
“Benarkah kamu memiliki perasaan yang khusus terhadap perempuan yang dulu pernah kau jumpai itu?”
Aron mengerutkan dahi. Pertanyaan perempuan itu menimbulkan kecurigaan di hatinya.
“Aku bertemu dengannya hanya dua kali, namun pertemuan yang sangat singkat itu telah cukup membuatku selalu memikirkannya dan bahkan ia selalu hadir di dalam mimpiku. Tapi apa tujuanmu ingin mengetahui masalah pribadiku itu?" tanya Aron penasaran.
“Apakah perasaanmu tidak akan berubah jika kau bertemu dengan perempuan yang kau rindukan itu dalam kondisinya sudah seperti ini?” Perempuan misterius itu kemudian membuka penutup wajahnya.
Aron terdiam sejenak. kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. Perempuan yang selama ini mengisi relung hati dan pikirannya berdiri tepat di hadapannya.
“Ternyata benar dugaanku, kau adalah Dewi Rara...” Aron tersenyum ke arah Dewi Rara, “Dewi, kau adalah perempuan pertama yang mengisi hatiku dan akan selalu berada di hatiku dalam kondisi apapun. Bahkan ketika kau tidak membalas cintaku sekalipun, aku akan tetap memelihara cinta ini untuk selamanya,” ungkap Aron tanpa keraguan sedikitpun.
Dewi Rara bisa melihat ketulusan hati Aron yang terpancar jelas ketika mengungkapkan perasaan hatinya. Dewi Rara juga sebenarnya memiliki perasaan yang khusus terhadap Aron sejak pertama kali mereka bertemu. Namun ia tidak pernah menduga, Aron akan memiliki perasaan yang begitu mendalam terhadap dirinya.
“Jika kamu memang mencintaiku, maka buktikan padaku terlebih dahulu..!” ucap Dewi Rara dingin, “Dan tolong jangan beritahu siapapun tentang identitasku!” Dewi Rara kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi.
Aron hanya berdiri mematung memandangi perempuan yang ia cintai melangkah menjauhinya. Ia sangat bahagia dan sedikitpun ia tak peduli dengan kondisi wajah Dewi Rara saat ini. Ia hanya ingin selalu berada di sisi perempuan yang ia cintai itu.
**
Dewi Rara, Aron dan Tuan Ligo beserta orang-orang yang berasal dari kota Lombonggia, bahu-membahu membangun sebuah desa yang kemudian mereka namakan Desa Penyu. Mereka menggunakan nama Desa Penyu karena para warga sering menemukan banyak sekali induk penyu bertelur dan berkembang biak di sepanjang bibir pantai.
Berbekal ilmu pengetahuan yang dimiliki Dewi Rara, dari tahun ke tahun Desa Penyu berkembang dengan sangat pesat. Apalagi dengan dukungan Aron yang selalu berada disisinya, Dewi Rara tidak sulit membuat seluruh warga untuk patuh padanya.
Setelah melihat keseriusan Aron kepadanya selama tiga tahun, Dewi Rara kemudian memutuskan untuk menerima lamaran Aron untuk yang keempat kalinya. Dewi Rara dan Aron kemudian menikah dan dikaruniai seorang anak lelaki sehingga kehidupan mereka bertambah bahagia.
Setelah sepuluh tahun sejak Desa Penyu mulai dibangun. Desa itu kini telah menjadi sebuah kota yang besar. Ramai orang berdatangan ke Kota Penyu. Ada yang datang untuk berdagang dan ada pula yang datang untuk bermukim.
__ADS_1
**
Suatu hari, warga Kota Penyu dibikin heboh oleh kedatangan ratusan orang berseragam dan bersenjata lengkap. Puluhan orang lainnya menunggang kuda dengan pakaian yang agak berbeda dari mereka yang hanya berjalan kaki.
Rombongan itu kemudian memasuki area lapangan yang berada tepat di depan bangunan balai Kota Penyu tempat Dewi Rara menjalankan pemerintahannya.
“Perkenalkan, namaku Jenderal Lee. Aku diutus oleh Kaisar Liong penguasa Benua Kuning untuk menyampaikan Titahnya,” sapa Jenderal Lee sambil menarik sebuah gulungan dari punggung kuda yang ditungganginya.
