
Yugo dengan Kapak besarnya, Yura dengan golok kembarnya, Momo dengan cemetinya dan Nagato dengan pedang besarnya. Mereka berempat melesat dan membabat pepohonan yang mereka dapati.
Hanya dalam beberapa tarikan nafas, puluhan pohon raksasa berhasil mereka tumbangkan. Kabut tebal yang tadinya memenuhi hutan kini mulai menipis.
Tiba-tiba muncul puluhan sosok gadis cantik dari balik kabut yang mulai menipis itu. Kulit putih sebening salju dan kemolekan tubuh gadis-gadis itu bisa terlihat dari balik kain sutra tipis yang mereka kenakan. Bahkan, organ intim para gadis itu begitu transparan meskipun telah dibaluti kain sutra. Gadis-gadis yang cantiknya bak bidadari itu memasang wajah murung dan mata yang berkaca-kaca. Semua lelaki yang memandangnya pasti akan merasa iba padanya.
Yugo dan Nagato menghentikan gerakannya seketika. Mereka terpana melihat kemunculan para gadis cantik itu. Jiwa kelakiannya mendidih. Baru kali ini mereka berdua melihat gadis secantik itu selama hidupnya.
“Siapa kalian?” tanya Nagato lembut. Semangat bertarungnya yang tadi meledak-ledak kini padam seketika.
“Kami adalah penghuni hutan ini,” ucap salah seorang diantara puluhan gadis itu dengan suara yang amat lembut.
“Maafkan kami! Kami tidak tahu kalau di hutan ini ada kalian,” ucap Yugo. Ia memandang para gadis itu sambil sesekali menelan ludah.
“Ya, maafkan kami! Kami telah membuat kesalahan,” ucap Nagato tidak ingin ketinggalan meminta maaf.
Yugo dan Nagato terlihat seperti orang yang kehilangan akal. Mereka terus melangkah tanpa ragu. Seakan-akan ada sesuatu yang menariknya ke arah gadis-gadis itu berada.
Yura dan Momo hanya bisa berdecak kesal dan mengumpat melihat kelakuan kedua rekannya itu.
“Dasar lelaki,” gumam Momo. “Hey, apa yang kalian lakukan?!” teriaknya. Gadis semampai itu kemudian melesat cepat. Ia segera menghadang Nagato yang berjalan paling depan.
Yura juga tidak ingin membuang waktu. Ia segera menghadang Yugo dan berdiri tepat di hadapannya.
Yugo menghentikan langkahnya. Ia terlihat marah.
“Kakak, apa yang kau lakukan?” ucap Yura panik.
“Minggir kau, jangan halangi aku!” pekik Yugo sambil mengayungkan kapaknya ke arah Yura.
Tidak jauh dari Yugo berada, Nagato juga menampakkan ekspresi kemarahan ke arah Momo.
“Momo, menyingkir dari hadapanku! Atau kau akan menerima akibatnya!”
__ADS_1
“Tidak … tidak akan kubiarkan kau melakukannya! Mereka itu tidak nyata!” ucap Momo mencoba membuat Nagato sadar.
Bagaimanapun cantik dan moleknya tubuh para gadis itu, Momo dan Yura tidak terpengaruh sama sekali karena mereka juga perempuan. Bahkan mereka berdua yakin bahwa para gadis itu hanya ilusi belaka.
“Menyingkir kataku!” Nagato mengayungkan pedang besarnya ke arah Momo.
Momo yang tidak menyangka Nagato akan bertindak sejauh itu, nyaris tidak sempat menghindari serangan Nagato. Ia melompat beberapa langkah ke belakang.
“Nagato, apa yang kau lakukan?!”
“Apa yang kulakukan katamu?!” Nagato kembali menyerang Momo seolah hendak membunuhnya.
Momo mencoba menghindari serangan Nagato sambil sesekali memberi serangan balasan yang tidak
mematikan. Tujuannya hanya untuk membuat Nagato sadar.
Di sisi lain, Yugo juga bertarung melawan Yura. Namun bedanya, Yugo menyerang hanya untuk membuat Yura menyingkir. Meskipun Yugo dalam pengaruh Ilusi Hutan Terlarang, rupanya ikatan darah antara dirinya dan Yura masih tetap tertanam di benaknya.
Begitu pula dengan Yura, ia hanya menghindar dari serangan kakak kandungnya itu tanpa sekalipun ia pernah menyerang balik.
Tidak jauh dari lokasi pertarungan, Ningju yang tidak menyadari keanehan yang terjadi terhadap rekan-rekannya, tidak dapat menahan diri untuk tidak maju meleraikan rekan-rekannya itu.
