Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 7 – Mutiara Kehidupan


__ADS_3

.“Ternyata salah satu dari kapala monster itu memiliki racun yang amat mematikan.” Dewi Rara berdecak kesal sambil meringis kesakitan.


Wajah Dewi Rara bagian sebelah kiri terlihat melepuh. Terlihat seluruh bagian bola matanya menghitam.


“Rara, mundur dulu! Biarkan ayah mengobati matamu terlebih dahulu!” Terdengar  Sin Toga kembali memberi instruksi.


Saat Dewi Rara hendak mundur, Monster Naga kembali melancarkan


serangan. Salah satu dari kepala monster itu yang tadinya belum pernah menyerang, kali ini menyemburkan cairan yang berubah menjadi tanah yang keras ketika mengenai kedua kaki Dewi Rara.


Dewi Rara tak mampu bergerak, Ia mencoba melepaskan diri dari jeratan monster itu namun tidak berhasil.


Ketika ketujuh kepala monster itu terlihat hendak menyemburkan sesuatu dari mulutnya bersamaan, Sin Toga kembali memberi instruksi, “ Gunakan Mutiara Kehidupan!”


Dewi Rara kemudian Mengeluarkan Mutiara Kehidupan. Ketujuh Mutiara


itu kemudian mengeluarkan cahaya warna-warni yang amat menyilaukan.


Mutiara-mutiara itu kemudian menembakkan cahayanya ke arah monster itu.


Terjadi letusan cahaya yang amat dahsyat.


Sang monster naga yang tadinya hendak menyerang dengan kekuatan penuh tiba-tiba mundur ke posisinya semula dan kembali menjadi patung.


“Sepertinya Memang tak ada pilihan lain!” ucap Sin Toga ketika menghampiri  Dewi Rara.


“Apa maksud ayah?” tanya Dewi Rara sambil memegang matanya yang terluka.


“Nanti ayah ceritakan,” jawab Sin Toga sambil memeriksa keadaan anaknya. Terlihat kesedihan dan penyesalan yang amat mendalam dari mata Sin Toga.


“Matamu tidak dapat disembuhkan lagi, nak,” ucapnya lirih. Matanya terlihat berkaca-kaca.


“Ini semua salah ayah.” Sin Toga kemudian menyampaikan penyesalannya karena tidak menyuruh Dewi Rara menggunakan Mutiara Kehidupan sejak awal.

__ADS_1


Sin Toga menceritakan bahwa, kenapa ia tidak menyuruh Dewi Rara menggunakan Mutiara Kehidupan sejak awal, adalah karena jika Mutiara Kehidupan digunakan untuk melawan monster itu, maka hal itu akan mengurangi separuh dari kekuatan Mutiara Kehidupan. Dan hal itu juga akan berdampak besar terhadap keseimbangan alam. Karena jika menghancurkan Altar Naga menggunakan Mutiara Kehidupan dengan kekuatannya yang hanya separuh akan mengakibatkan bencana alam yang amat besar.


“Ayah tidak perlu menyesali semua yang sudah terjadi, ini mungkin sudah takdir,” ucap Dewi Rara mencoba membuat ayahnya tidak merasa bersalah.


“Kamu benar, Sepertinya ini memang sudah takdir,” ucap Sin Toga sambil menghelah nafas panjang.


Kegundahan benar-benar menguasai batin Dewi Rara. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan luka yang akan menjadi aib bagi Kerajaan Langit. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi para penghuni langit jika melihat wajahnya yang kini dalam keadaan cacat.


“Apakah penduduk langit masih mau menerimaku dengan kondisi yang seperti ini?”


“Apakah aku akan sanggup menjadi satu-satunya penghuni langit yang buruk rupa?”


“Apakah aku akan menjadi aib bagi kerajaan langit?”


Berbagai pertanyaan membebani pikiran Dewi Rara. Ia tertunduk lesu.


“Bagaimana aku akan berhadapan dengan Pangeran Yong?”


“Ahh, buat apa aku memikirkannya. Kan, aku tidak mencintainya.”


Dewi Rara sebenarnya tidak ingin bertunangan dengan Pangeran Yong. Di hatinya sama sekali tidak ada rasa cinta. Namun ia tidak punya pilihan lain, karena Pangeran Yong adalah putra dari Raja Langit.


“Ahh, hal ini akan menguji cintanya. Kalau dia benar-benar mencintaiku, pasti dia akan menerimaku apa adanya.” Dewi Rara mencoba menghibur hatinya. Namun ia tak sanggup menyembunyikan kegalauan yang menguasai batinnya.


