Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 52 - Kota Nikoto


__ADS_3

Di sebuah lembah yang letaknya hanya beberapa mil dari Kota Mojo Pusat, seorang lelaki berumur empat puluhan dan seorang wanita yang terlihat berumur hampir sama sedang bersujud di depan sebuah nisan yang bertuliskan Dangun Jo.


"Ayah, hari ini tepat sepuluh tahun kematianmu, namun aku belum bisa membalaskan dendammu... Maafkan anakmu yang tak berguna ini!" ucap sang lelaki sambil meneteskan air mata.


"Suamiku...! Kamu harus bersabar sedikit lagi...! Bukankah kamu hanya butuh beberapa bulan lagi untuk memulihkan seluruh kekuatanmu?" Perempuan itu menatap mata suaminya sambil tersenyum haru.


"Kamu benar, Istriku...! Sebentar lagi aku akan membalaskan dendam ayah dan anak kita!" ucap lelaki itu yang tak lain adalah Aron sang Pendekar Mata Elang Langit.


Perempuan yang tak lain adalah istrinya yakni Sin Rara memeluk Aron erat-erat.


Tiba-Tiba seorang pria yang seumuran dengan Aron dan membawa pedang besar di punggungnya datang dari arah belakang dan berteriak kencang, "Adik Aron... Aku datang!"


Aron langsung melepaskan pelukan istrinya dan menoleh ke sumber suara sambil tersenyum canggung.


"Eh, Kakak Matsu, bagaimana kabarmu?" sapa Aron semangat.


"Seperti yang kau lihat," Matsuhito melebarkan tangannya.


"Hahahahaha...! Sudah sepuluh tahun berpisah, ternyata kau masih seperti dulu." Aron menghampiri Matsuhito dan memeluknya.


"Suamiku, lebih baik kita berbincang di rumah sambil minum teh!" ajak Sin Rara.


"Baik...! aku ingin mencoba seduhan teh adik ipar." Matsuhito tersenyum lebar sambil melangkah mendahului tuan rumah.


Aron hanya bisa tersenyum lebar melihat tingkah kakak angkatnya itu.


Setelah sampai di rumah, Sin Rara segera ke dapur untuk menyeduh teh.


Matsuhito meletakkan pedangnya diatas meja, "Adik Aron, bagaimana kekuatanmu? Apakah sudah pulih sepenuhnya?"


"Belum, sepertinya butuh beberapa bulan lagi, tapi lukaku sudah sembuh sepenuhnya," jawab Aron semangat.


"Yah, itu berkat obat penawar dan beberapa sumberdaya yang kakak ipar berikan kepada kami," sela Sin Rara yang baru keluar dari dapur sambil membawa sebuah teko berisi seduhan teh dan beberapa buah cangkir.


"Benar Kakak Matsu, semua itu berkat bantuanmu!" ucap Aron sambil menuangkan teh ke dalam cangkir.


"Adik Aron tidak perlu sungkan, sudah selayaknya aku membantu adik." Matsuhito kemudian menghirup secangkir teh di tangannya.


"Kakak, sepuluh tahun yang lalu, bagaimana kakak bisa menemukan kami dan menolong kami?" tanya Aron serius.

__ADS_1


Matsuhito meletakkan cangkir dari tangannya, " O...iya, aku lupa menceritakannya...Hari itu aku sedang dalam perjalanan ke markas Perserikatan Bumi yang sekarang bernama Kuil Awan, namun di tengah perjalanan aku melihat beberapa orang berpakaian hitam menyerang sebuah rumah... Awalnya aku hanya sekedar ingin melihat apa yang mereka lakukan dan tidak berniat untuk ikut campur... Namun ketika aku melihat tubuhmu dibawa oleh mereka, hal itu membuat aku tidak bisa tinggal diam..."


Matsuhito menenggak tehnya pelan, "Sayang, nyawa Ketua Jo tidak tertolong, aku menemukannya sudah dalam kondisi tak bernyawa," lanjutnya.


"Itu mungkin sudah takdir..." Aron tertunduk sejenak sebelum kembali melemparkan senyum lebar ke arah Matsuhito sambil menuangkan teh ke dalam cangkirnya, "Oya, kemana tujuan kakak setelah ini?"


"Aku berencana ke Kota Mojo Selatan... Aku harus menyelidiki sesuatu yang berkaitan dengan Gerbang Naga?"


"Gerbang Naga?" Aron mengerutkan dahi.


"Iya Gerbang Naga, menurut rumor yang beredar, Huang Lee gubernur Mojo Selatan berniat membuka kembali Gerbang Naga," balas Matsuhito.


