Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 46 - Serangan Lima Perisai Emas V


__ADS_3

Di saat anggota Sekte Lembah Seribu Bunga sedang melancarkan aksinya, ratusan pisau kecil melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.


Meski beberapa orang berhasil menghindar dan hanya mendapatkan luka goresan dari pisau-pisau itu, namun beberapa buah pisau berhasil menancap ke tubuh beberapa orang anggota sekte Lembah Seribu Bunga.


"Waspada!" teriak Senjiro.


Baru saja mendapatkan peringatan dari Senjiro, lima orang anggota sekte Lembah Seribu Bunga yang di tubuhnya tertancap pisau tiba-tiba terkapar di tanah.


"Gawat... pisau-pisau itu beracun." teriak Akio. Ia menyadari tubuhnya tiba-tiba melemah.


Tidak lama kemudian, lima orang pendekar yang tadinya hanya mendapat luka goresan tiba-tiba berlutut sebelum tersungkur tak sadarkan diri.


Senjiro segera menghampiri Akio dan membantunya mengatasi racun yang kini bersarang di tubuh Akio.


Hanya dengan mengalirkan sedikit tenaga dalam kepunggung Akio, Senjiro berhasil mengeluarkan racun sebelum memasuki jantung Akio.


Akio terbatuk dan mengeluarkan darah berwarna hitam dari mulutnya.


"Segera tinggalkan tempat ini jika kalian masih ingin hidup!"


Suara Sin Toru menggema dan menyita perhatian semua orang.


Selain Otai, Goemon dan Senjiro,semua pendekar yang ada di tempat itu berkeringat dingin ketika mendapati orang yang sedang berbicara itu ternyata sedang melayang di udara.


Otai mengerutkan dahi, "Goemon!"


Goemon segera menoleh ke arah Otai, "Ada apa, Tetua?"


"Bantu aku menghadapi orang itu," ucap Otai sambil menunjuk ke arah Sin Toru.


"Baik, Tetua!" Goemon sebenarnya agak geli mendengar Otai meminta bantuan. Yang ia kenal Otai adalah orang yang tidak pernah gentar dengan siapapun kecuali dengan Fujiwara Kenkai.


"Orang itu kelihatannya sangat kuat, namun aku yakin akan sangat mudah mengalahkannya jika kita menghadapinya berdua." Otai segera maju menghampiri Sin Toru yang baru saja mendaratkan kakinya di tanah.


Sin Toru, Ryusa, Nara, Sazaki, Kibuki dan Puluhan orang dari Kaum Hidden kini berada pada posisi yang hanya beberapa langkah dari posisi anggota Lima Perisai Emas berdiri.


"Hei, pak tua! Apa kau mengira kami akan takut setelah melihat trik murahanmu itu, hah?!" pekik Otai.


"Kalau begitu, kau jangan menyesal." Sin Toru kemudian mengeluarkan sebuah benda kecil menyerupai lidi berukuran satu jengkal dan berwarna emas dari balik bajunya, "Apa kalian tau apa ini...?"

__ADS_1


Otai dan Goemon yang berada paling dekat jaraknya dengan Sin Toru mengerutkan dahi dan mulai berkeringat dingin.


"Tongkat Penyanggah Langit?" Mata Otai dan Goemon terbelalak ketika benda kecil berwarna emas itu perlahan-lahan membesar hingga berukuran seperti manusia, namun tingginya sepanjang lima meter.


Senjiro yang berada agak jauh dari posisi Otai berdiri tidak dapat menahan diri dan segera bergabung dengannya.


"Bukankah Tongkat Penyanggah Langit hanya ada dalam legenda?" Senjiro begitu takjub ketika memandangi Tongkat Penyanggah langit dari dekat.


Terlihat ukiran-ukiran indah pada seluruh sisi tongkat yang berwarna kuning keemasan itu.


"Sekarang kalian akan terkubur di tempat ini selamanya!" teriak Sin Toru sambil mengayungkan Tongkat Penyanggah Langit.


Ketiga tetua itu melompat mundur sejauh puluhan langkah untuk menghindari sapuan tongkat milik Sin Toru.


meski mereka tidak terkena langsung, namun benda yang terkena imbas dari pukulan tongkat itu menghujani mereka walau tidak membuat mereka terluka.


Sementara itu, Ryusa, Nara, Sasaki dan Kibuki menghadapi para tetua yang tersisa.


Puluhan orang dari Kaum Hidden juga tidak tinggal diam. Mereka mati-matian memerangi para pendekar dari pihak lawan.


Sin Toru cukup kesulitan menghadapi tiga orang pendekar bulan sekaligus. Nafasnya sudah mulai saling memburu. Setelah melakukan pertukaran ratusan jurus dengan tiga tetua itu, stamina Sin Toru semakin melemah.


