Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 16 - Rencana Licik Jenderal Lee


__ADS_3

Di sebuah tenda milik pasukan kekaisaran yang ukurannya lebih besar dari tenda-tenda lainnya, Jenderal Lee dan Jenderal Moo terlihat sangat serius membicarakan sesuatu. Di depan keduanya terdapat sebuah botol minuman dan dua cangkir kecil di atas sebuah batu yang cukup besar yang mereka manfaatkan sebagai meja .


Keduanya terlihat sangat asyik menikmati arak yang ada di hadapan mereka. Tegukan demi tegukan mengalir begitu saja di leher Jenderal Lee. Setelah meminum beberapa cangkir, ia kemudian meremas cangkir yang dipegangnya menggunakan tenaga dalam hingga menjadi serpihan-serpihan halus. Ia terlihat geram akan sesuatu.


“Jenderal Moo, aku punya rencana terhadap mereka. Aku ingin kau benar-benar membantuku agar rencana ini bisa berjalan dengan lancar!” Ucap Jenderal Lee sambil memandang Jenderal Moo dengan tatapan tajam. Ia kemudian membisikkan sesuatu di telinga Jenderal Moo.


Jenderal Moo yang mendengar bisikan Jenderal Lee di telinganya menampakkan wajah heran. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Jenderal Lee sanggup menyingkirkan keluarganya sendiri demi tercapai keinginannya.


Sementara itu di Kota Penyu, Aron dan Dewi Rara duduk berduaan di dalam kamar sambil menunjukkan wajah serius. Mereka membahas tentang Jenderal Lee dan Ketua Jo.


“Sayang, maafkan aku. Tapi menurut aku, Jenderal Lee itu sangat berbahaya. Aku melihat ada sesuatu yang ia rencanakan!” Dewi Rara mencoba mengutarakan apa yang ia rasakan.


“Sayang, kamu tidak perlu khawatir terhadap Lee. Walaupun ia kini seorang jenderal, namun ia tidak berani menantang aku!” Ucap Aron sambil memegang kedua pipi istrinya sambil menatap mata istrinya dengan penuh cinta.


“Yang aku Khawatirkan justru adalah ayah. Aku takut, beliau akan memaksaku untuk kembali ke Desa Air Terjun” Tutur Aron  yang kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap kosong ke arah pintu kamarnya.


Dewi Rara paham betul maksud suaminya. Ia juga berpikir cara agar suaminya bisa keluar dari situasi tersebut.


“Ayah akan berada di sini selama beberapa hari. Kapal Tuan Ligo tidak akan berlayar di lautan dalam waktu dekat ini. Tuan Ligo bilang, kapalnya akan diperbaiki selama beberapa minggu. Itu artinya, kita masih punya kesempatan untuk memikirkan jalan keluar dari masalah ini!” Ungkap Dewi Rara berharap suaminya senang mendengarkan apa yang ia sampaikan.


“Terima kasih sayang, aku sedikit lega sekarang. Semoga kita bisa menemukan cara agar ayah bisa merelakan aku untuk tetap tinggal di kota ini menemanimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku ingin selalu berada di sampingmu!” Ucap Aron sambil memeluk istrinya. Ia memeluk erat istri sampai-sampai pelukannya itu membuat


Dewi Rara menjadi sulit bernafas.


“Sayang.. sayang.. Lepaskan aku, aku sulit bernafas!” Ucap Dewi Rara sedikit Ngos-ngosan karena hampir kehabisan nafas.


Dengan spontan Aron melepaskan pelukannya.

__ADS_1


“Maaf sayang, aku terlalu bersemangat.. hehehe” Ucap Aron sambil tersenyum bodoh ke arah istrinya.


Aron kemudian kembali memegang kedua pipi istrinya dan kembali memandang mata Dewi Rara dengan penuh rasa cinta. “Sayang, kau tahu, tidak apapun di dunia ini yang lebih penting bagiku daripada dirimu”.


Butiran air mata mengalir pelan di pipi Dewi Rara. Ia benar-benar terharu karena diperlakukan seperti itu oleh suaminya. Ia benar-benar merasa beruntung ada Aron yang selalu setia berada disampingnya. Dimata Dewi Rara, Aron adalah sosok lelaki yang sangat istimewa. Disaat ia menjadi aib di Kerajaan Langit dan memilih menjadi makhluk fana di bumi, Aron mau menerima dirinya apa adanya. Padahal Aron adalah lelaki yang sangat tampan dan juga memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.


“Terima kasih sayang, aku benar-benar beruntung memiliki kamu dan aku berjanji akan selalu bersamamu sehidup semati. Kemanapun kamu pergi, aku akan selalu mendampingimu!” Ucap Dewi Rara lembut.


