
Wanita itu menatap wajah Firon dengan begitu dalam. Tersirat kebahagiaan dibalik tatapannya itu. Namun hanya berselang beberapa detik, wanita itu tiba-tiba melemparkan bom asap ke arah Firon.
Firon buru-buru meletakkan tubuh Nara dari pelukannya dan segera menerobos asap namun ia tidak menemukan siapa-siapa lagi di balik asap itu.
"Benarkah dia adik Yin...?" gumamnya lirih. Ia kemudian melangkah ke arah Nara dan memeriksa nadinya.
"Syukurlah dia masih hidup."
Firon segera mengalirkan energi dewa ke tubuh Nara.
"Bagaimana ini?" Firon mulai diserang kekhawatiran, tidak ada perubahan pada diri Nara setelah ia mencoba mengobatinya.
"Lebih baik aku membawanya pulang sekarang." Firon kemudian memutuskan untuk segera membawa Nara menemui Sin Toru.
Firon melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu. Sesuatu yang ia rencanakan sebelumnya tidak lagi menjadi prioritasnya. Ia hanya tidak ingin kehilangan gadis yang ada dipelukannya saat ini.
Disaat yang sama, Watanabe masih belum beranjak dari tempatnya.
"Hidate...! Hidate...!" Wajah Watanabe mulai memburuk, Hidate rupanya telah tewas terkena jarum terbang milik pendekar rundup itu.
Watanabe kini hanya bisa tertunduk lesu dan mulai menyalahkan dirinya. Ia menyesal telah membawa anak kandungnya dalam misi yang sebenarnya tidak akan memberi keuntungan sama sekali padanya maupun sektenya.
"Maafkan Ayah, Hidate!"
Watanabe bangkit dan segera menghampiri jasad anaknya.
Sebenarnya Ia berniat menuruti perintah Firon dan menunggunya. Ia tahu Firon punya maksud tertentu terhadap dirinya. Namun karena Firon telah memberinya dua kali kesempatan untuk hidup, ia kini tidak keberatan melakukan sesuatu untuknya sebagai tanda balas budi.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Watanabe memutuskan untuk pergi dan membawa jasad anaknya.
**
Firon memandangi tebing-tebing tinggi yang melindungi Kota Hidden dengan pandangan kosong. Fikirannya benar-benar kacau. Tidak hanya menyalahkan dirinya sendiri karena telah menyebabkan Nara terluka, ia juga mulai dihantui wajah pendekar wanita yang mirip dengan teman sekolahnya itu.
Apalagi ia juga harus segera berangkat ke Benua Kuning untuk menggagalkan upaya Jenderal Lee membuka Gerbang Naga. Namun di sisi lain, ia juga telah berjanji akan membantu Ryusa untuk merebut kembali tahta kekaisaran dari tangan Klan Fujiwara.
"Firon!" ucap Sin Toru memecah keheningan.
"Oh, Kakek." Firon tersenyum ke arah Sin Toru. Ia cukup terkejut karena tidak mendengar ada orang yang datang.
"Nara sudah melalui masa kritisnya, namun kemungkinanan besar akan butuh waktu lama hingga ia bisa sadarkan diri," ucap Sin Toru sambil menepuk bahu Firon.
Firon tertunduk lesu, "Semua ini salahku!"
__ADS_1
"Firon...!" Sin Toru menatap mata Firon, "Itu bukan salahmu, tapi semua itu sudah takdir."
"Tapi seandainya aku tidak membuat rencana konyol itu, Nara pasti tidak akan terluka, Kek!"
"Hahahahaha...!" Sin Toru tak dapat menahan tawa.
"Kenapa Kakek menertawakan aku?" ucap Sin Toru kesal.
Sambil tersenyum, "Ternyata kau mewarisi sifat kakekmu!" ucap Sin Toru.
"Maksud Kakek?"
"Ya... Kakekmu, Toga! Dia menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa ibumu... Padahal kita tidak pernah tau apa hikmah di balik sesuatu yang menimpa kita. Hanya waktu yang akan menjawabnya."
Firon hanya mengerutkan dahi mendengar kata-kata kakeknya, ia sama sekali tidak memahami maksudnya.
"Tapi bagaimana kau bisa mengetahui kehadiran para pendekar itu?" tanya Sin Toru penasaran.
Firon kemudian mendekatkan bibirnya ke teling Sin Toru, "Kek, jangan beritahu siapapun bahwa aku bisa mendengar dengan jelas semua bunyi dari jarak kurang lebih satu mil."
"Hahahahaha..." Sin Toru sekali lagi tak dapa menahan tawa, "Ternyata kau juga mewarisi pendengaran si tua bangka itu."
