Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 12 - Perempuan Misterius


__ADS_3

Semua orang yang mendengar keterangan Aron, terlihat sangat senang dan buru-buru keluar dari ruangan tempat mereka dikurung.


“Terima kasih Pendekar. Maafkan atas


sikapku sebelumnya,” ucap Tuan Ligo sopan.


“Hemm, baiklah, karena aku telah


menghabisi para penjahat itu dan kau bisa menguasai kembali perahu ini. Maka aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku!” ucap Aron dengan nada yang agak dingin.


“Baiklah pendekar. Apapun permintaanmu akan aku penuhi selagi aku mampu untuk memenuhinya,” ucap Tuan Ligo yang tampak gugup.


“Ah, kau tidak usah sungkan! Aku hanya.menginginkan informasi tentang wanita itu,” bisik Aron di dekat telinga Tuan Ligo sambil memancungkan bibirnya ke arah perempuan misterius yang masih belum beranjak dari duduknya itu.


Tuan Ligo kemudian menceritakan bahwa dirinya berasal dari kota yang bernama Lombonggia. Kota yang terletak di wilayah barat bumi itu memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Selain memiliki pemandangan yang sangat indah, Kota Lombonggia juga memiliki danau yang bernama Danau Langgia. Yakni, sebuah danau yang dianggap paling luas di seluruh permukaan bumi kala itu.


Ketika hujan yang tak biasa mengguyur bumi belasan purnama yang lalu, penduduk kota Lombonggia awalnya tidak merasakan sesuatu yang aneh. Namun setelah tiga purnama berlalu, air Danau Langgia mulai meluap dan membanjiri ribuan rumah warga yang tinggal di pesisir danau.


Penguasa kota tidak peduli dengan apa yang dialami para warga. Mereka bahkan tidak peduli dengan hujan yang turun tanpa jeda itu. Mereka merasa sangat aman, karena posisi istana terletak di atas perbukitan.


Tuan Ligo yang kebetulan seorang saudagar kaya yang memiliki perahu, kemudian didatangi seorang perempuan misterius. Perempuan misterius itulah yang kemudian memberi peringatan padanya. Perempuan misterius itu menyampaikan, bahwa Kota Lombonggia akan berubah menjadi lautan. Tak terkecuali wilayah perbukitan. Perempuan itu juga meminta agar seluruh perahu yang ada digunakan untuk memuat para warga berikut perbekalan sebanyak yang bisa diangkut oleh perahu.


Ligo dan saudagar perahu lainnya segera melaksanakan permintaan perempuan misterius itu. Hal itu terpaksa mereka lakukan, karena mereka memang tidak punya pilihan lain.


“Pendekar, kami masih hidup sampai hari ini adalah berkat perempuan itu,” ucap Tuan Ligo menutup ceritanya.


Aron hanya bisa mengerutkan dahi ketika mendengar cerita Tuan Ligo. Ia semakin penasaran terhadap perempuan misterius yang masih belum beranjak dari tempat duduknya itu.


“Tuan Ligo, kita tidak bisa menepi lebih dekat. Airnya cukup dangkal. Bagaimana kalau kita menggunakan sekoci untuk berlabuh?” ucap salah seorang awak kapal yang bertugas memantau jalannya perahu.

__ADS_1


“Baiklah.. kalian turunkan jangkar dan sekoci!” seru Tuan Ligo.


Setelah melalui proses yang cukup lama, seluruh penumpang kapal yang sudah lebih dari satu tahun terapung di lautan, akhirnya bisa menginjakkan kaki di atas tanah.


“Tuan Ligo, bagaimana kalau kita membangun sebuah desa di tempat ini? Kelihatannya tempat ini sangat cocok untuk memulai peradaban.” cetus salah seorang anak buah Tuan Ligo.


“Kamu benar juga. Kalau begitu kita minta dulu pendapat nona misterius itu! Bagaimanapun, kita semua masih hidup sampai hari ini adalah berkat dia,” balas Tuan Ligo.


Tuan Ligo kemudian melangkah menghampiri perempuan misterius itu.


“Nona, saya punya rencana tentang tempat ini!” ucap Tuan Ligo. Ia kemudian menceritakan rencananya untuk membangun sebuah desa di tempat itu. Ia juga meminta agar perempuan misterius itu mau menjadi pemimpin di desa yang ingin mereka bangun itu.


