Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 43 - Serangan Lima Perisai Emas II


__ADS_3

Gelombang suara Seruling Iblis memecah konsentrasi Ryusa saat dirinya semakin mendekati sumber suara. Ia merasakan gerakan tubuhnya menjadi amat berat ketika posisinya tinggal puluhan meter dari sumber suara itu. Ia menarik nafas dan mencoba menahan tekanan gelombang suara Seruling Iblis menggunakan tenaga dalam.


'Tenaga dalamku akan cepat berkurang jika tidak segera menemukan pendekar yang membunyikan seruling ini' Ryusa kemudian meneruskan pencariannya setelah berhenti sejenak.


Ryusa menghentikan langkahnya. Ia menengok ke atas, 'rupanya dia disana.'


Sesosok pria paruh baya, berjubah biru, beralis tebal, berambut panjang dan mengenakan penutup mata di mata sebelah kirinya sedang berdiri diatas daun sambil meniup seruling berwarna hijau di tangannya.


Kaki pria itu nyaris tidak menyentuh daun dan nampak seperti melayang. Kekuatan gelombang suara yang dihasilkan oleh seruling itu membuat semua dedaunan kering yang semula berada di permukaan tanah kini melayang dan mengitari pendekar berjubah biru itu.


Ryusa tidak ingin membuang waktu, ia segera mencabut beberapa pisau kecil dari pinggangnya dan melemparkan pisau tersebut ke arah Zen Kai si peniup seruling.


Tiga buah pisau meluncur dengan kecepatan tinggi dan menerobos dedaunan yang mengitari Zen Kai.


Tiba-tiba, pisau yang jaraknya tinggal satu meter dari tubuh Zen Kai itu, berhenti seiring berubahnya irama bunyi seruling.


Tiupan kedua Seruling Iblis membuat Pisau-pisau itu berbalik arah dan meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah Ryusa.


Ryusa yang tak dapat berkonsentrasi penuh karena pengaruh suara seruling tak dapat melihat pisau-pisau yang meluncur ke arahnya itu dengan jelas. Ia memilih menghindar dari menangkis serangan yang nyaris mengenainya itu.


Tidak hanya sampai di situ. dedaunan kering yang tadinya mengitari Zen Kai kini berputar-putar mengelilinginya dan hendak membungkus tubuhnya.


'Sial...' Ryusa kembali melompat untuk menghindari dedaunan kering itu.


Bunyi seruling semakin ganas. Tumbuh-tumbuhan hijau yang berada di radius sepuluh meter dari posisi Zen Kai berdiri perlahan-lahan layu dan berubah warna menjadi kecoklatan.


'Gawat... Kekuatan macam apa ini? Aku bahkan belum menyentuhnya sama sekali." Ryusa kini berkeringat dingin. Ia benar-benar tidak menyangka kekuatan seruling itu amat dahsyat.


Saat ia mencoba menahan gelombang suara Seruling Iblis menggunakan tenaga dalamnya, ia justru semakin lemah dan merasakan seluruh tubuhnya nyaris tak dapat ia gerakkan.


'Bagaimana ini? Aku bahkan tidak dapat mengeluarkan sebuah jurus... Kalau begini terus aku bisa mati." Ryusa berlutut di tanah dan mulai terbatuk darah.

__ADS_1


Saat penglihatan Ryusa mulai kabur, lima sosok manusia berbadan lebih tinggi dan lebih besar dari manusia biasa pada umumnya menghampiri dan membantunya berdiri.


Salah seorang dari Kaum Hidden itu kemudian menceritakan dengan singkat cara mengatasi pengaruh suara Seruling Iblis.


'Nara...? Darimana dia tahu semua ini?" Ryusa kemudian membiarkan salah seorang dari Kaum Hidden itu menuangkan air yang sengaja dibawa oleh mereka ke dalam lubang telinganya.


Zen Kai tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Ryusa dan lima orang Kaum Hidden itu. Ia tetap meniup Seruling Iblis dengan asyiknya.


Zen Kai tersentak dan sontak menghentikan tiupannya. Ia tiba-tiba merasakan ada beberapa orang yang sedang mengepungnya dari segala arah.


Belum sempat ia membuka mata yang sedari tadi ia pejamkan, sebuah pukulan yang disertai tenaga dalam yang sangat besar mendarat tepat di dadanya.