Aron yang mendengar ucapan istrinya itu kemudian menghapus air mata di pipi istrinya, lalu memeluknya. Kali ini, pelukannya tidak lagi erat seperti tadi, namun sangat lembut dan hangat.


Aron kemudian mencium kening istrinya lalu mencumbunya dengan mesra. Keduanya kemudian tenggelam dalam lautan asmara. mereka menghabiskan malam dengan bercumbu seolah malam itu adalah malam terakhir mereka bisa melakukannya.


Dalam beberapa hari terakhir, Aron dan Dewi Rara mengajak Ketua Jo untuk berkeliling Kota Penyu. Mereka mengajak Ketua Jo ke tempat-tempat penting di Kota Penyu.


Aron dan Dewi Rara juga mengajak Ketua Jo untuk makan di sebuah tempat yang terkenal akan kelezatan makanannya. Mereka bertiga kemudian memasuki restoran yang terlihat sangat mewah. Meja-meja dan kursi-kursi tertata rapi di restoran itu.


Beberapa lama setelah mereka memesan beberapa makanan yang ada daftar menu yang ditunjukkan oleh pelayan restoran, makanan merekapun akhirnya datang dan disajikan di meja yang berada tepat di hadapan mereka.


Saat ketiganya hendak memakan makanan yang sudah tersaji didepan mata, Aron dan Dewi Rara kemudian


didatang oleh salah satu anak buahnya yang bertugas menjaga dan mengurus gedung balai kota.


“Ada apa, kenapa kau ada disini?!” Tanya Dewi Rara kepada anak buahnya.


“Nyonya, Tuan. Maaf aku harus segera menyampaikan ini kepada anda!” Ucap pengelolah Gedung Balai Kota tersebut.


“Jenderal Moo yang datang tempo hari, kini datang lagi dan membawa gulungan yang berisi undangan dari Kaisar Liong!” Ucapnya lagi

__ADS_1


Aron terlihat bingung mendengar berita yang disampaikan oleh anak buahnya itu.


“Kalau begitu kalian pulang saja dulu!?” Ucap Ketua Jo melihat Aron dan Dewi Rara yang tampak kebingungan.


“Maaf Ketua Jo. Anda juga punya undangan yang sama!” Ucap pengelolah Gedung Balai Kota itu lagi.


Aron dan Dewi Rara menjadi bertambah kebingungan mendengar penuturan anak buahnya. mereka tidak habis pikir, kenapa ayahnya yang baru beberapa hari tiba di Kota Penyu juga mendapatkan undangan yang sama dari Kaisar Liong.


Ketua Jo kemudian memegang ujung dagunya dan mengerutkan keningnya berpikir. “Ada apa dibalik semua ini?” Gumamnya.


“Baiklah, kita pulang saja dulu. Lain kali kita kembali ke tempat ini!” Ucap Ketua Jo sambil berdiri dan melangkah keluar meninggalkan hidangan yang belum sempat ia cicipi.


Melihat Ketua Jo melangkah keluar, Aron dan Dewi Rara kemudian ikut berdiri dan melangkah meninggalkan restoran mewah tersebut.


Dalam perjalan pulang ke gedung Balai Kota, tidak terjadi percakapan antara mereka bertiga. Masing-masing larut dalam pemikirannya. Tidak ada yang bisa memahami apa maksud dari undangan yang datang dari kekaisaran untuk mereka.


Sesampai di gedung Balai Kota, ketiga langsung menuju ruangan tempat Jenderal Moo menunggu mereka.


“Maaf telah membuat anda menunggu lama!” Sapa Dewi Rara sambil memberi hormat kepada Jenderal Moo.


Jenderal Moo kemudian berdiri dari tempatnya duduk dan tanpa membalas sapaan Dewi Rara, ia langsung menyodorkan dua buah Gulungan kepada Dewi Rara.


“Yang satunya adalah untuk Dangun Jo ketua Klan Gojo!” Ucap Jenderal Moo menjelaskan.


“Kalau begitu aku pamit dulu. Aku tidak boleh berlama-lama di sini. Aku hanya diperintahkan untuk memastikan undangan Kaisar Liong sampai ke tangan anda!” Ungkap Jenderal Moo yang terlihat sinis.


“Oyah.. kalau tidak ingin dapat masalah, kalian harus memenuhi undangan Kaisar Liong!” Ucap Jenderal Moo lantang. Ia kemudian melangkah keluar meninggalkan ruangan pertemuan sambil terkekeh-kekeh.

__ADS_1


Aron, Dewi Rara dan Ketua Jo yang menyaksikan sikap Jenderal Moo menjadi sedikit tersinggung namun memilih tidak mencari masalah sebelum mereka mengetahui apa tujuan di balik undangan Kaisar Liong.


__ADS_2