
"Apa yang akan kita gunakan untuk mengikat mereka?" tanya Nara serius.
"Apa ya?" Firon menoleh kemana-mana untuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai pengikat.
Setelah puas mencari dan tidak menemukan apa-apa, Nara kemudian mendapatkan sebuah ide, "Bagaimana jika kita potong saja kedua kaki mereka?"
"Bukankah itu juga kejam?" balas Firon.
"Apa kau punya ide lain?" tanya Nara datar.
Firon tersenyum. Ia kemudian menghampiri Watanabe.
"Sepertinya kita tidak perlu mengikat mereka. Aku yakin mereka tidak akan macam-macam." Firon mendekatkan matanya ke wajah Watanabe, ia sengaja melakukan itu agar Watanabe bisa melihat dengan jelas warna dan bentuk bola mata Firon yang tak lazim.
"Saudari Nara, jika jurus yang tengah mengunci mereka aku tarik, maka keduanya langsung bebas. Jadi, kau harus waspada." Firon berkomunikasi dengan Nara melalui telepati.
Nara yang mengerti harus bagaimana, bergegas menghampiri Hidate dan berdiri dibelakangnya.
"Kau bisa menarik jurusmu sekarang!" teriak Nara sambil menodongkan ujung pedangnya ke leher Hidate.
Firon kemudian menarik jurusnya.
Watanabe dan Hidate langsung terduduk dan mencoba mengatur nafas.
"Kalian sudah dengar apa keinginanku, bukan?! Jadi aku harap kalian tidak membuatku kecewa!" ucap Firon.
Watanabe dan Hidate saling berpandangan.
Sejenak tidak ada yang mengeluarkan suara. Tapi ketika Watanabe melihat Firon menurunkan pedang yang sejak tadi ia letakkan di pundaknya dan berlagak seperti hendak menebaskan pedang itu ke arahnya, ia langsung angkat suara, "Pendekar muda, aku tidak tahu apakah informasi ini akan berguna buat anda atau tidak, tapi aku ingin anda berjanji akan membiarkan kami pergi dari sini!"
"Baik, aku akan melakukannya." jawab Firon.
Watanabe kemudian menceritakan bahwa kemunculan seorang pemuda yang bernama Noguchi baru-baru ini telah membuat Kaisar Itamo tak dapat hidup tenang.
Kaisar tidak ingin kabar kemunculan pemuda itu sampai ke telinga Sekte Cahaya Kemurnian dan membuat mereka punya alasan untuk menentang kekaisaran Klan Fujiwara.
"Ceritakan tentang Sekte Cahaya Kemurnian!" ucap Firon penasaran.
Watanabe menjelaskan bahwa sebenarnya sekte Cahaya Kemurnian adalah sekte yang belum lama berdirinya. Tidak ada yang tahu keberadaan sekte itu.
__ADS_1
Namun suatu hari, di pasar ibu kota ada seorang pendekar asing terjebak pertarungan dengan ratusan pendekar aliran hitam. Pendekar asing itu akhirnya berhasil mengalahkan semua musuhnya tanpa terluka sedikitpun.
Hal itu mengundang perhatian Fujiwara Kenkai, ketua Klan Fujiwara.
Kenkai kemudian mengutus seorang pendekar yang sangat ahli dalam melakukan penyamaran untuk mengikuti pendekar tersebut. Tentu tujuannya adalah untuk mengetahui tempat tinggal pendekar itu yang ternyata berasal dari sekte Cahaya Kemurnian dan bermarkas di Gunung Api Putih.
"Pendekar yang diutus itu juga berhasil mengumpulkan informasi bahwa Sekte Cahaya Kemurnian mempunyai banyak pengikut. Bahkan mereka memiliki ratusan tetua yang memiliki kesaktian yang amat tinggi. Konon kabarnya, para pendekar yang ada di sana tujuh puluh persennya berasal dari Benua Kuning."
"Benua Kuning?" Firon semakin penasaran dan ingin mengetahui lebih banyak mengenai sekte yang terdengar ditakuti oleh Kaisar Itamo itu.
"Menurut kabar, sekte Cahaya Kebenaran didirikan oleh para pendekar dari Kuil Awan, lebih tepatnya mereka adalah biksu."
"Kuil Awan?!" Firon semakin penasaran dan semakin ingin tahu.
"Ya, Kuil Awan, kuil yang terletak di puncak gunung Himala. Bisa dikatakan Sekte Cahaya Kemurnian adalah cabang dari Kuil Awan" balas Watanabe.
"Maksudmu, Gunung Himala di Benua Kuning?" tanya Firon.
