Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 59 - Pertemuan Dua Jenderal Langit


__ADS_3

Lang Kai yang dibantu oleh beberapa tetua dari sektenya mulai kewalahan menghadapi Jenderal Matsuno, bahkan beberapa tetua itu sudah terkapar di tanah tanpa kepala.


"Lebih baik kalian menyerah! Kalian tidak akan mampu mengalahkanku," ucap Jenderal Matsuno sambil tersenyum lebar ke arah Lang Kai.


Lang Kai tersenyum sinis menanggapi perkataan Jederal Matsuno, "Apa kau tidak bisa melihat, hah? Kekuatan kami jauh lebih kuat dari kekuatanmu."


Jenderal Matsuno masih tersenyum lebar, "Kalau dilihat dari jumlahnya, kalian memang lebih unggul, tapi apa kau tidak mampu membaca kekuatan orang itu?" Jenderal Matsuno menunjuk ke arah Bhan Tang, "Pemuda itu?" Telunjuknya ia alihkan ke arah Firon, "Dan, hemmm." Jenderal Matsuno kini mengalihkan jari telunjuknya ke arah dirinya, "Kekuatan kami bertiga pasti akan mengalahkan kalian meski dalam jumlah berapapun."


"Cuih... Sombong sekali, kau!"


Lang Kai dan beberapa tetua yang mendampinginya kembali melancarkan serangan demi serangan, mereka sudah tidak sabar ingin membungkam mulut Jenderal Matsuno yang telah meremehkannya.


Pertarungan sengit terus berlangsung. Walaupun satu-persatu dari para tetua itu terus berguguran, namun semangat bertarung mereka tidak juga surut. Hal itu cukup membuat Jenderal Matsuno berdecak kesal.


**


Tubuh Firon meliuk-liuk menciptakan gerakan indah mengikuti gerakan Tongkat Penyanggah Langit. Satu-persatu musuh-musuhnya berjatuhan menghempas bumi.


Zo Dang kini sadar bahwa upayanya ternyata menambah buruk keadaan. Para tetua yang ia perintahkan untuk membantunya kini sebagian besar telah gugur. Bahkan lengan tangan kanannya kini tak mampu lagi ia gerakkan akibat terkena hantaman Tongkat Penyanggah Langit.


Zo Dang tersungkur dan berlutut di tanah sambil memandangi satu-persatu para pendekar yang membantunya itu meregang nyawa di tangan Firon. Ia sudah menyerah dan ingin memohon ampun untuk nyawanya.


Setelah membunuh semua pendekar yang menyerangnya, Firon kemudian menghampiri Zo Dang yang masih dalam posisi berlutut.


"A- A- Am- Ampuni aku! Jangan bunuh aku!" ucap Zo Dang sambil memasang wajah kasihan.


Firon tersenyum sinis, "Aku tidak ingin mengampunimu, namun aku ingin memberimu pilihan. Ingin mati oleh tongkat ini, atau pedang ini?" Firon menunjuk Pedang Ratu Iblis di punggungnya, "Atau kau ingin bunuh diri? Kau bisa memilih yang kamu suka!"


"Ta- Tapi, aku ingin hidup," jawab Zo Dang. Ia bahkan bersujud di hadapan Firon agar nyawanya bisa selamat.


Saat Zo Dang berusaha memohon belas kasih Firon, gemuruh langkah kaki tiba-tiba mengusik pendengarannya. Ribuan prajurit bersenjata berlarian dan mengepung seluruh area pertarungan.

__ADS_1


Firon memandangi para prajurit yang baru tiba itu. Ia sedikit lengah dan tidak menyadari bahwa tindakannya telah memberi ruang bagi Zo Dang untuk melarikan diri.


Zo Dang tidak ingin membuang peluangnya untuk meloloskan diri. Ia segera mengambil sekuntum bunga logam berwarna emas dari balik bajunya. Bunga logam itu kemudian ia lemparkan ke arah Firon sambil berlari ke arah kerumunan prajurit.


Kalau saja Tongkat Penyanggah Langit tidak bergerak sendiri dan menepis jarum-jarum yang datang, tentu Firon sudah terkena jarum-jarum itu.


"Sial, dia berhasil meloloskan diri," gumam Firon kesal.


Di sisi lain, para pendekar dari pihak Jenderal Matsuno mundur dari pertarungan dan segera berkumpul di dekat sang jenderal.