“Tuan Ligo, aku tidak pantas menjadi pemimpin kalian!” ucap perempuan misterius itu menolak.


“Nona, berkat anda kami masih hidup sekarang. Jadi tidak ada yang lebih pantas memimpin kami selain anda," ucap Tuan Ligo penuh harap.


“Benar sekali Nona ... Anda memang sangat pantas menjadi pemimpin mereka!” ucap Aron sambil tersenyum manis.


Beberapa saat suasana menjadi hening. Perempuan misterius itu kemudian menyampaikan kesediaannya.


“Aku bersedia ... tapi aku punya syarat!” ucap perempuan misterius itu dengan nada datar.


“Apa syaratnya, Nona?” tanya Tuan Ligo. wajah menjadi sedikit murung. Ia menyangka, syarat yang akan diajukan perempuan misterius itu adalah hal yang tak mampu mereka penuhi.


“Syaratnya sangat mudah ... ,” ucap perempuan misterius itu sambil mengalihkan pandangannya ke arah Aron.


“Aku ingin anda juga tinggal disini! Tentunya untuk membantu kami membangun desa!” ungkap perempuan itu lagi.


Aron mengerutkan dahinya. Ia benar-benar tidak menyangka akan ikut dilibatkan dalam urusan yang tidak seharusnya dia campuri.

__ADS_1


“Waduh.. bagaimana ini? Aku kan, punya misi dari Desa Air Terjun!” pikir Aron merasa dilema.


Aron kemudian memutuskan, tidak ada salahnya membantu mereka, mungkin dengan membantu mereka membangun desa, maka ia juga akan mempunyai jalan untuk membantu Desa Air Terjun.


“Baiklah aku bersedia!” ucap Aron memecah keheningan.


“Tapi aku juga punya syarat!” Aron melempar senyuman ke arah perempuan misterius itu. Ia berpikir, inilah kesempatannya untuk menggali informasi terkait perempuan yang sudah membuatnya penasaran itu.


Melihat Tuan Ligo hendak mengajukan pertanyaan, Aron kemudian berkata, “Ini tidak ada kaitannya dengan anda Tuan Ligo. Aku yakin Nona ini mampu memenuhi syarat yang kuajukan.”


Ucapan Aron membuat Tuan Ligo lega sekaligus menghawatirkan perempuan yang telah menolongnya itu.


“Tuan Ligo, tolong tinggalkan kami berdua!” ucap Aron dengan nada datar.


Setelah mendengar permintaan Aron, Tuan Ligo kemudian bergegas meninggalkan Aron dan perempuan misterius berdua.


Melihat Tuan Ligo telah cukup jauh, Aron kemudian berjalan mendekat. Ia sungguh terperanjat, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang ketika jarak dirinya dan perempuan di hadapannya itu sudah begitu dekat.


“Ah, perasaan ini, apakah benar dia adalah Dewi Rara?” bisik Aron dalam hatinya.


“Nona, aku tidak tahu kenapa ketika berada di dekatmu aku merasakan perasaan yang sama ketika aku berada di dekat seseorang yang pernah kujumpai dulu,” ucap Aron sambil membayangkan detik-detik pertemuannya dengan Dewi Rara yang begitu singkat.


Melihat perempuan misterius hanya diam seribu bahasa, Aron kemudian mengganti topik terkait syarat yang akan dia ajukan.


“Baiklah, syarat yang ingin kuajukan adalah, aku angin tahu tentang identitasmu yang sesungguhnya. Tolong berkata yang sejujur-jujurnya padaku atau aku tidak akan membantumu," ucap Aron dengan nada tegas.


“Pendekar, sebelum aku menunjukkan identitas aku yang sesungguhnya padamu. Aku ingin bertanya terlebih dahulu padamu terkait seseorang yang kau katakan tadi,” ucap perempuan misterius yang masih enggan menunjukkan identitasnya itu.


Aron hanya mengerutkan dahi mendengar pernyataan perempuan yang ada di hadapannya itu. Ia menjadi penasaran, kenapa perempuan misterius itu menjadi tertarik dengan masa lalunya.

__ADS_1


__ADS_2