
“Apa kalian tidak tahu bahwa pemuda yang ingin kalian bunuh itu adalah pewaris tunggal tahta kekaisaran?!” Nada suara Ryusa agak tinggi dari sebelumnya.
“Maaf Tuan, aku benar-benar tidak mengerti,” sela Yatsu.
“Pemuda yang ingin kalian bunuh itu adalah satu-satunya darah daging mendiang Kaisar Nogugato yang masih hidup, dan dia adalah orang yang paling berhak atas tahta Kekaisaran Nogufuji!”
“Tapi Tuan, bukankah semua anggota keluarga mendiang kaisar telah habis dibantai oleh Klan Fujiwara?” tanya Yatsu penasaran.
“Hahahahahaha..!” Ryusa tidak dapat menahan tawa mendengar pertanyaan Yatsu, “Aku kira kau cukup pintar dan mengetahui banyak hal, Anak Muda. Namun rupanya kau juga telah termakan kabar bohong yang sengaja disebarkan oleh Fujiwara Itamo agar semua rakyat Kekaisaran Nogufuji tidak melakukan penolakan atas tahta yang kini ia duduki.”
Suasana menjadi hening beberapa saat.
“sekarang aku mengerti kenapa kaisar sangat menginginkan kepala pemuda yang bernama Noguchi itu.” Yura tidak dapat menahan diri untuk tidak angkat bicara.
“Sial.. selama ini kita telah diperdayai oleh kaisar.” Nagato ikut angkat bicara.
Ryusa tersenyum dingin mendengar perkataan Yura dan Nagato. Ia kemudian melangkah menghampiri Nagato yang sedang berlutut sama seperti kelima rekannya yang lain.
“Kalian tidak usah berpura-pura tidak tahu apa-apa, bukankah kekuatan utama yang mendukung pemberontakan Klan Fujiwara adalah Sekte Golok Angin?!” Tidak hanya nada suara Ryusa yang semakin tinggi, wajahnya menjadi tegang dan matanya memerah dipenuhi amarah.
Suasana kembali menjadi hening beberapa saat.
“Tuan… Kami memang berasal dari sekte yang dikenal sebagai sekte aliran hitam dan juga sekte yang telah membantu pemberontakan Klan Fujiwara, tapi kami belum bergabung dengan Sekte Golok Angin ketika pemberontakan itu terjadi.” Yatsu mencoba menjelaskan fakta tentang dirinya dan teman-temannya.
“Maksudmu?” Nada suara Ryusa agak menurun.
“Ketika pemberontakan itu terjadi, kami bertujuh masih anak-anak dan menjalani hidup yang damai di Desa Lebah Emas… Suatu ketika, sekelompok pendekar yang kononnya diutus oleh Kaisar Itamo untuk mengejar Jenderal Matsuno memasuki Desa Lebah Emas… Ayahku yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa dipaksa untuk membocorkan keberadaan Jenderal Matsuno. Ayahku enggan memberitahu mereka karena ayahku adalah seorang pria yang sangat setia terhadap mendiang Kaisar Nogugato..” Yatsu merapatkan giginya dan menahan sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya.
“Mereka kemudian membunuh ayah dan ibuku.” Isak tangis Yatsu terdengar samar ditelinga Ryusa dan kelima temannya, ” Bahkan semua warga Desa Lebah Emas… mereka bantai kecuali anak-anak.”
__ADS_1
“Lalu kenapa kalian bergabung dengan para pembunuh itu, bodoh?!” Emosi Ryusa kembali meluap-luap, “Bahkan kalian membantu mereka untuk membunuh Putra Mahkota!”
“Kami tidak tahu kalau orang yang hendak kami bunuh itu adalah Putra Mahkota.” Yatsu tertunduk lesu, “Tuan, lepaskan teman-temanku! Mereka tidak bersalah… aku siap menerima apapun hukuman yang hendak anda timpakan kepadaku.”
“Kapten, kau jangan berkata begitu! Aku tidak akan membiarkan kau menanggung semuanya sendirian.” Yugo yang sedari tadi hanya diam kini angkat bicara.
“Benar Kapten, jika harus mati, biarlah kita sama-sama mati,” ucap Nagato sambil memandang ke arah Yatsu yang masih tertunduk lesu.
“hahahahaha…” Ningju tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
“Ada apa denganmu, Ningju Bodoh?!” pekik Yura geram.
“Ternyata momen ini benar-benar terjadi, selama ini aku sering membayangkan kita akan berada dalam situasi yang akan menguji kesetiakawanan kita, namun aku tidak pernah mengira akan ada diantara kita bertujuh yang tega melukai temannya sendiri untuk mencapai tujuannya.” Ningju melirik Momo dan menatap sinis kepadanya.
