
Saat Watanabe masih sibuk memikirkan kuda-kudanya, Suasana tiba-tiba kembali berubah.
Hamparan pasir yang tak nampak tepinya itu kini berubah menjadi hutan rimbun yang dipenuhi pohon-pohon raksasa.
'apa lagi ini?' batin Watanabe. Ia sempat berfikir bahwa keadaan sudah kembali menjadi realita, namun terbersit kecurigaan di hatinya tatkala melihat ada jurang terjal tepat disisi barat tempat mereka berdiri.
"Bagaimana, benar bukan?" Suara yang tak lain berasal dari mulut Sazaki itu kembali menggema di udara.
"Tetua Sazaki, lebih baik kita segera meninggalkan tempat ini, api besar sudah sangat dekat dari sini." Ryusa bersama lima orang Kaum Hidden menghampiri Sazaki.
"Bagaimana dengan misi anda?" tanya Sazaki.
"Aku sudah menghabisi peniup seruling itu." jawab Ryusa.
"Bagaimana dengan mereka?" tanya Sazaki sambil menunjuk ke arah Watanabe.
"Mereka akan mati dilahap api jika tetap bersih keras berada di dalam formasinya itu."
Sazaki tersenyum mendengar penjelasan Ryusa.
Di sisi lain, Watanabe tidak bisa memungkiri bahwa ia cukup ngeri melihat jurang terjal yang berada di dekatnya. Lututnya sedikit gemetar tatkala memandang ke arah bawah namun tidak menemukan dasar dari jurang itu.
"Ya sudah kalau kalian tidak percaya, kalian boleh tetap di dalam formasi bodohmu itu! Aku akan menunggu sampai kalian mau membukanya!"
Teriakan Sazaki membuat Watanabe dan semua rekannya berdecak kesal.
"Tetua, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Hidate.
"Tetap pada posisi! Kita tunggu waktu yang tepat untuk membuka formasi ini."
Hidate dan para pendekar lainnya hanya bisa menurut dan tetap pada posisinya masing-masing.
Berbeda dari para pendekar Sekte Gunung Besi itu yang masih tetap pada posisinya masing-masing, Sazaki, Ryusa dan para pendekar Kaum Hidden justru meninggalkan posisinya dan melesat menuju ke tempat Sin Toru berada.
**
Otai tersenyum. Ia merasa puas melihat tindakan para pendekar dari Sekte Lembah seribu bunga itu.
Berbeda dengan Otai yang terlihat senang, Goemon justru mendapatkan firasat buruk. Sejak tadi ia tak lagi mendengar bunyi Seruling Iblis, "Kenapa Zen Kai menghentikan bunyi serulingnya...? Atau jangan-jangan dia telah...?" Goemon cepat-cepat membuang prasangka buruknya, "Ah, tidak mungkin semudah itu dia dikalahkan."
Di waktu yang sama Ryusa dan Sazaki tiba di tempat Sin Toru dan segera melaporkan situasi yang mereka ketahui.
__ADS_1
"Bagus..." Sin Toru terlihat senang menerima laporan dari Ryusa dan Sazaki, "Tapi bagaimana dengan kondisi hutan?"
"Api dengan cepat melahap hutan, dan sudah lebih dari separuh hutan ini telah terbakar. Mungkin hanya dalam hitungan menit api itu akan segera sampai di sini," ucap Ryusa.
"hemm." Sin Toru menghela nafas panjang. Terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya.
"Apa kita akan membiarkan mereka membakar habis hutan ini hingga habis," tanya Sazaki lirih.
Sin Toru sekali lagi menghela nafas panjang, "Seandainya kita tahu mereka akan membakar hutan, tentu dari awal kita tidak akan membiarkan mereka mendekati hutan..." Sin Toru memandangi langit yang kini dipenuhi asap hitam yang berasal dari kebakaran hutan, "Belum terlambat untuk menghentikan mereka... Kumpulkan semua tetua! Kita serang mereka bersama-sama!"
Ryusa dan Sazaki segera mengumpulkan para tetua Kaum Hidden.
Tidak lama kemudian, Ryusa, Nara, Sazaki, Kibuki dan seluruh tetua Kaum Hidden berkumpul di satu tempat.
"Dengar para tetua...! Hari ini kita tidak punya pilihan selain mencegah mereka merusak seluruh hutan... karena hutan ini merupakan benteng pertama dan terakhir Kota Hidden, untuk itu mari kita pertaruhkan nyawa demi menjaga hutan ini."
Para tetua Kaum Hidden bersorak lantang bak burung gagak yang hendak menyantap bangkai.