"Kakak, sudah sepuluh tahun aku di lembah ini dan aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, jadi tolong jelaskan siapa Huang Lee itu, kenapa dia ingin membuka kembali Gerbang Naga." Raut wajah Aron menjadi sangat serius.


"Adik...! menurut kabar, Huang Lee itu adalah adikmu, dia dulu seorang jenderal dan berhasil merebut Kota Penyu darimu dan merubah namanya menjadi Kota Mojo Selatan, benarkah itu?" tanya Matsuhito.


'Dia bahkan mengganti nama depannya.' Aron mengepalkan tangannya, "Orang biadab itu tidak pantas menjadi adikku... Suatu hari nanti akan kubalas perbuatannya."


"Oyah Adik, aku harus segera pergi, semua anggotaku sedang menungguku di ujung lembah,"


"Oww... aku tidak akan menghambatmu, aku harap kita bisa berjumpa di lain waktu," ucap Aron sedih.


**


Setelah menjelaskan cukup lama, Firon akhirnya berhasil meyakinkan Sin Toru dan para tetua untuk melepaskan Yatsu dan ikut bersamanya.


Sebelum berangkat, Firon menerima sedikit penjelasan dari Sin Toru tentang bagaimana cara menggunakan Tongkat Penyanggah Langit.


Di sisi lain, terlihat Kibuki sedang berbicara dengan Ryusa, "Hati-hati dengan Yatsu! Aku masih belum bisa percaya padanya," bisik Ryusa.


"Baik, Tetua." Kibuki memberi hormat dan segera melangkah mendekati Yatsu yang sedang menunggunya dari tadi.


Firon, Yatsu dan Kibuki akhirnya berangkat menuju Kota Nikoto.


Perjalanan dari Kota Hidden ke Kota Nikoto mereka lalui tanpa hambatan yang berarti.


Beberapa hari kemudian mereka akhir tiba di kota dan mencoba mencari penginapan untuk mereka tempati beristirahat.


"Yatsu, kamu tentu sangat mengenal kota ini, bukan? tanya Firon serius.

__ADS_1


" Iya, Tuan Muda!" jawab Yatsu.


"Yatsu, kau tidak perlu memanggilku tuan muda! Kau panggil aku Firon saja." Firon kemudian menoleh ke arah Kibuki, "Dan kau juga Kibuki!"


Yatsu dan Kibuki saling berpandangan sebelum mengangguk tanda setuju.


Firon tersenyum, "Kalau begitu cari sebuah penginapan yang sering disewa oleh para pendekar terkenal ataupun pejabat istana!" bisik Firon.


"Baik," jawab Yatsu ringkas.


"Oya, satu lagi...! kenakan topeng agar tidak ada yang mengenalimu." lanjut Firon.


"Baik," Yatsu kemudian membeli sebuah topeng dan mengenakannya sebelum membawa Firon dan Kibuki ke sebuah penginapan mewah di Kota Nikoto.


Ketika mereka bertiga memasuki penginapan mewah itu, seorang pelayan bertubuh pendek tapi gemuk langsung menyapa mereka.


"Tuan-tuan ingin makan saja atau ingin menginap?"


"Kami ingin menginap?" jawab Yatsu.


"Tapi kamarnya tinggal satu, bagaimana?" tanya pelayan itu lagi.


Yatsu memandang ke arah Firon.


"Tidak apa-apa, satu kamar sudah cukup." jawab Firon.


"Kalau begitu, tuan-tuan ikut aku!" ajak pelayan itu.


"Tunggu...! Kamar itu buat aku!" Seorang lelaki berotot bermuka seram bersama tiga orang pendekar dibelakangnya membuat langkah pelayan itu sontak berhenti.


"Tu-Tu-Tuan Giba." Pelayan itu langsung ketakutan melihat orang itu.


Firon menoleh ke arah orang itu, "Hei, Tuan! Kamar itu sudah kami pesan, dan anda tidak berhak merebutnya dari kami!"


Suasana menjadi hening seketika. Semua mata kini tertuju ke arah Firon. Beberapa orang yang tengah asyik makan tiba-tiba pergi dan tidak mempedulikan makanan yang telah mereka bayar itu.


Lantai dasar penginapan itu kini terlihat sepi kecuali ada beberapa orang pendekar yang masih tetap duduk menikmati makanannya.


"Hua-Hahahahaha." Gelak tawa pendekar yang bernama Giba itu memecah keheningan, "Rupanya ada yang sedang mencari mati disini...!"

__ADS_1


Giba memberi aba-aba kepada ketiga orang anggotanya untuk menyerang Firon.


__ADS_2