"Iya," jawab Watanabe singkat.
"Lalu apa tujuan Kuil Awan mendirikan cabang di Benua Hitam?"
"Maksudmu Noguchi?"
"I... I... Iya," ucap Watanabe terdengar ragu-ragu.
Firon mengerutkan dahi, "Jangan-Jangan ini ada kaitannya dengan Jenderal Matsuno," batinnya.
"Aku akan segera melepaskanmu, tapi aku ingin kau menceritakan sedikit tentang benua kuning!" ucap Firon datar.
Watanabe mengerutkan dahi. Ia tidak menyangka pendekar muda di hadapannya sangat tertarik dengan Benua Kuning, "Tuan muda, aku sungguh tidak tahu apa-apa tentang Benua Kuning, hanya saja aku mendengar kabar, kaisar akan mengirim utusan ke Benua kuning, tepatnya di Kota Mojo selatan. Kaisar ingin menawarkan kerja sama dengan penguasa negeri itu... Hanya itu yang aku ketahui, Tuan Muda."
"Mojo selatan?"
Ekspresi wajah Firon tiba-tiba menjadi buruk. Hal itu membuat Watanabe dan Hidate kembali berkeringat dingin.
"Baiklah, kalian boleh pergi sekarang," ucap Firon datar.
Watanabe dan Hidate langsung bersemangat mendengar Firon ternyata menepati janji. Mereka langsung memohon pamit dan segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar ingin melepaskan mereka?" tanya Nara saat memandangi kedua musuhnya sudah semakin jauh.
"Apa kau menyuruhku untuk ingkar janji...? Tapi kau tenang saja! kau akan segera tahu apa yang sebenarnya aku rencanakan sejak tadi," ucap Firon sambil tersenyum.
"Tapi, bukankah tadi kita hanya berpura-pura?" tanya Nara bingung.
"Kau tunggu saja! Nanti juga kau akan tahu." Firon kemudian mengajak Nara menemui Sin Toru dan yang lainnya.
Setelah berbicara sebentar dengan Sin Toru, Firon kemudian menemui Ryusa dan Sazaki, "Sepertinya aku masih punya urusan yang tidak bisa ditunda, jadi aku mohon diri dulu!"
"Tidak apa-apa... Kami sangat mengerti. Segera laksanakan urusanmu!" ucap Ryusa.
"Terima kasih, Paman."
Firon kemudian mendekati Nara, "Ayo...! Aku membutuhkan bantuanmu."
Nara yang sangat penasaran dengan rencana Firon, tidak berkata apa-apa dan langsung mengikuti Firon.
Setelah agak jauh dari tempat Sin Toru dan yang lainnya, Firon kemudian memasang telinga dan mencoba mengarahkan pendengarannya ke satu target.
"Cepat...! Nanti kita terlambat." Firon kemudian melesat dengan kecepatan tinggi ke arah target yang ia tuju.
Nara yang sangat kesulitan mengimbangi kecepatan ilmu meringankan tubuh Firon terpaksa harus tertinggal jauh dibelakang.
"Apa yang sebenarnya ia rencanakan?" batin Nara. Ia cukup kesal karena Firon meninggalkannya, namun ia yakin Firon punya perhitungan dan terpaksa harus meninggalkan dirinya.
Firon sebenarnya menyadari dirinya dengan Nara sudah terpaut jarak yang cukup jauh, tapi ia tidak mau menunggu karena bisa membuat rencananya berantakan.
Benar saja, Firon menyaksikan lima orang pendekar berpakaian serba hitam dan menggunakan penutup wajah sedang bertarung dengan Watanabe dan Hidate.
Jika dilihat dari bentuk tubuh dan gerakannya yang gemulai, kelima pendekar itu adalah perempuan.
Watanabe terlihat kalah dan sudah berada pada posisi berlutut.
"Hihihihihi...! Salah seorang dari lima pendekar itu terkekeh dan berjalan pelan sambil menenteng pedang katana ke arah Watanabe dan Hidate yang sedang berlutut berdampingan, " Berani sekali kalian menghianati Ketua Kenkai!"
"Apa maksudmu?" tanya Watanabe sambil meringis menahan kesakitan di sekujur tubuhnya.
"Kau jangan berpura-pura!" bentak pendekar itu, "Berani sekali kau memberi mereka informasi yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh mereka...! Sekarang kau harus membayarnya!"
__ADS_1
Pendekar itu kemudian mengangkat pedangnya hendak menebas leher Watanabe, namun tiba-tiba, "Kemana dia?!" Pendekar itu terperanjat, Watanabe tiba-tiba menghilang dari tempatnya.