“Haaaaaaaaaaaa,” teriak Ningju sambil berlari ke arah Nagato dan yang lainnya.
“Ningju, tunggu.” Yatsu hanya bisa berdecak kesal sambil menyapu wajahnya melihat Ningju bergerak tanpa arahan darinya.
“Dasar gegabah … ! Kapten, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Miya.
Yatsu tidak menjawab pertanyaan Miya. Ia justru mengangkat tangannya sebagai aba-aba agar Miya berhenti bicara. Ia fokus memikirkan apa yang sedang dihadapi oleh para rekannya itu.
Sebagai orang yang sudah lama menjadi kapten Tujuh Pilar Golok Angin, tentu ia sangat memahami semua watak rekan-rekannya. Ia sangat yakin, bahwa para rekannya itu tidak mungkin akan melakukan sesuatu di luar perintahnya. Yang ia tahu, hanya Ningju dan Miya yang kadang susah diatur.
Ningju, dengan semangat berapi-api berlari ke arah rekan-rekannya yang sedang bertarung. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Tubuhnya menjadi lemas ketika matanya tertuju kepada gadis-gadis yang berdiri di tepi hutan itu. Nafsu birahinya bergejolak. Pemandangan yang tidak pernah ia temui seumur hidupnya, terpajang dengan indahnya di depan matanya. Batinnya berteriak histeris. Hasratnya untuk menjamah tubuh-tubuh indah para gadis itu membuatnya lupa diri.
__ADS_1
Nagato, Yugo dan Ningju kini melupakan misi yang sedang diembannya. Mereka tidak lagi peduli dengan nyawa mereka yang menjadi taruhan jika tidak berhasil menuntaskan misinya dalam waktu yang sudah ditentukan.
Tendangan Nagato berhasil mendarat di perut Momo.
Momo terlempar jauh dan mendarat di dekat para gadis cantik itu.
Para gadis tersenyum ke arah Momo yang sedang meliriknya. Mereka terlihat sangat senang menyaksikan Momo dilukai oleh rekannya sendiri.
Momo menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya. Saat hendak bangkit, sesosok pria tampan tiba-tiba berdiri di depannya. Pria tampan yang sangat dikenalnya itu kemudian mengulurkan tangan dan membantunya berdiri.
Momo terpaku memandang lelaki pria itu. Ia tidak menyangka, suami yang ia yakini telah tewas tepat di depan matanya, kini berdiri tepat di hadapannya. Ia bahkan masih ingat bagaimana ia menguburkan jasad suaminya itu.
Ingatan akan kematian suaminya itu kemudian ia tepis. Ia hanya ingin memandangi wajah tampan suaminya dan mencoba mempercayai apa yang ada di hadapannya.
“Ayo kita pergi dari sini!” ajak pria itu.
Momo kemudian mengikuti pria itu dengan suka rela.
“Kapten,apa yang Momo lakukan?” ucap Miya panik.
“Pria itu tidak mungkin suaminya. Cepat selamatkan dia sebelum masuk ke hutan!” perintah Yatsu. Ia kini menyadari bahwa rekan-rekannya telah masuk perangkap ilusi.
Miya melesat dengan kecepatan penuh. Ilmu meringankan tubuh yang ia miliki adalah yang paling gesit dari semua anggota Tujuh Pilar Golok Angin. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, ia sudah tiba di samping Momo dan langsung melayangkan tendangan keras ke perut pria yang sedang menggandeng tangan Momo itu.
Pria itu terpental cukup jauh.
“Miya, apa yang kau lakukan?!” teriak Momo histeris. Ia kemudian berniat mendatangi pria itu, namun tangan Miya memegang erat pundaknya.
“Tunggu! Lihat!” teriak Miya sambil terus memeluk pundak Momo.
Pria itu merintih kesakitan. Sesaat kemudian, asap putih memenuhi tubuh pria itu. Sosok manusia kerdil kemudian muncul dari balik asap putih itu.
“Apa?!” pekik Momo dengan amarah yang meluap-luap.”Kau memperdayaiku?!” Ia kemudian mengayungkan cemetinya ke arah kurcaci yang sedang kesakitan itu.
__ADS_1
Saat cemeti Momo hampir menyentuh tubuh kurcaci itu, sebuah bulu panjang berwarna putih meliliti tubuh kurcaci itu dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
Ujung cemeti milik Momo mengenai pohon besar dan mengakibatkan pohon itu tumbang dan hampir menimpa dirinya.