Momo hanya tertunduk sambil mengerutkan dahi dan menggerutu seolah sedang menahan amarah. Semua mata kini tertuju padanya.
Tiba-tiba, suara gelak tawa menggema di udara, memaksa semua orang yang tadinya larut dalam fikirannya masing-masing harus mendongakkan kepala mencari sumber suara gelak tawa tersebut.
“Ketua Sin,” sambut Ryusa.
Sin Toru merespon sambutan Ryusa hanya dengan menganggukkan kepala sedikit lalu melangkah ke hadapan Yatsu.
“Kalau tidak salah, namamu Yatsu bukan?” tanya Sin Toru lembut.
“Iya Tetua.” Yatsu menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan.
“Tetua Ryu, lepaskan mereka!” perintah Sin Toru.
Ryusa kemudian mendatangi Yatsu dan melepaskan totokannya, demikian juga yang lainnya.
__ADS_1
“Duduk…!”
Yatsu, Momo, Ningju, Nagato, Yugo dan Yura langsung duduk mengikuti perintah Sin Toru, seolah-olah tubuh mereka bergerak sendiri.
“Yatsu, ceritakan aku tentang Mata Surudoi!” Sin Toru kemudian duduk bersila membelakangi Yatsu.
Yatsu, Momo, Ningju, Nagato, Yugo dan Yura saling berpandangan satu sama lain. Bukan hanya karena tindakan Sin Toru yang melepaskan mereka tanpa melucuti senjata terlebih dahulu yang membuat mereka semua keheranan, namun posisi duduk Sin Toru yang tidak menyentuh tanah yang membuat mereka berdecak kagum dan takjub. Baru kali ini mereka bertemu seseorang yang memiliki kesaktian yang amat tinggi, bahkan menurut mereka, ketua Sekte Golok Angin sekalipun tidak akan mampu melakukan seperti apa yang dilakukan oleh kakek tua yang ada di hadapan mereka itu.
Yatsu kemudian menceritakan bahwa Mata Surudoi adalah sebuah ilmu yang hanya dimiliki oleh orang-orang dari Klan Akane. Klan ini sebenarnya sudah dianggap punah dan bahkan dianggap hanya sebuah cerita mitos belaka. Namun ayah Yatsu pernah menceritakan bahwa kakek Yatsu yang memiliki pengetahuan yang amat luas pernah mengatakan bahwa Klan Akane masih memiliki keturunan terakhir yang lahir di tempat yang sangat jauh dan kelak akan menguasai tujuh semesta.
“Bahkan menurut ayahku, generasi terakhir dari Klan Akane itu kelak akan mengalahkan kehebatan Legenda Sin Sai Sang Penakluk Tujuh Semesta.” Yatsu menutup ceritanya.
“Hemm…” Sin Toru mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan sambil memejamkan mata dan mengelus-elus janggutnya, “Lalu, kenapa kau begitu yakin bahwa Firon adalah orang yang dimaksud oleh ayahmu?”
“Sebenarnya aku belum yakin sepenuhnya, namun ciri fisik yang disebutkan oleh ayahku, semuanya ada pada dia.”
“Lalu apa yang membuatmu belum yakin sepenuhnya?”
“Satu hal yang hampir mustahil.” Yatsu menghela nafas panjang, “Orang yang dimaksud ayahku adalah orang yang memiliki hubungan darah dengan Legenda Sin Sai.”
“Maksud ayahmu, orang itu keturunan Klan Akane namun memiliki hubungan darah dengan Legenda Sin Sai?” Sin Toru kini tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya, “Misalnya ayahnya keturunan Akane, ibunya keturunan Sin Sai?”
“Tepat sekali, Tetua,” jawab Yatsu.
“Yatsu, apa kau pernah bertemu dengan kakekmu itu?”
“Tidak, Tetua.” Yatsu mengerutkan dahi melihat reaksi Sin Toru yang begitu antusias melontarkan pertanyaan demi pertanyaan, “Ayahku pernah bercerita bahwa ayahnya meninggalkan dia ketika dia masih berumur dua belas tahun. Ayahnya terpaksa meninggalkan dia dan ibunya demi keinginannya untuk menulis kitab suci di Gunung Himala.”
‘Anak ini ternyata cucu dari Pendeta Suci Gunung Himala.’ Sin Toru sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memejamkan mata, “Baiklah, sekarang kalian bisa istirahat di pulau ini. Tapi ingat, kalian jangan mencoba kabur atau membuat keonaran. Walau bagaimanapun, kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini.” Sin Toru kemudian menghampiri Ryusa, “Tetua Ryu, ayo kita tinggalkan mereka! Beri mereka waktu untuk merenung!”
__ADS_1
Sin Toru dan Ryusa kemudian meninggalkan Pulau Sembilan.