Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 19 - Akhir Kisah


__ADS_3

“Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau menolong kami?” tanya Sin Rara.


“Maafkan aku Dewi, aku tidak mampu menolongmu dari ganasnya racun yang masuk ke dalam tubuhmu ini. Racunnya telah merebak ke dalam jantung... Oya, perkenalkan, namaku Malaga. Aku telah mengikuti anda sejak anda menginjakkan kaki ke bumi ini. Hal itu aku lakukan karena Dewa Sin, ayahmu memintaku untuk melakukannya!”


Malaga menjelaskan dengan bahwa ratusan tahun yang lalu ia dan kaumnya pernah ditolong oleh Sin Toga saat negerinya diserang oleh Raja Naga Merah. Karenanya, ia bertekad akan selalu memenuhi apapun permintaan Sin Toga.


“Aku hanya ingin membalas budi. Berkat ayah anda kaum kami masih bertahan sampai hari ini!” Malaga memandang ke langit sambil mengepakkan sayapnya.


“Bolehkah aku meminta tolong sesuatu kepadamu?” tanya Sin Rara penuh harap.


“Apa yang anda ingin aku lakukan?” Malaga mengalihkan pandangannya ke arah Sin Rara.


“Biar bagaimanapun, kemungkinan besar kami tidak akan selamat dari racun ini, untuk itu aku ingin anda menolong anakku! Jenderal Lee pasti telah menyerang kota dan membunuh semua orang yang mencoba menentangnya.” Mata Sin Rara berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa tujuan Jenderal Lee membunuh mereka adalah karena ingin menguasai Kota


Penyu.


“Baiklah kalau itu maumu!” Malaga memahami maksud perkataan Sin Rara.


“Oya, anda pasti tahu dimana aku menyimpan kedua Pusaka Langit itu, tolong beritahu ayahku dimana tempatnya!” ucap Sin Rara sesaat sebelum muntah darah.


"Baik, Dewi... Aku akan segera memenuhi permintaanmu." Malaga kemudian menghilang dari pandangan Sin Rara.


Ketika melihat Malaga menghilang dari pandangan matanya, Aron dengan segenap tenaganya yang tersisa mencoba meraih istrinya yang terlihat sudah sangat pucat. Ia kemudian memeluk istrinya dengan lembut seraya berkata, “Maafkan aku sayang, aku tak dapat melindungimu!”


“Terima kasih sayang, kau telah memberiku kebahagiaan yang tak terkira. Berkat kamu, aku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia!” ucap Sin Rara pelan.

__ADS_1


Air mata Aron jatuh tak terbendung, ia tak ingin kehilangan orang yang paling ia cintai, namun ia sadar bahwa istrinya, bahkan dirinya sebentar lagi akan mati.


“Sa-Sayang.. Terima kasih!” Dewi Rara memegang erat tangan Aron, namun sesaat kemudian genggaman itu tak lagi bertenaga.


“Tidak...!” Aron ingin berteriak, namun tenaganya juga sudah hampir habis. Suaranya sudah parau. Ia hanya bisa memandang wajah istrinya yang kini sudah menutup mata.


“Inilah akhir kisah kita sayang!” Aron mencium kening istrinya lalu menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong.


“Firon, balaskan dendam kami nak!” gumam Aron sambil meneteskan air mata.


Aron yang masih memiliki sisa tenaga kemudian memalingkan pandangannya ke arah ayahnya yang tergeletak di lantai. Sambil memeluk istrinya dengan sebelah tangannya, ia juga berusaha meraih tangan ayahnya menggunakan tangan yang sebelahnya lagi, namun sebelum tangannya sempat menyentuh tangan ayahnya, Aron sudah kehilangan kekuatan dan terbaring di lantai sambil memeluk tangan istrinya.


Beberapa saat kemudian, Obi sang lelaki bertopeng tiba-tiba muncul.


“Rupanya kalian ada disini?” Tuan Obi tersenyum puas melihat Racun Dewa Maut milik klannya berhasil menewaskan tiga pendekar hebat yang berada di hadapannya.


