
Hari sudah malam saat Sintoga mengakhiri kisah masa lampau yang ia ceritakan. Bulan yang pucat dan sebuah bintang bersanding amat mesra di langit, begitu rendah seakan-akan turut menyimak kisah pilu di masa lampau. Udara pun mulai terasa dingin menusuk hingga ke tulang-tulang.
“Selain dari peristiwa di Gerbang Naga, dari mana kakek mengetahui semua ini? Bukankah kakek berada di langit ketika semuanya terjadi?” Firon memandang kakeknya penuh makna.
Sintoga hanya tersenyum mendengar pertanyaan cucunya.
“Ketika aku merasakan energi milik Malaga sedikit demi sedikit menghilang, aku menyadari bahwa sesuatu telah terjadi. Akhirnya aku memutuskan turun ke bumi untuk memeriksa keadaan yang terjadi. Kemudian aku menemukanmu terbaring di tanah tak sadarkan diri” Ungkap sintoga.
“Firon, bagaimanapun aku adalah seorang dewa yang punya banyak kemampuan, aku mampu melihat masa lalu seorang manusia hanya dengan menyentuhnya! Aku pernah menyentuhmu untuk melihat semua yang pernah kau alami di masa lalu! Ternyata, selain masa lalumu, aku juga menemukan semua hal yang pernah dilalui oleh Malaga di dalam dirimu, dan kurasa kelak kamu juga akan menyadari ingatan itu!”
Sintoga kemudian menoleh kearah Firon dan memegang kedua pundaknya seraya berkata “Selain ingatannya, Ternyata semua energi dan kekuatan Malaga juga bersemayam di dalam dirimu. Hanya saja energi dan kekuatan itu belum mampu kau gunakan saat ini!”
“Bagaimana dengan pendengaranku? Benar-benar sangat mengganggu dan membuatku susah untuk dapat tidur dengan nyenyak!” Firon menunduk lesu di depan Sintoga yang masih memandangi dirinya.
“Nak!” Sintoga memegang kepala Firon dengan kedua tangannya sambil mendongakkannya hingga dia dapat memandang mata Firon dengan dalam.
“Darah ibumu, darahku mengalir di dalam tubuhmu. Meskipun kau setengah manusia dan setengah dewa, sepertinya kau mewarisi kemampuan kedua orang tuamu. Kau memiliki pengelihatan ayahmu dan pendengaran ibumu. Dan bahkan mungkin, kau juga memiliki semua atau sebagian kemampuanku!” Ungkap Sintoga sambil tersenyum ke arah cucunya.
“Sekarang yang perlu kau lakukan adalah melatih dan mengasah kemampuan itu agar kelak berguna untukmu dan berguna untuk orang banyak!” Ucap sintoga mencoba menyemangati cucunya yang masih tampak lesu.
Firon kembali tertunduk setelah pegangan tangan kakeknya lepas dari kepalanya. Ia kemudian kembali mengajukan pertanyaan “Terus kenapa besok kakek akan menghilang dari dunia ini?.”
__ADS_1
Sintoga menghela nafas panjang. Benaknya melayang ke angkasa. Ia memandangi bayangan Bulan Separuh yang berada di tengah danau. Sesaat kemudian ia mendongakkan kepalanya ke angkasa seraya memandangi wujud asli Bulan Separuh yang berada nun jauh tergantung langit.
“Nak, sekarang usiamu sudah tujuh belas tahun dan sudah sepuluh tahun kakek berada disisimu. selama sepuluh tahun terakhir, setiap sehari sebelum malam purnama, aku harus menyelinap ke langit untuk menyatu kembali dengan tubuhku di sana agar aku tak terperangkap di bumi yang justru akan melenyapkan tubuhku di bumi maupun di langit. Namun di purnama yang lalu seorang perwira langit mendapati aku sedang menyelinap ketika
hendak kembali ke bumi. Dia membiarkan aku pergi, namun dia melaporkan aku ke Raja Langit, sehingga mahkamah langit menvonis aku melanggar hukum langit dan menjatuhkan hukuman pengasingan selama seribu tahun. Semua kekuatanku akan dilucuti dan diriku yang ada di depanmu saat ini serta-merta akan menghilang untuk selamanya!” Sintoga kembali menghela nafas panjang.