Di sisi lain, Sin Toga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutnya seakan terkunci menyaksikan putrinya dirundung kesedihan. Dia paham betul betapa besar arti sebuah kecantikan bagi semua perempuan di Kerajaan Langit.


“Ayah, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”


Lamunan Sin Toga terhenti mendengar pertanyaan putrinya. Ia kemudian mencoba tersenyum lalu berkata, “Selanjutnya kita hancurkan ketujuh Altar itu. gunakan Pedang Langit dan Mutiara kehidupan!”


“Sekarang kamu letakkan satu buah mutiara di masing-masing Altar!” ucap Sin Toga mengarahkan putrinya.


“Selanjutnya, kamu berdiri menghadap Patung Naga Berkepala Tujuh itu dan hunuskan Pedang Langit ke atas dan tebaskan ke arah patung itu jika cahaya Mutiara Kehidupan sudah menyatu dengan Pedang Langit!” sambung Sin Toga.

__ADS_1


Dewi Rara melaksanakan semua arahan Sintoga tanpa pernah membantah.


Tujuh Altar Naga kini diapit oleh Dewi Rara dan Patung Naga yang saling berhadapan. Terlihat Tujuh Mutiara Kehidupan berubah menjadi bola cahaya yang berbeda-beda warnanya. Cahayanya sangat menyilaukan. Cahaya dari masing masing Mutiara itu kemudian menyatu lalu beredar ke ujung  Pedang Langit dan kemudian menyatu.


Pedang Langit tiba-tiba berubah bentuk menjadi lebih besar dan lebih panjang. Bentuknya juga benar-benar berbeda dari sebelumnya.


Dewi Rara berdecak kagum menyaksikan perubahan pedangnya. Pedang langit terlihat sangat indah.


Ketika cahaya dari Mutiara Kehidupan telah menyatu dengan Pedang Langit, Dewi Rara kemudian memekik, “Musnahlah!”


Dewi Rara menebaskan Pedang Langit ke arah  patung naga.


“Mbbusss.”


Patung Naga dan ketujuh Altar yang berada diruangan itu hancur berkeping-keping. Bersamaan dengan itu, lantai tempat Dewi Rara berpijak bergetar hebat. Dinding dan langit-langit gua terlihat mulai runtuh.


Tanpa menunggu arahan Sintoga, Dewi Rara segera melesat keluar meninggalkan tempat yang sudah mulai runtuh itu. Beruntung Dewi Rara berhasil keluar dengan selamat dari gua itu.


Ketika sudah sampai di mulut gua, ia kembali disuguhkan dengan pemandangan yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Awan hitam yang sebelumnya hanya berputar-putar di atas area Gerbang Naga, kini menyebar memenuhi seluruh cakrawala.


Keadaan menjadi gelap gulita, petir menyambar di mana-mana. Bukit


batu tempat melekatnya kedua Pilar Gerbang Naga bergetar sedemikian hebatnya. Gerbang yang tadinya menjadi tempat keluar masuknya Para Naga berubah menjadi  pusaran angin hitam yang menghisap seluruh naga yang ada di area Gerbang Naga, lalu kemudian menghisap semua naga yang berada di bumi tanpa tersisa.


Pusaran angin hitam itu benar-benar telah menghisap habis semua naga yang ada di bumi. Namun sungguh ajaib, tidak satupun benda bumi yang terhisap olehnya.


Gerbang Naga beserta bukit tempatnya bersandar kemudian tenggelam ditelan bumi.


Beberapa saat kemudian, hujan lebat mengguyur bumi dengan intensitas yang amat besar. Bahkan besarnya butiran-butiran air hujan yang turun itu dapat melukai kulit manusia biasa jika terkena langsung.


Seluruh permukaan bumi kini benar-benar diguyur hujan. Kilatan petir yang menyambar-nyambar di mana-mana, membuat suasana semakin mencekam.


“Ayah, kamu di mana?” teriak Dewi Rara.

__ADS_1


Dewi Rara sedikit terperanjat ketika menyadari air hujan yang tadinya mengguyur seluruh tubuhnya tiba-tiba tidak mengenainya sama sekali. Dalam waktu yang bersamaan, Sin Toga muncul di dekat Dewi Rara.


“Ayah, kenapa air hujan tidak mengenai dirimu?” tanya Dewi Rara sambil tersenyum.


__ADS_2