
Perlahan-lahan Miya membuka matanya. Hal pertama yang ia pandangi adalah sebuah lentera kecil yang terbuat dari bambu. Miya kemudian memalingkan wajahnya memandangi dinding-dinding kamar yang juga terbuat dari anyaman bambu, “Dimana aku?” gumamnya.
“Syukurlah kau sudah bangun, kau berada di pondok bambu sekarang,” jawab Nara datar.
“Kenapa aku bisa berada disini?”
“Aku yang membawamu.”
Miya memegang lambungnya sambil meringis kesakitan, “Apa yang terjadi padaku?”
“Apa kau tidak ingat bagaimana temanmu mencoba mengorbankanmu?” Nara balik bertanya.
Miya kemudian mencoba mengingat kembali peristiwa yang menimpanya sebelum ia kehilangan kesadaran, “Aku sudah ingat,” ucap Miya lesu. Matanya berkaca-kaca, “Tega sekali dia melakukan ini.”
“Bukankah pendekar aliran hitam memang begitu?” tanya Nara sinis.
Miya tersenyum hambar mendengar pernyataan Nara, “Kau mungkin benar, namun kami tidak sama dengan pendekar aliran hitam pada umumnya.”
“Lalu apa yang terjadi denganmu sekarang?”
Miya hanya terdiam. Wajahnya pucat pasi karena hampir kehabisan darah ketika mendapat luka tusukan dari cemeti milik Momo. Miya kemudian menundukkan wajah di depan Nara, “Perkenalkan, namaku Miya. Terima kasih karena telah menolongku,” ucapnya lirih.
Nara tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan menuju pintu keluar, “Aku Nara… Kau jangan berterima kasih padaku, bukan aku yang menolongmu, tapi Ketua Sin yang menyuruh aku membawamu kesini, beliau juga yang telah mengobatimu…” ucap Nara datar, “Tapi semua itu atas permintaan tuan muda Firon.” Ada gejala kebencian yang tersirat di balik sikap Nara yang dingin. Seakan-akan ia merasa takut jika Firon nantinya menyukai Miya.
Tiba-tiba, “Hai, apa yang sedang kau fikirkan?” Suara Firon terdengar di kepala Nara.
Nara memandang kemana-mana mencari sumber suara yang menyapa itu.
Firon tersenyum riang melihat Nara yang tampak kebingungan karena tidak berhasil menemukan dirinya, “Aku disini.”
“Dimana?”
“Di atas pohon bunga persik di depan pondok.”
Nara kemudian menajamkan pandangannya ke satu-satunya pohon bunga persik yang ada di dekat pondok bambu, “Apa yang sedang kau lakukan disitu?”
“Ayo kesini! lihat apa yang sedang aku lakukan!”
__ADS_1
Nara penasaran dan segera melangkah mendekati pohon bunga persik. Raut wajahnya menjadi pucat, namun ada sedikit senyum yang menghiasi bibirnya ketika melihat Firon sedang asyik menyantap sebutir buah bunga persik berwarna ungu, “Gawat…”
“Apanya yang gawat?” sahut Firon mulai khawatir.
“Buah itu beracun.”
“Apa maksud-“ Belum selesai perkataan Firon, ia tiba-tiba tak sadarkan diri dan jatuh dari dahan yang tadinya ia tempati bertengger.
Melihat hal itu, Nara melesat menyambut tubuh Firon sebelum menyentuh tanah. Sebagai gantinya, ia yang harus mengerang kesakitan karena tubuhnya tertindih oleh tubuh Firon.
Bukan hanya menindih tubuh Nara dan menyebabkan payudaranya tertindih, namun bibir Firon juga menyentuh bibir Nara, dan membuat rona wajah gadis itu menjadi memerah menahan malu.
Bukannya segera menyingkirkan tubuh Firon yang sedang menindihnya, Nara justru tidak bergerak sama sekali seakan-akan ia sangat menikmati ditindih dan dicium oleh Firon yang sedang tidak sadarkan diri.
“Cih.. Dasar perempuan tidak tahu malu, bisanya cuma mengambil kesempatan dalam kesempitan.” Miya berdecak kesal melihat apa yang sedang terjadi di depan matanya. Meski jaraknya agak jauh, Miya bisa melihat dengan jelas, karena posisi tempat Firon terjatuh pas mengarah ke pintu dan tempat ia berbaring.
Saat Nara menyadari tindakannya, ia menjadi malu sendiri dan segera menyingkirkan tubuh Firon dari tubuhnya.
‘Kau harus bertanggung jawab karena telah mengambil ciuman pertamaku.’ Nara tersenyum sendiri dan memandangi wajah Firon dengan sejuta makna.
