadari bahwa senyuman Jenderal Lee itu tidaklah tulus. Ia hanya tidak ingin melihat suaminya bertengkar dengan saudaranya sendiri.
Melihat Aron yang masih belum juga mau melupakan kejadian di depan balai kota, Jenderal Lee kemudian mengalihkan topik pembicaraan.
“Kakak, bagaimana keadaan ayah dan semua anggota Klan Gojo?”
Aron yang tadinya tidak ingin memberi muka, kini memaksakan diri memandang ke arah Jenderal Lee.
Aron juga menceritakan bahwa ayah mereka membangun sebuah perguruan silat untuk meregenerasi pendekar-pendekar Klan Gojo. Ia juga mengungkapkan alasannya meninggalkan Desa Air Terjun adalah karena misi yang diberikan oleh ayah mereka guna mencari jalan keluar dari kesulitan yang mereka alami.
“Maafkan aku tuan, nyonya. Aku telah mengganggu anda,” ucap seorang lelaki yang tiba-tiba memotong pembicaran ketiganya.
Dewi Rara, Aron dan Jenderal Lee terlihat sedikit kesal menyaksikan tindakan salah satu penjaga gedung balai kota yang tiba-tiba datang dan mengganggu perbincangan mereka.
“Ada apa?!” tanya Dewi Rara sambil tersenyum ke arah penjaga itu.
“Maaf Nyonya, Tuan Ligo telah tiba. Beliau sekarang ada di depan bersama seorang lelaki paruh baya dan beberapa pendekar muda,” jawab penjaga itu.
__ADS_1
“Baiklah, suruh Tuan Ligo dan orang-orang itu menunggu di ruang tamu, nanti aku temui dia disana!”
"Baik Nyonya." Penjaga itu kemudian melangkah hendak meninggalkan ruangan.
“Tunggu!” ucap Aron sambil mengangkat tangannya.
Penjaga yang tadinya terburu-buru hendak menemui Tuan Ligo, langsung menghentikan langkahnya mendengar ucapan Aron.
“Suruh saja dia masuk ke sini!” ucap Aron semangat. Ia sangat senang mendengar bahwa Tuan Ligo sudah pulang dari berlayar. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar apa yang dibawa oleh Tuan Ligo.
“Sial, sepertinya dia tidak menghormatiku,” gumam Jenderal Lee yang hanya bisa mengumpat dalam hati. Ia merasa kehadirannya tidak dihargai. Sebagai seorang jenderal, Jenderal Lee merasa terhina apabila dirinya disetarakan dengan rakyat jelata. Jenderal Lee berpendapat bahwa Aron tidak seharusnya mengundang orang lain dalam pertemuannya, apalagi mereka baru bertemu setelah lebih dari sepuluh tahun berpisah.
Jenderal Lee kemudian bangkit dari duduknya dan hendak memohon pamit. Ia benar-benar tersinggung dengan perlakuan Aron terhadap dirinya.
“Kalau begitu, Aku mohon pamit dulu. Aku harus segera menemui pasukanku di luar gerbang,” ucap Jenderal Lee sambil tersenyum dingin. Ia tak mampu menyembunyikan kekecewaannya.
Sesaat setelah Jenderal Lee mengutarakan niatnya untuk meninggalkan kediaman Aron, dari balik pintu Tuan Ligo muncul bersama seorang lelaki paru baya dan beberapa orang pendekar muda.
Terlukis jelas di wajah Aron rona kegembiraan ketika melihat wajah lelaki paru baya yang dibawa oleh Tuan Ligo. Berbeda dengan Aron, Jenderal Lee justru menunjukkan wajah bingung dan syok karena seorang lagi lelaki yang amat dikenalnya bertemu dengannya di Kota Penyu.
Aron dan Jenderal Lee kemudian berdiri bersamaan menyambut lelaki paru baya itu.
“Ayah!” Aron dan Jenderal Lee memberi hormat terhadap Dangun Jo, Ketua Klan Gojo.
Senyum bahagia menghiasi wajah Ketua Jo ketika melihat kedua anak lelakinya menyambut kedatangannya. Ia benar-benar tidak menyangka masih berkesempatan bertemu dengan kedua anaknya itu. Ia juga tidak pernah membayangkan akan bertemu dengan kedua anaknya sekaligus di kota yang baru saja ia datangi.
“Tuan Ligo, terima kasih karena telah menemukan Pulau Air Terjun dan membawa ayahku kesini,” ucap Aron sambil memberi penghormatan kepada Tuan Ligo.
__ADS_1
Dewi Rara yang juga berada diruangan itu justru merasa canggung dan bingung bagaimana cara menyambut ayah mertua yang dahulu pernah ia temui ketika pertama kali mendatangi bumi. Akhirnya ia memilih diam dan hanya menyimak pembicaraan antara ketiganya.
“Aron, Lee, ternyata kalian berdua ada di sini,” ucap Ketua Jo sambil melemparkan senyuman hangat kepada kedua putranya itu.