**


Jendeal Moo langsung memasuki Kota Penyu setelah mengetahui informasi tentang kematian Aron, Sin Rara dan Ketua Jo. Salah seorang pendekar dari Klan Sino yang memiliki ilmu telepati mengabarkan hal itu kepadanya. Ia kemudian berhasil menduduki gedung balai kota tanpa ada perlawanan dari pihak gedung.


Para penjaga balai kota memilih untuk tidak melawan karena sadar kekuatan Jenderal Moo dan pasukannya teramat jauh di atas kekuatan mereka.


“Sekarang kota ini berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Mojo. Jadi siapa saja yang hendak membangkang akan dihukum dengan hukuman mati!” Jenderal Moo berdiri di atas balkon balai Kota sambil tersenyum lebar.


Terlihat ratusan prajurit militer berbaris rapi di lapangan depan gedung balai kota.

__ADS_1


“Dan satu lagi, mulai hari ini, kota ini bernama Kota Mojo Selatan! Ingat siapapun yang masih menyebut kota ini dengan sebutan Kota Penyu akan dihukum mati!” teriak Jenderal Moo dengan penuh keangkuhan.


Ratusan warga kota yang berkumpul di luar pagar halaman balai kota hanya bisa saling berpandangan. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang berani membantah apalagi melawan.


“Jenderal, menurut salah seorang penjaga gedung balai kota yang kami introgasi, Aron mempunyai anak yang bernama Firon dan sekarang dia berada di asrama sekolah yang terletak di pinggiran kota,” bisik salah seorang prajurit kepercayaan Jenderal Moo.


“Komandan Jio, bunuh dan bawa mayat anak itu kesini. Bawa Pasukan Elit bersamamu” Jenderal Moo yakin bahwa Jenderal Lee pasti akan melakukan hal yang sama jika dia mengetahui kakaknya punya seorang anak.


Mendengar perintah Jenderal Moo, Komandan Jio kemudian bergegas pergi bersama puluhan prajurit menuju sebuah sekolah yang letaknya berada di pinggiran kota.


Ketika sampai di depan gerbang sekolah, Komandan Jio kemudian berteriak lantang, “Buka pintunya sekarang! kami ingin masuk!”


Melihat puluhan prajurit berkumpul di depan gerbang sekolah, salah seorang penjaga gerbang segera mendatangi kepala sekolah untuk memberitahu perihal kejadian di depan gerbang sekolah.


“Tuan Murai, ada puluhan prajurit berkumpul di depan gerbang. Kelihatannya semua prajurit itu punya tujuan yang tidak baik. Mereka memaksa ingin masuk,” ucap si penjaga gerbang.


“Kumpulkan semua pendekar senior dan suruh Guru Guyo membawa para siswa ke terowongan untuk bersembunyi!” Tuan Murai memberi perintah. Ia menyadari akan ada pertarungan sengit sebentar lagi.


“PRAKKK.” Pintu gerbang yang terlihat sangat kokoh itu hancur berkeping-keping akibat dihantam dengan sebuah pukulan oleh salah seorang prajurit Pasukan Elit.


“Jika kalian ingin sekolah ini tetap utuh dan tidak jatuh banyak korban, maka serahkan pada kami seorang siswa yang bernama Firon...! Dia adalah anak dari bekas pimpinan kota ini!” teriak Komandan Jio sambil menatap sinis ke arah orang-orang dari pihak sekolah.


“Apa maksudmu? Siapa bekas pemimpin kami?” tanya Tuan Murai heran.


“Pimpinan kalian dan suaminya telah tewas di tangan pihak kekaisaran, dan itulah akibatnya bagi siapapun yang ingin membangkang kehendak kekaisaran...! Kalian juga akan mengalami hal yang sama jika mencoba melawan kami!” ucap Komandan Jio bernada geram.

__ADS_1


“Bagaimana ini, mereka sudah menguasai kota...? Jika melawan, pasti perlawanan kami akan sia-sia...! Tapi bagaimana mungkin aku tega menyerahkan anak Tuan Aron...! Mereka begitu baik pada kami dan juga nyonya adalah orang yang paling berjasa dalam pembangunan kota ini!” batin Tuan Murai. Ia benar-benar dilema untuk menentukan langkah.


__ADS_2