“Titah Kaisar!” Jenderal Lee berteriak lantang sambil memandang tajam ke arah sekelilingnya.
Semua prajurit yang berdiri, sontak bersujud. Prajurit berkuda juga ikut menundukkan kepalanya.
Melihat sorotan mata Jenderal Lee yang sangat tajam ke arah para warga, seseorang diantaranya yang paham maksud tatapan Jenderal Lee itu juga ikut bersujud lalu diikuti yang lainnya.
“Setiap orang yang berpijak di bumi Benua Kuning, wajib menaati seluruh hukum yang dibuat oleh Kekaisaran Mojo tanpa terkecuali. Setiap Desa maupun kota yang berada di wilayah Benua Kuning, wajib hukumnya memberi upeti kepada Kekaisaran Mojo. Dan setiap orang yang melakukan pembangkangan akan dihukum dengan hukuman pancung bersama seluruh anggota keluarganya tanpa terkecuali."
“Jenderal Lee, perkenalkan, namaku Rara. Aku adalah pemimpin Kota Penyu!” sapa Dewi Rara yang baru saja muncul dari balik pintu balai Kota.
Mendengar ucapan Dewi Rara, Jenderal Lee hanya melemparkan tatapan tajam dan senyuman sinis ke arah Dewi Rara.
“Oww, ternyata pemimpin kota ini hanya seorang perempuan, yah?” jawab Jenderal Lee dengan nada mengejek sambil menggosok-gosok dagunya dengan jari telunjuk.
“Maaf Jenderal, bukankah tidak sepatutnya anda berkata demikian. Apalagi anda bisa melihat sendiri bagaimana keadaan kota ini. Ini adalah bukti dari keberhasilan seorang perempuan dalam memimpin sebuah kota," ucap Dewi Rara yang terlihat kesal dengan sikap Jenderal Lee yang meremehkan perempuan.
“Hahahahahaha.” Jenderal Lee terbahak-bahak sambil bertepuk tangan di atas kudanya.
“Kau jangan mencoba membantahku perempuan busuk! Kau tahu, aku bisa meratakan kota yang kau bangga-banggakan ini jika aku mau!” pekik Jenderal Lee murka.
__ADS_1
Dewi Rara tidak langsung bereaksi. Ia terlihat sedang menunggu seseorang.
“Hey kau, jangan kurang ajar terhadap perempuan!” Sebuah suara terdengar menggema di udara.
Jenderal Lee tiba-tiba berkeringat dingin, “Suara ini?” bisik batinnya.
Seorang Lelaki yang tak lain adalah Aron tiba-tiba berdiri tepat di hadapan Jenderal Lee.
Para prajurit yang berada tidak jauh di belakang Jenderal Lee terlihat bereaksi dan memasang posisi siap menyerang. Para prajurit berkuda juga melakukan hal sama. Mereka semua bisa merasakan bahwa Aron adalah orang yang berbahaya.
“Begitukah caramu bersikap, hah?!” Suara Aron kembali menggema di udara.
Jenderal Lee hanya terpaku memandangi Aron. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan saudara kandungnya di kota yang baru ia singgahi itu.
“Ka ... ka ... kau …?!” ucap Jenderal Lee sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Aron. Jenderal Lee terlihat sangat syok.
Semua prajurit menjadi sangat keheranan menyaksikan sikap Jenderal Lee yang nampak ketakutan.
Salah seorang diantara para penunggang yang berpakaian sama dengan pakaian Jenderal Lee memandu kudanya menghampiri Jenderal Lee sambil menatap Aron dengan tatapan tajam.
“Kau siapa, hah?! Berani sekali kau berkata lancang terhadap kami?!" teriak Lelaki itu.
Aron tidak bergeming di tempatnya. Ia bahkan tidak melirik orang itu sedikit pun.
"Tunggu apa lagi? Serang dia!" teriak Lelaki itu memerintah anak buahnya.
Para prajurit yang hendak menyerang Aron itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Mereka semua hanya bisa berdiri mematung dan mengucurkan keringat dingin. Lutut mereka terlihat gemetar. Seluruh persendian di tubuh mereka terkunci dan tidak bisa digerakkan sama sekali.
__ADS_1