
“Haaaahhhh.” Suara Noguchi histeris.
Teriakan Noguchi membuat Firon terperanjat dan segera melesat menghampiri Noguchi.
‘Ada apa?’ Tanya Firon ketika tiba di hadapan Noguchi.
Bukannya menjawab pertanyaan Firon, Noguchi malah mengarahkan jari telunjuknya ke arah depan. Tangannya nyaris menyentuh telinga Firon yang berdiri tepat di hadapannya.
Melihat tingkah Noguchi, Firon kemudian menoleh ke arah belakang dan menemukan hamparan gurun pasir yang amat luas. Ia kemudian mencoba menggunakan kekuatan matanya untuk melihat sejauh mana tepi seberang gurun pasir tersebut.
Setelah gagal menemukan apa yang ia cari, Firon kemudian melompat ke atas pohon yang cukup tinggi di belakangnya. Setelah ia sampai di puncak pohon itu, ia kemudian memicingkan matanya dan memandang ke arah gurun pasir menggunakan kekuatan matanya.
Firon mengerutkan dahi. Lagi-lagi ia tidak menemukan apa yang ia cari. Ia kemudian meloncat dari atas pohon dan menghampiri Noguchi yang duduk bengong memandangi gurun pasir.
Semangat Noguchi menjadi ciut. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia harus melakukan perjalanan di gurun pasir yang entah dimana ujungnya itu.
Firon kemudian mengambil sebuah bungkusan dari balik bajunya. Kali ini ia hanya mengambil satu buah gulungan dari dalam bungkusan itu.
‘Seharusnya pantai sudah tidak terlalu jauh, tapi kenapa aku tidak bisa melihat ujung dari gurun ini?’ Firon mengerutkan dahi. Peta yang dipegangnya menunjukkan bahwa gurun pasir yang ada di depannya itu tidaklah terlalu luas.
“Ada apa?”Tanya Noguchi
‘Coba kau perhatikan peta ini?’ Firon merapatkan ujung jari telunjuknya ke titik tertentu di dalam peta.
“Kalau dilihat dari peta, Gurun pasir ini tidak begitu luas dan aku yakin, kita mampu menempuhnya hanya dalam beberapa jam saja” Ucap Noguchi gembira.
‘Justru itulah masalahnya, kekuatan mataku seharusnya bisa menjangkaunya. Tapi aku sama sekali tidak melihat tepian dari gurun pasir ini!’ Firon mengungkapkan.
“Apa maksudmu?” Tanya Noguchi penasaran.
‘Ada yang aneh dengan gurun pasir ini!’ Jawab Firon sambil menggulung kembali peta miliknya. Ia lalu memasukkan peta itu kembali ke dalam bungkusan dan menyimpannya di balik bajunya.
__ADS_1
“Saudara Firon, bagaimana kalau kita istirahat dulu di tempat ini? Sebentar lagi malam akan tiba, besok pagi baru kita lanjutkan perjalanan! Bagaimana?” Ucap Noguchi memberi saran. Terlihat keraguan di wajahnya.
‘Baiklah’ Jawab Firon singkat.
Sinar jingga mulai membias di ufuk barat. Sang mentari sedang menyembunyikan separuh wajahnya di balik tumpukan pasir gurun. Setidaknya itulah yang tampak di depan mata Firon. Ia hanya duduk melamun. Entah apa yang dia fikirkan. Kegelisahan amat jelas terlukis di wajahnya.
Noguchi menghelah nafas panjang melihat sahabatnya yang hanya duduk terpaku memandang langit jingga yang sudah mulai redup.
“Apa yang sedang kau Fikirkan? Setidaknya, bantu aku mengumpulkan ranting kayu untuk perapian! Malam sudah hampir tiba!” Ujar Noguchi.
Firon tersentak. Ia tersadar dari lamunannya. Ia kemudian beranjak dari duduknya dengan gerakan lesu. Ia memungut ranting kayu yang ia jumpai. Wajahnya datar. Bahkan saat Noguchi tersenyum ke arahnya, ia tidak bereaksi sama sekali.
Tiba-tiba, perut Noguchi berbunyi. Sebuah tanda bahwa ia harus segera mengisi perutnya yang kosong. Ia tersenyum canggung.