Saat Miya masih larut dalam kekesalannya, bunyi seruling yang sangat familiar baginya mengusik gendang telinganya, “Seruling Iblis…? Ayah angkat…? Bagaimana mungkin?” Miya panik dan mencoba memaksakan diri untuk berdiri.
Belum sempat Miya melangkahkan kakinya, ia sudah terjatuh dan menyebabkan kebisingan sehingga menyita perhatian Nara yang sedang memandangi wajah Firon dengan hasrat yang menggebu-gebu.
Nara langsung berlari dan segera membantu Miya untuk naik ketempat pembaringannya.
“Apa yang ingin kau lakukan?” ucap Nara kesal.
“Kau tidak usah memperdulikan aku! Lebih baik kau segera menolong dia,” ucap Miya sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Firon. Ada kekesalan di balik nada bicaranya yang terdengar ketus.
“Dia akan baik-baik saja.” Nara membalas perkataan Miya dengan acuh tak acuh.
“Apanya yang baik-baik saja?” ucap Miya lantang.
Nara tidak menanggapi perkataan Miya, ‘Benar dugaanku, ternyata dia menyukainya.’
“Kenapa diam saja?! Cepat tolong dia dan persiapkan dirimu karena sebentar lagi akan ada kejadian yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya,” ucap Miya ketus.
__ADS_1
Nara tidak tahu arah pembicaraan Miya, “Apa maksudmu?”
“Apa kau tidak mendengar suara seruling itu?”
“Tentu saja aku mendengarnya! Apa kau mengira aku tuli, hah?! Tapi apa maksudmu tadi?”
Miya tersenyum lembut melihat reaksi Nara yang terlihat sedikit berlebihan.
“Suara ini… Adalah suara tiupan pertama yang mampu membuat orang yang mendengarnya terlena dan terbuai dalam sensasi kenikmatan surgawi, gelombang suaranya juga mampu membuat seseorang tenggelam dalam gejolak nafsu birahi yang amat dahsyat… kau tahu kenapa tadi aku membuat kebisingan?”
Nara tidak menjawab, ia hanya memandangi Miya dengan tatapan tajam.
“Seandainya tadi aku tidak segera membuat kebisingan, mungkin sekarang kau sedang asyik menyetubuhi dia tanpa kau sadari.”
“Omong kosong.” Nara berdecak kesal. Ia mencoba menutupi fakta bahwa ia memang sempat dikuasai hasrat birahi ketika berada di dekat Firon dan bersamaan dengan ia mendengar bunyi seruling itu.
“Seharusnya kau berterima kasih padaku,” ucap Miya sambil tersenyum mengejek ke arah Nara.
Nara tidak menanggapi, ia hanya membuang muka, ia tidak ingin melihat senyuman Miya yang ia nilai telah menjatuhkan harga dirinya.
“Nara, sebagai tanda balas budi, aku ingin memberi tahumu tentang rahasia Seruling iblis.”
Miya kemudian menceritakan secara singkat bahwa Seruling Iblis masih memiliki tiupan kedua dan tiupan ketiga. Tiupan kedua adalah tiupan yang mengeluarkan gelombang suara yang memekakkan telinga dan mampu menghancurkan seluruh persendian seseorang jika tidak memiliki cukup tenaga dalam untuk menahannya.
“Tiupan ketiga adalah tiupan pencabut nyawa, hanya orang-orang yang memiliki kesaktian yang sangat tinggi yang bisa lolos dari maut jika terperangkap di dalam gelombang suara tiupan ketiga itu.”
‘Sedahsyat inikah kekuatan Seruling Iblis?’ Nara berdecak kesal . penjelasan Miya sontak membuat hatinya diliputi kekhawatiran, ‘Berarti kami dalam masalah besar sekarang.'
“Nona, Ketua Sin menunggu anda di tepi hutan. Semua pendekar sudah berkumpul di sana.” Seorang pria yang tak lain adalah Kibuki tiba-tiba berdiri di depan pintu.
“Baik, aku segera ke sana.” Nara melangkah menuju pintu keluar, “Oya, tolong beritahu dia tentang masalah yang terjadi jika dia sudah bangun… Sejam lagi dia pasti bangun.” Nara melanjutkan langkahnya.
“Tunggu…” Miya menahan langkah Nara, “Jika ingin selamat dari Seruling Iblis, masukkan air ke dalam telingamu, dan biarkan air itu tetap di dalam! Hanya zat air yang mampu menahan gelombang suara Seruling Iblis.”
Nara tidak menanggapi, ia hanya tersenyum tipis, namun senyuman itu ia sembunyikan dari pandangan Miya.
“Dasar perempuan aneh.” Miya hanya bisa berdecak kesal melihat sikap dingin Nara yang kini sudah menghilang dari pandangannya.
__ADS_1