Firon hanya bisa mendengus ketika Sin Toga disebut tua bangka.
"Tidak, Kek... Itu terlalu jauh...! Kalau begitu, aku pergi dulu!"
Baru berjalan beberapa langkah, Firon tiba-tiba berhenti, "Kakek, kenapa tidak bergabung?"
"Pergilah...! Kakek tidak mau terlibat terlalu jauh dunia perpolitikan."
Firon hanya tersenyum mendengar jawaban kakeknya. Ia kemudian meninggalkan Sin Toru dan bergegas menemui Ryusa di kastil kota.
**
Setelah membahas beberapa hal terkait strategi penyerangan, Ryusa akhirnya meminta Firon melakukan misi yang sangat penting, "Firon... Kini kau sudah menjadi pahlawan kota ini, karenanya para tetua ini sangat berterima kasih padamu," ucap Ryusa sambil memberi hormat kepada Firon dan semua tetua yang hadir di pertemuan itu.
"Sama-sama." Firon membalas penghormatan para tetua itu dengan penghormatan serupa.
"Firon... Kami tidak akan memaksa kamu untuk turut serta dalam perjuangan kami...! Kami mengerti, kamu punya misi yang lebih penting dan kamu tidak boleh membuang-buang waktu lagi... Namun, kami ingin kamu menolong kami satu hal!" ucap Ryusa ragu-ragu.
"Apa itu, Paman?" tanya Firon.
"Kami mendapat kabar bahwa Jenderal Matsuno saat ini berada di Kuil Awan. Jadi, tolong ketika kamu sampai di Benua Kuning, sampaikan kepada kepala Kuil Awan di puncak Gunung Himala bahwa anak mendiang Kaisar Nogugato masih hidup dan sedang berada di Kota Hidden!"
__ADS_1
"Baik, Paman... Tapi, kenapa tidak memberitahu Sekte Cahaya Kemurnian saja?" tanya Firon.
Ryusa dan semua orang yang berada di ruangan pertemuan mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Firon.
"Sekte Cahaya Kemurnian?!" tanya Sazaki penasaran.
Kini giliran Firon yang mengerutkan dahi, "Jadi, belum ada yang tahu tentang Sekte Cahaya Kemurnian?"
"Tuan Muda...! Apa maksudmu?" tanya salah seorang tetua Kaum Hidden.
Firon kemudian menceritakan semua informasi yang ia dengar dari Watanabe.
"Kalau begitu perjuangan kita akan menjadi lebih mudah."
Semua orang terlihat antusias mendengar cerita Firon.
"Tapi walau bagaimanapun kita harus memastikannya." ucap Ryusa tegas.
"Tetua, aku saja yang pergi!" Kibuki menawarkan diri.
"Paman, kebetulan besok aku akan berangkat ke Kota Nikoto, jika tidak ada halangan, sebulan lagi aku akan berangkat ke benua kuning menggunakan kapal utusan kekaisaran... Aku sengaja berangkat lebih awal karena ingin memastikan sesuatu. Jadi, kalau paman tidak keberatan, aku bersedia mendatangi Gunung Api Putih untuk menyampaikan pesan Paman."
Para tetua hanya saling mengangguk mendengar cerita Firon.
Setelah berfikir sejenak, akhirnya Ryusa menerima tawaran Firon, "Baiklah, aku akan menyuruh seseorang menemanimu, itu juga agar ada yang menyampaikan kepada kami, apa respon sekte itu."
Seusai pertemuan, Firon langsung meninggalkan Kastil dan segera meluncur ke Pulau Delapan. Tujuannya adalah untuk menyelidiki seseorang.
Firon sengaja memilih Pulau Delapan karena pulau itulah yang paling dekat dengan Pulau Sembilan. Di pulau itu ia mampu mendengar semua suara yang berasal dari Pulau Sembilan.
"Kapten... apakah kita akan diam saja dan tidak melakukan apa-apa?" tanya Momo.
"Momo, kau jangan lagi memanggil aku kapten... Aku bukan lagi kaptenmu!" jawab Yatsu datar.
"Tapi-"
"Sudahlah, Momo! Tim kita sudah hancur... Dan kau yang menghancurkannya!" ucap Ningju dengan nada mengejek.
Momo hanya mendengus kesal, ia sadar semua orang membencinya.
"Ningju benar, aku sudah berhenti... Saat ini aku hanya ingin mengabdi kepada pendekar pemilik Surudoi itu," ucap Yatsu penuh keyakinan.
Firon yang berada di seberang pulau hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Yatsu.
__ADS_1