“Besok adalah hari eksekusi untukku, jadi malam ini aku akan mentransfer semua energi yang aku miliki padamu, jadi malam ini mungkin akan menjadi malam yang cukup panjang untuk kau lalui!” Sintoga memandangi cucunya yang masih tertunduk di hadapannya.
“Firon, kau tahu kenapa aku mengajakmu ke sini?”
Pertanyaan Sintoga seketika berhasil membuat Firon mengangkat kepala seraya berkata “Aku tidak tahu kek!.”
Firon hanya bisa pasrah ketika Sintoga menariknya ke arah danau, namun ketika Sintoga mulai menginjakkan kakinya ke air, Firon tak dapat menahan hasratnya untuk mempertanyakan tindakan kakeknya yang ia nilai adalah perbuatan gila “Kek, apa yang kau lakukan?.”
“Kau tidak usah banyak tanya, atau kau akan tenggelam?” Ancam Sintoga sambil tersenyum.
Firon yang mendengar jawaban ketus kakeknya hanya bisa menghela nafas panjang dan pasrah mengikuti kehendak sang kakek.
Kekesalan di hati Firon tiba-tiba berubah menjadi takjub ketika menyadari bahwa tubuh kakeknya dan tubuhnya sama sekali tidak tersentuh air. Matanya terbelalak menyaksikan pemandangan dasar danau yang begitu indah. Berbagai spesis ikan terlihat berenang-renang di dalam air. Terumbu karang dan berbagai tanaman air turut memperindah pemandangan bawah air danau itu.
Setelah berjalan menyusuri dasar danau, tepat ditengah danau mereka menemukan batu besar yang sisi atasnya sangat rata mirip altar raksasa. Batu besar itu di kelilingi dengan terumbu karang dan tanaman bawah air yang bergerak meliuk-liuk bak gadis penghibur yang sedang memamerkan kegenitannya. Mereka berdua kemudian
__ADS_1
duduk di atas batu besar itu. Posisi Firon duduk bersila membelakangi Sintoga, sedangkan Sintoga duduk bersila menghadap punggung Firon.
Keduanya sama sekali tak tersentuh air danau. Sebuah kubus udara berukuran empat meter di setiap sisinya melindungi tubuh mereka.
“Firon, dengan kekuatan besar yang sebentar lagi akan aku berikan padamu, kamu harus memikul tanggung jawab besar. Kau harus mencegah pamanmu. Gunakan Peta Bumi yang pernah aku berikan padamu.Tiga tahun lagi, Bulan Merah akan muncul dan saat itulah Jenderal Lee akan memiliki kesempatan untuk membuka Gerbang Naga!” ucap Sintoga sambil memandang punggung Firon.
Hati Firon tiba-tiba diselimuti amarah dan rasa ingin balas dendam ketika mendengar nama Jenderal Lee disebutkan.
“Setelah mengalirkan semua kekuatanku ke tubuhmu, aku akan segera menghilang, dan kau akan tertidur selama berhari-hari. Kubus udara yang melindungi kita ini hanya bisa bertahan selama tiga hari. Semoga kau tersadar sebelum kubus udara ini menghilang!”
Sintoga kemudian merapatkan telapak tangannya ke punggung Firon. Cahaya biru keputihan mengalir dari seluruh tubuhnya menuju ke telapak tangannya, lalu kemudian mengalir ke tubuh Firon.
Firon menutup matanya sambil menahan sakit yang ia rasakan di urat dan tulang-tulngnya. Sesekali ia menggeliat tak karuan. Kulitnya seperti terbakar. Cahaya yang tadinya berwarna biru keputihan kini berubah menjadi kuning keemasan. Proses itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya cahaya itu semakin terang benderang.
Firon berteriak sekencang-kencangnya menahan sensasi terbakar yang ia rasakan. Teriakannya kemudian
menghilang ketika cahaya yang semakin membesar itu berubah menjadi letusan cahaya.
Sintoga kemudian melebur, hilang, seiring menghilangnya serpihan-serpihan cahaya dari letusan cahaya tadi.
Firon terbaring tak sadarkan diri. Ia tidak menyadari bahwa kakeknya telah menghilang untuk selamanya.
__ADS_1