"Sekarang saatnya kita menghentikan mereka! Ingat... jangan bertindak gegabah! Gunakan semua kekuatan dan trik yang kalian miliki!" tutup Sin Toru. Ia kemudian melayang di udara dan terbang ke atas puncak pohon.
Ryusa, Nara, Sazaki dan Kibuki mengikuti Sin Toru dengan melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Mereka tidak punya kemampuan untuk terbang seperti yang dilakukan oleh Sin Toru.
Selain Ryusa dan Sazaki yang nafasnya masih stabil, nafas Nara dan Kibuki terlihat sedikit memburu karena memaksakan diri untuk mengimbangi kecepatan kedua tetua yang ada di depannya.
"Baik, Ketua." Sazaki kemudian memberi hormat lalu melirik Ryusa, Nara dan Kibuki, "Mungkin Tetua Ryu sudah punya pengamatan tersendiri, namun tidak bagi Nona Nara dan Kibuki."
Sazaki kemudian menjelaskan kekuatan personal dari setiap pendekar pihak musuh, menurut ilmu tenaga dalam yang terpancar dari aura mereka masing-masing.
Nara dan Kibuki terlihat syok mendengar penjelasan dari Sazaki.
"Jadi bagaimana kita akan menghadapi mereka, Ketua?" tanya Nara.
"Aku sudah punya rencana." Sin Toru kemudian menjelaskan bahwa para pendekar yang berada pada tingkat pendekar bulan akan ia hadapi sendiri.
"Untuk pendekar bumi, biar aku dan Tetua Ryu yang menghadapinya," sela Sazaki.
Ryusa tersenyum, insting bertarungnya mengatakan bahwa sebentar lagi ia dan Sazaki akan melewati suatu pertarungan yang akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
"Bagaimana dengan kami?" sela Nara.
"Kalian berdua jangan mendekati para pendekar bumi, apalagi pendekar bulan...! Kalian hanya akan menjadi hambatan," ucap Sin Toru tegas.
__ADS_1
"Baik, Ketua." Nara dan Kibuki memberi hormat.
**
"Oee... Bangun!" teriak Miya. Ia mulai khawatir karena Firon belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari pingsannya.
Miya kemudian memaksakan diri melangkah menghampiri Firon.
Saat Miya tinggal selangkah mendekati Firon, tiba-tiba kakinya tersangkut di akar pohon bunga persik dan mengakibatkan dirinya tersungkur tepat diatas tubuh Firon.
Miya buru-buru mengangkat kepalanya dari dada Firon. Ia tidak ingin ketika Firon membuka mata, Firon melihat kepalanya sedang bersandar di dada Firon.
Kekhawatiran Miya menjadi kenyataan, Firon yang baru saja tersadar dari pingsannya menemukan kepala Miya sedang berada di atas dadanya.
Firon dan Miya sontak bergerak dan saling menjauh.
"Apa yang kau lakukan padaku?" teriak Miya. Ekspresi wajahnya menjadi sangat buruk.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu!" balas Firon. Ekspresi wajahnya justru terlihat senang, senyuman menghiasi wajahnya.
Miya memalingkan wajah dan tak ingin melihat senyuman Firon yang penuh makna.
"Atau..." Firon menunjuk wajah Miya, "Jangan-jangan kau-?"
"Jangan-jangan apa?" potong Miya. Ekspresi wajahnya bertambah buruk.
"Dasar perempuan genit," ucap Firon sambil membersihkan tubuhnya.
Tiba-tiba Miya menyadari sesuatu. Refleks ia mendekati Firon dan langsung memegang dagunya.
"Apa yang kau lakukan?" Firon sontak kebingungan dan berusaha melepaskan pegangan tangan Miya di dagunya.
"Ucapkan sekali lagi...!" Ekspresi wajah Miya berubah menjadi senang.
"Apa yang ka-" Belum habis Firon mengucapkan kalimat yang ingin ia ucapkan, tiba-tiba ia menyadari sesuatu tentang dirinya
"Kau sudah bisa bicara!" Miya berteriak kegirangan.
Firon yang awalnya sangat senang mengetahui dirinya sudah bisa bicara, kini mengerutkan dahi karena melihat tingkah Miya yang terlihat aneh baginya.
"Kenapa kau begitu senang?" tanya Firon datar.
__ADS_1
Miya sontak diam dan memutar badan membelakangi Firon. Semangatnya langsung hilang setelah mendengar ucapan Firon.
'Iya, yah? kenapa aku bisa sesenang ini, padahal...' Miya baru menyadari kalau ternyata pria yang ada di depannya itu adalah seorang musuh.