“Waduh, kau tidak bisa diajak kompromi ya?” Noguchi menggerutu. Ia mengelus-elus perutnya yang baru saja mengeluarkan bunyi.
Firon yang tadinya memasang wajah lesu, langsung bereaksi mendengar mendengar bunyi perut Noguchi. Ia tersenyum dan menghampiri Noguchi.
Mendengar Firon hendak mencari makanan, Noguchi hanya tersenyum sambil mengangkat tangannya sembari mengacungkan jari jempolnya ke arah Firon sebagai tanda setuju.
Firon kemudian melangkah meninggalkan Noguchi yang bersandar di batang pohon.
‘Aneh, tidak ada seekor pun binatang di tempat ini. Kemana mereka?’ Firon yang seharusnya bisa dengan mudah menemukan binatang untuk diburu menggunakan pendengarannya, menemukan fakta bahwa tidak ada seekorpun makhluk bernyawa di tempat itu selain mereka berdua. Bahkan serangga sekali pun tidak ada sama sekali.
‘Bagaimana ini?’ Gumamnya.
Saat ia berfikir keras untuk mengetahui apa misteri di balik keanehan itu, suara dahan pohon mengusik pendengarannya. Firon kemudian mencari sumber suara tersebut.
Puluhan sosok manusia melesat dari satu dahan ke dahan pohon lainnya. Mereka begitu cepat. Meski cukup sulit, Firon akhirnya bisa melihat bahwa puluhan sosok itu menggunakan topeng.
‘Gawat, mereka ke arah saudara Nogu’ Firon kemudian bergegas mengejar para manusia bertopeng itu.
__ADS_1
Karena jarak antara para manusia bertopeng itu dengan Noguchi sudah begitu dekat, Firon tidak sempat mendahului mereka tiba di dekat Noguchi.
Noguchi yang saat itu sedang merusaha menyalakan api, terperanjat bukan main. Puluhan sosok manusia bertopeng tiba-tiba mengepungnya.
“Mau apa kalian?” Bentak Noguchi. Ia mencoba menyembunyikan ketakutannya.
“Besar juga nyalimu anak muda! Padahal sebentar lagi riwayatmu akan tamat” Suara sangar dari balik topeng terdengar menggertak Noguchi.
Sosok yang memiliki topeng yang agak berbeda dari yang lainnya perlahan menghampiri Noguchi yang sudah tak mampu menyembunyikan ketakutannya.
Ketika Sosok manusia bertopeng itu tinggal beberapa langkah dari Noguchi. Ia tiba-tiba melompat mundur puluhan langkah. . Saat hendak menangkap Noguchi, ia tiba-tiba merasakan sebuah kekuatan menekan seluruh persendiannya.
“Siapa itu? Tampakkan wajahmu!” Teriak Manusia bertopeng itu lantang
Firon tiba-tiba muncul dari atas pohon yang disandari oleh Noguchi sebelumnya. Ia berdiri membelakangi Noguchi.
‘Tetap di belakangku!’ Seru Firon kepada Noguchi.
“Hemm ternyata seorang anak muda ya?” Ucap Manusia bertopeng itu meremehkan.
“Tetua, perhatikan mata pemuda itu!” Bisik seorang manusia bertopeng lainnya.
Sang manusia bertopeng yang dipanggil tetua itu mengerutkan dahi dan mulai mengambil sikap waspada.
‘Mungkinkah itu? Jurus Mata Elang?’ Ekspresi ketakutan mulai nampak di wajah tetua manusia bertopeng itu.
Suasana menjadi hening sejenak. Semua larut dalam fikirannya masing-masing.
“Anak muda, mohon maafkan kami jika sudah lancang! Perkenalkan, namaku Yongdai. Aku adalah tetua Kelompok Iblis Gunung!” Ungkap Manusia bertopeng itu sambil memberi hormat dan menampakkan wajah penyesalan.
Suasana kembali hening. Firon tidak bereaksi sama sekali. begitu pula puluhan manusia bertopeng itu hanya terpaku di tempatnya masing-masing.
__ADS_1
Hanya Noguchi yang tampak terkejut mengetahui bahwa manusia bertopeng yang ada di hadapannya itu adalah Kelompok Iblis Gunung. Ia juga heran melihat perubahan sikap Yongdai sang tetua Kelompok Iblis Gunung yang tiba-tiba menjadi lembut.