
Ketika Ryusa dan Sazaki sibuk menghadapi Otai, Nara dan Kibuki beserta para anggota Kaum Hidden sudah mengalami luka-luka yang cukup serius di sekujur tubuh mereka.
"Nampaknya kalian sudah kelelahan..." Akio tersenyum lebar ke arah Nara, "Aku mungkin akan mengampuni kalian, tapi kalian harus menuruti perintahku."
"Cihhh...!" Nara meludah ke tanah, "Aku tidak akan kalah dari orang rendahan seperti kalian." Nara kembali melancarkan serangannya ke arah Akio.
Sementara itu, Kibuki dan beberapa orang anggota Kaum Hidden tengah berjuang mati-matian menghadapi beberapa orang pendekar dari sekte Mutiara Hitam.
Kibuki sangat kesulitan menghadapi dua orang tetua dari sekte Mutiara Hitam. Sekujur tubuhnya telah mengalami luka-luka yang membuatnya nyaris tak dapat berdiri.
Dua orang tetua itu tiba-tiba menghilang dari pandangan Kibuki. Namun hanya berselang satu detik, kedua tetua itu muncul di samping kiri dan kanan Kibuki. Mereka berdua berhasil mendaratkan tendangan dan pukulan ke tubuh Kibuki.
Kibuki terlempar jauh dan memuntahkan darah segar dari mulutnya. Ia tetap berusaha bangkit, namun ia harus menggunakan pedangnya untuk membantunya berdiri.
Tidak jauh dari tempat Kibuki berada, Otai yang merasa sudah di atas angin melemparkan senyuman lebar ke arah Ryusa dan Sazaki.
"Lebih baik kalian menyerah sekarang! Apa kalian tidak melihat teman-teman kalian itu?!" Otai menunjuk ke arah Nara dan Kibuki yang sedang terluka parah.
Ryusa dan Sazaki hanya bisa berdecak kesal ketika memandangi Nara dan Kibuki yang kini sudah tak berdaya.
"Para tetua Kaum Hidden juga sudah tidak berdaya," batin Ryusa ketika memandangi para Kaum Hidden di kejauhan.
"Aku bisa mengampuni nyawa kalian, tapi serahkan si Noguchi itu padaku," ucap Otai sambil tersenyum licik.
"Lancang...! Kalian Klan Fujiwara akan mendapatkan balasan karena telah melanggar sumpah," balas Ryusa sinis.
"Hahahahaha...! Kelihatannya kau sangat setia pada si Nogugato itu... Tapi aku heran, kenapa kau masih berjuang mengembalikan tahta kekaisaran kepada Klan Noguchi, padahal kau bisa bekerja untuk Klan Fujiwara. Kenapa hah?!" hardik Otai.
"Aku tidak akan tunduk kepada orang-orang yang telah melanggar apa yang tertulis di atas Prasasti Perjanjian." balas Ryusa.
Ekspresi wajah Otai tiba-tiba menjadi sangat buruk. Ia kemudian melangkah menghampiri Ryusa yang sedang berlutut sambil memegang bahunya yang membeku.
"Apa kau tahu dimana prasasti itu...? Cepat katakan dimana prasasti itu!" teriak Otai murka.
"Hahahahaha..." Ryusa tertawa pelan. Ia tidak mempedulikan golok milik Otai yang sudah siap untuk menebas lehernya, "Prasasti itu tidak akan kalian dapatkan." Ryusa tersenyum puas.
"Apa maksudmu, hah?!" Otai semakin murka dan mulai menekan golok besarnya ke tengkuk Ryusa.
Darah mulai mungucur dari luka yang dihasilkan golok Otai.
" Percuma juga aku mengatakan kepada kalian," ucap Ryusa dingin.
__ADS_1
"Katakan!" Otai menambah tekanan pada goloknya.
"Prasasti itu ada di Kuil Awan, di puncak Gunung Himala. Apa kau sanggup mengambilnya?" ucap Ryusa lantang. Ia kemudian tersenyum lebar sambil memejamkan mata. Ia tidak menyesal jika harus tewas di tangan Otai.
"Tidaaaak... Mungkiiin...!" Otai berteriak lantang sambil mengangkat goloknya untuk memenggal leher Ryusa.
Ryusa tidak bergeming. Ia sudah pasrah menerima nasibnya.
Namun, sebelum sisi tajam golok itu menyentuh batang leher Ryusa, tiba-tiba suasana menjadi hening, angin seolah berhenti berhembus, dedaunan yang beterbangan terhenti di udara.