Zen Kai terpental sejauh puluhan meter. Pepohonan yang ia tabrak ketika terpental, tumbang akibat hantaman dari tubuhnya. Ia akhirnya jatuh dan tersungkur di tanah.


'Sial!" Zen Kai terbelalak. Seruling Iblis tak lagi di tangannya. Ia memutar pandangannya ke mana-mana.


"Hohoho... Apa kau mencari ini?" Ryusa tersenyum sinis ke arah Zen Kai. Ia menyodorkan seruling berwarna hijau itu ke arah Zen Kai, namun tidak berniat untuk menyerahkannya. Ia hanya ingin mengolok Zen Kai yang tadi nyaris membunuhnya.


"Bagaimana kau tahu cara mengatasi kekuatan Seruling Iblis?" Meski sudah nyaris kehabisan tenaga, Zen Kai tidak dapat menahan diri untuk tidak mencari tahu siapa yang telah membocorkan rahasia Seruling Iblisnya.


Zen Kai berusaha duduk sambil memegangi dadanya yang terluka parah.


"Baik... Agar kau tidak mati penasaran, aku akan memberitahumu." Ryusa berjalan menghampiri Zen Kai, "Sepertinya informasi ini datangnya dari salah seorang anggota Sekte Golok Angin yang kami tawan."


Zen Kai mengerutkan dahi sambil merapatkan giginya, "Miya?!" kekesalan menyelimuti hatinya. ia tidak menyangka anak angkatnya adalah orang yang telah membongkar rahasia jurusnya dan mengakibatkan dirinya sebentar lagi akan mati.


"Tuan... Aku Zen Kai tetua dari Sekte Golok Angin, aku tahu sebentar lagi aku akan mati, tolong penuhi satu permintaanku!"


Ryusa tersenyum, ia tidak menyangka Zen Kai yang berpenampilan sangar itu sanggup memohon pertolongan darinya.


"Baik, aku akan memenuhinya untukmu."

__ADS_1


"Aku tidak akan meminta anda mengampuni nyawaku ataupun nyawa Miya anak angkatku... Aku hanya ingin anda menceritakan kepada anak angkatku itu bahwa aku memang pantas mati." Zen Kai terbatuk dan mengeluarkan banyak darah dari mulutnya, "Akulah yang telah membunuh kedua orang tuanya... Tolong juga sampaikan bahwa aku tulus menyayanginya dan menganggapnya sebagai anakku sendiri."


Ryusa kembali tersenyum, kali ini ia sedikit kagum mendengar ucapan Zen Kai. Ia bisa melihat ketulusan hati Zen Kai ketika mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.


'Ternyata orang sepertimu punya kasih sayang juga,' fikir Ryusa.


"Sekarang anda boleh membunuhku," ucap Zen Kai sambil memejamkan mata.


Ryusa kemudian memberi aba-aba kepada salah seorang Kaum Hidden untuk membunuh Zen Kai.


Kepala Zen Kai menggelinding di tanah ketika sebuah tebasan pedang baru saja melewati lehernya. Darah segar menyembur dari batang lehernya dan seiring itu pula jasadnya rebah memeluk bumi.


**


"Ada apa ini? kenapa iramanya cepat sekali berubah?" gumam Goemon. Ia menyadari ada keanehan di balik suara Seruling Iblis yang tiba-tiba berubah.


"Apa yang kau khawatirkan, Tetua Goemon?" sindir Senjiro.


Semua orang memang sedang memfokuskan perhatiannya kepada Goemon. Mereka sudah tidak sabar menunggu aba-aba dari Goemon untuk segera beraksi.


"Benar, Tetua Goemon! bukankah itu tanda agar kita mulai menyerang?" ucap Kendo yang ingin segera bergerak.


Fujiwara Otai, tetua Klan Fujiwara sekaligus pemimpin Lima Perisai Emas melirik Goemon dengan tatapan tajam. Ia yang sedari tadi duduk tenang di atas kuda sambil memelintir janggutnya juga penasaran melihat gelagat Goemon.


"Goemon..." Otai yang sejak dulu memang tidak memanggil Goemon dengan sebutan tetua mengejutkan Goemon, "Kenapa diam saja?"


Goemon mengerutkan dahi dan merapatkan gigi menghadapi tekanan dari orang-orang di sekelilingnya.


"Semua...! pekik Goemon, "Sekarang saatnya!"


Semua Tetua kemudian memberi aba-aba kepada regunya masing-masing untuk bergerak maju ke arah Hutan Terlarang.

__ADS_1


__ADS_2