'Kalau begini terus, aku akan kehabisan tenaga sebelum mengalahkan mereka' Sin Toru berdecak kesal. Ia tidak menyangka Tongkat Penyanggah Langit akan menguras tenaga dalamnya dengan begitu cepat.


"Oe pak tua, kenapa diam saja? Apa kau ingin menyerah?" ucap Otai sambil tersenyum licik.


Selain Otai yang masih terlihat bugar, Goemon dan Senjiro justru sudah terlihat lemah. mereka berdua sudah mendapatkan cukup banyak luka pada tubuh mereka.


'Seandainya aku masih punya cukup tenaga dalam, pasti akan mudah mengalahkan mereka.' Sin Toru mulai berfikir keras, " Hanya ada satu cara."


Sin Toru kemudian menggunakan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa.


"Jurus Penghancur Gunung."


Sin Toru kemudian melakukan sedikit gerakan lembut sebelum akhirnya ia mengayungkan tongkatnya ke arah Otai dan kedua rekannya.


Bumi bergetar. Puing-puing pepohonan dari sisa kebakaran terhempas jauh meninggalkan tempatnya. Bahkan pukulan itu menciptakan lubang sedalam belasan meter dan luasnya seperti danau.


Semua pendekar yang sedang bertarung menghentikan pertarungannya dan segera menghindar dari dahsyatnya pukulan itu.

__ADS_1


Bahkan orang-orang yang sedang berada di Kota Hidden bisa merasakan getarannya.


Sin Toru terkulai lemas. Tongkat Penyanggah Langit beransur kembali ke ukurannya semula.


Wajah para pendekar Lima Perisai Emas tertunduk lesu. Mereka yakin bahwa para tetua yang mereka andalkan itu telah tewas oleh pukulan tadi.


Saat para pendekar itu sudah kehilangan harapan dan hendak menyerah, tiba-tiba beberapa orang dari mereka melihat pergerakan dari dasar lubang bekas pukulan tadi.


Perlahan-lahan permukaan tanah bergerak seperti ada sesuatu yang hendak keluar dari sana.


Benar saja, sesosok manusia yang tak lain adalah Otai itu tiba-tiba meloncat dari bawah sambil memegang jasad Goemon dan Senjiro.


Rupanya Otai menggunakan tubuh Goemon dan tubuh Senjiro untuk melindungi tubuhnya dari kekuatan Tongkat Penyanggah Langit yang maha dahsyat.


Semua pendekar dari tiga sekte yang masih tersisa hanya bisa berdecak kesal melihat perbuatan Otai, namun disisi lain, kemunculan Otai menjadi angin segar buat mereka.


Otai melesat menghampiri Sin Toru yang kini tak berdaya lagi. Otai mengayungkan pedangnya hendak memenggal leher Sin Toru. namun, "Prakk." sebuah pisau kecil melesat menghantam pedang Otai sebelum sempat menyentuh leher Sin Toru.


Otai mengalihkan pandangannya ke arah Sazaki. Ia sangat yakin kalau pisau itu berasal dari Sazaki.


"Hohoho." Otai melangkah sambil tertawa ke arah Sazaki, "Kalau begitu kau yang harus mati duluan."


Sazaki menangkis serangan Otai dengan bersusah payah. Terlihat jelas perbedaan kekuatan mereka.


Melihat Sazaki terpojok, Ryusa meninggalkan pertarungannya dan segera membantu Sazaki.


Bukannya khawatir, Otai justru senang melihat kedatangan Ryusa, "Bagus, aku akan menghabisi kalian berdua sekaligus."


Otai kemudian mengeluarkan jurus andalannya.


"Jurus Tapak Es!"


Otai mendorong kedua telapak tangannya ke arah Ryusa dan Sazaki yang sedang berdiri berdampingan.


Keduanya kemudian menyambut serangan tapak dari Otai dengan dengan tapak mereka.


Tapak kanan Otai bertemu dengan tapak Kanan Ryusa, sedangkan tapak kiri Otai bertemu dengan tapak kiri Sazaki.


Setelah beberapa saat tapak mereka bertemu, Ryusa dan Sazaki terpaksa segera menarik tapaknya karena merasakan tapak mereka membeku dan mati rasa.

__ADS_1


"Jurus ini, bukankah jurus ini yang telah menewaskan mendiang kaisar?!" ucap Ryusa.


"Benar... Sebentar lagi seluruh tubuh kalian akan membeku dan kalian akan segera menyusul Nogugato ke neraka," jawab Otai sambil sambil tersenyum puas.


__ADS_2