Para pendekar yang tadinya bertarung habis-habisan, kini tak bergerak sama sekali, bahkan bernafas pun tidak, namun mereka masih berdiri pada posisi dan gayanya masing-masing.
Tidak ada pergerakan sama sekali, bahkan suara para serangga tanah tidak lagi terdengar ditelinga.
Firon tampak kebingungan melihat fenomena yang sedang terjadi di depan matanya.
Ia mencoba mempelajari apa yang sebenarnya terjadi.
Memorinya kemudian membawanya ke beberapa detik yang lalu.
Ia terlambat, ia tiba di lokasi tepat ketika golok milik Otai itu hampir menyentuh leher Ryusa.
Sebuah kekuatan besar yang lahir dari tekadnya yang kuat untuk menolong Ryusa tiba-tiba memaksanya mengucapkan sebuah kalimat yang tidak pernah ia fikirkan sebelumnya.
SURUDOI...!!!
Seiring dengan keluarnya kalimat itu dari mulut Firon, suasana menjadi hening seketika.
Firon kemudian berjalan sambil menggaruk-garuk kepala di antara orang-orang yang sedang mematung itu.
Meski Firon masih bingung menyimpulkan apa yang ia lihat, sebuah ide tiba-tiba mengisi kepalanya.
Firon kemudian mempelajari dan menghafal semua posisi lawan.
Setelah Firon yakin, ia kemudian bersusah-payah memindahkan semua tubuh pendekar itu ke dalam lubang besar yang tadi ciptakan oleh Tongkat Penyanggah Langit.
Setelah semuanya berhasil Firon pindahkan, ia kemudian mencoba menyusun posisi para pendekar itu agar nanti ketika keadaan kembali normal, mereka tidak bisa menghindar untuk tidak saling membunuh.
Setelah berhasil menyusun idenya, Firon kembali harus berfikir keras bagaimana membuat keadaan kembali normal.
Firon mencoba mengingat kembali bagaimana tadi ia menghentikan waktu.
__ADS_1
SURUDOI!
Firon mencoba mengucapkan kalimat itu berulangkali namun keadaan tidak juga kembali normal. Akhirnya ia menyerah dan mencari ide lain.
"Bagaimana ini?" Firon cukup gelisah dibuatnya, "kalau begini terus, mereka semua bisa mati."
Setelah berfikir keras bagaimana keluar dari masalah yang sedang dihadapinya, tiba-tiba ia mengingat Yatsu, "Dia pasti tau sesuatu tentang hal ini, aku harus menemuinya sekarang," batin Firon.
Firon kemudian melangkah mendekati Sin Toru, ia berniat membawanya dari sana.
"Benda apa ini?" Firon mengambil Tongkat Penyanggah langit dari tangan Sin Toru. Ia kemudian menyimpan benda kecil itu di saku bajunya dan berniat mengembalikannya nanti.
Firon melangkah meninggalkan tempat itu sambil membawa Sin Toru dipunggungnya.
Setelah berjalan beberapa ratus langkah dari lokasi pertarungan, Firon menghentikan langkahnya. Angin yang bertiup menyentuh kulitnya membuatnya mengerutkan dahi.
Ia kemudian menoleh ke arah lokasi pertarungan, namun tidak ada perubahan yang tampak oleh matanya.
Ketika baru tiga langkah ia meninggalkan posisi tempatnya tadi berhenti, suara batuk Sin Toru membuatnya kembali menghentikan langkah.
"Kek, kamu sudah sadar ya?" Firon melirik ke balik punggungnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Sin Toru.
Firon menggaruk-garuk kepalanya, "Bagaimana menjelaskannya ya?" gumam Firon lirih.
"Ada apa?"
"Hemmmm."
Firon tiba-tiba punya ide. ia kemudian memutar badan dan mencoba menunjukkan fenomena yang terjadi.
Sin Toru mengerutkan dahi. Rasa penasaran tiba-tiba menghinggapinya. Ia menepuk-nepuk bahu Firon sebagai tanda bahwa ia meminta diturunkan.
Firon menurunkan Sin Toru dan membantunya berdiri.
Sin Toru cukup lama memandangi fenomena yang terjadi. Ia melihat sebuah lingkaran energi tak kasat mata yang mampu menghentikan pergerakan semua benda yang ada di dalamnya. Lebih tepatnya, waktu menjadi terhenti di dalam lingkaran itu.
"Sedahsyat inikah kekuatan Mata Surudoi?" gumam Sin Toru.
"Kek, ini aku kembalikan." Firon menyodorkan benda kecil yang tadi ia ambil dari tangan Sin Toru.
__ADS_1