"Bagaimana, apa kau masih bisa tersenyum sekarang, hah?" teriak Lang Kai sambil menatap sinis ke arah Jenderal Matsuno.


Fujiwara Ken Kai yang melihat kedatangan ribuan prajurit itu langsung menghentikan pertarungannya dan segera menghampiri Lang Kai.


Bhan Tang hanya menggaruk hidungnya sambil menghelah nafas pelan. Ia kemudian duduk di atas puing-puing bangunan sambil memandangi Firon di kejauhan. Para prajurit yang ada di sekelilingnya tidak ada yang berani menyerangnya.


"Hahahahaha...! Berani sekali kalian melakukan kudeta hanya dengan mengandalkan puluhan pendekar rendahan, kalian benar-benar ingin mati rupanya!" Fujiwara Ken Kai wajah angkuh di hadapan Jenderal Matsuno.


"Diam kau, Ken Kai! Kaulah yang telah melakukan kudeta! Kami hanya ingin merebut kembali tahta kekaisaran dan menyerahkannya kepada orang yang berhak!" jawab Jenderal Matsuno lantang.


Saat Fujiwara Ken Kai sedang asyik terbahak-bahak, tiba-tiba terdengar suara ledakan keras yang diiring cahaya keperakan di atas langit istana.


Seluruh prajurit itu terkejut bukan main ketika menyaksikan kembang api yang punya ciri khas itu.


Tiga perempat dari ribuan prajurit itu tiba-tiba berlutut di tanah.


Jenderal Matsuno tersenyum datar.


Fujiwara Ken Kai dan Lang Kai mengerutkan dahi.


Semua orang yang tidak memahami arti dari kembang api itu tampak kebingungan. Nalar mereka benar-benar tidak mampu mencerna keadaan yang sedang terjadi.

__ADS_1


Tidak lama kemudian sesosok pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul di hadapan Jenderal Matsuno.


"Salam hormat kepada Jenderal Langit Yorinaga," ucap ribuan prajurit itu secara serentak.


Seperempat dari jumlah prajurit yang tampak masih berusia muda tampak bertambah kebingungan ketika ucapan gemuruh para seniornya menggema di udara.


Jenderal Yorinaga segera mengangkat tangannya sebagai tanda agar para prajurit yang sedang berlutut itu segera bangkit.


"Matsuno, apakah Prasasti Perjanjian itu masih ada padamu?" tanya Jenderal Yorinaga datar.


"Iya, aku menyimpannya di tempat yang aman," jawab Jenderal Matsuno.


"Apa kau tau dimana tuan muda Noguchi sekarang?"


"Aku tidak tau, tapi pemuda ini yang tau." Jenderal Matsuno menunjuk ke arah Firon.


Jenderal Yorinaga kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Firon, "Benarkah kau mengetahui dimana dia?"


Firon mengerutkan dahi, ia sangat mengenal suara orang yang sedang berada di hadapannya itu, 'bukankah orang ini yang telah memperbudak saudara Nogu?' Firon kemudian mencoba tersenyum ke arah Yorinaga, "Benar, aku tau dia dimana."


Jenderal Yorinaga tersenyum sejenak lalu memutar pandangannya ke arah Fujiwara Ken Kai.


"Ken Kai, apa kau ingin meneruskan pertempuran ini atau kau ingin menyerah?"


"Apa maksudmu, Jenderal Yorinaga?" tanya Fujiwara Ken Kai sinis.


Jenderal Yorinaga tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan kemudian bersiul.


Tidak lama kemudian dua orang bertubuh kekar muncul dengan membawa seseorang yang berjubah sutra. Kepala orang yang berjubah sutra itu tertutup kain hitam serta tangan dan kaki dalam keadaan terikat.


Jenderal Yorinaga melangkah pelan ke arah orang yang terikat itu dan membuka kain yang menutupi wajahnya.

__ADS_1


Fujiwara Ken Kai tersentak. Ia tidak menyangka kalau orang yang dibawa oleh Jenderal Yorinaga adalah Fujiwara Itamo, anaknya.


"Kalau kau menyerah sekarang, aku akan mengampuni nyawa seluruh anggota keluargamu kecuali yang terlibat dalam kudeta sepuluh tahun yang lalu. Aku yakin masih banyak diantara mereka yang tidak terlibat."


__ADS_2