Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 33 - Kota Hidden


__ADS_3

Kedua orang bertopeng itu kemudian melangkah menghampiri Firon.


"Anak muda, kita bertemu lagi," ucap Ryusa sambil membuka topengnya.


"Perkenalkan, aku Nara," sapa rekan Ryusa yang ternyata seorang gadis cantik.


Firon memandangi wajah gadis cantik itu cukup lama. Ada rasa kagum di hatinya.


Firon kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Ryusa. Firon kemudian menggunakan ilmu telepati untuk berkomunikasi dengan Ryusa "Apa maksud dari semua ini? Bukankah Paman Ryu menungguku di ...?"


"Hey kau, siapa namamu tadi?" tanya Sin Toru memotong.


"Firon."


"Ooo ... iya, Firon nanti aku jelaskan. Lebih baik kita ke kota, sekarang!"


Firon yang belum bisa membaca situasi, akhirnya pasrah mengikuti Sin Toru dan yang lainnya untuk pergi dari tempat itu.


Setelah berjalan beberapa menit lamanya, mereka akhirnya tiba di sebuah tebing batu yang berdiri kokoh.


Sin Toru mengibaskan tangannya ke atas satu kali. Tebing batu itu kemudian bergerak perlahan dan tercipta sebuah terowongan tepat di tengah-tengah tebing batu tersebut. Mereka kemudian berjalan menyusuri terowongan itu.


Saat Firon tiba di ujung terowongan, ia menjadi sangat takjub melihat pemandangan yang sangat indah di depan matanya. Terlihat olehnya sebuah danau yang dikelilingi tebing yang amat tinggi. Di dalam danau itu terdapat gugusan batu-batu besar yang nampak seperti pulau-pulau kecil yang berjejer rapi. Di atas batu-batu besar itu hanya terdapat satu atau dua rumah saja.


Terdapat beberapa jembatan yang terbuat dari kayu yang menghubungkan antara rumah yang satu dengan rumah yang lainnya yang saling berdekatan. Ratusan perahu kecil terapung diantara bebatuan itu.


Dari ratusan bebatuan yang memadati danau itu, terdapat sebuah batu yang nampak jauh lebih besar dari batu-batu yang lainya. Batu besar yang bisa dibilang sebuah pulau itu, berdiri tepat di tengah-tengah danau. Terdapat sebuah istana megah disana.


"Selamat datang di Kota Hidden, Kota Kaum Hidden" ucap Nara lirih.


Firon menoleh ke arah Nara yang berdiri disampingnya. Senyuman lembut gadis itu membuat jantungnya berdebar-debar. Pipinya merona. Ada sesuatu di dalam hatinya yang tidak ia mengerti.


"Yuk, bergegas!" ucap Nara sambil melangkah meninggalkan Firon yang masih berdiri terpaku memandang ke arahnya.


"Hey Firon, ayo cepat!" teriak Sin Toru yang sudah cukup jauh meninggalkan Firon.


Ryusa yang berada di samping Sin Toru hanya tersenyum. Ia bisa membaca apa yang ada di benak Firon.

__ADS_1


"Kelihatannya, dia menyukaimu," ujar Ryusa ketika Nara tiba di dekatnya.


Nara tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan tersipu malu. Pipinya yang putih mulus terlihat memerah.


"Oe Firon, apa yang kau tunggu?!" Sin Toru kembali berteriak.


"Apa-apaan orang tua itu," gumam Firon kesal. Ia kemudian berlari menghampiri Sin Toru dan yang lainnya.


Di tepi danau, terlihat beberapa orang berseragam hijau dan sebuah perahu kecil sedang menunggu.


"Selamat datang Ketua," sapa salah seorang yang mengenakan pakain agak berbeda dari yang lainnya.


"Bagaimana para tahanan itu?" tanya Sin Toru.


"Mereka sudah kami lucuti dan kami kurung di Penjara Lababa."


"Bagaimana dengan Pangeran?"


"Dia sudah berada di kastil. kami belum menjelaskan apa-apa padanya. hanya saja, ia terus meronta hendak melarikan diri, jadi kami terpaksa mengurungnya."


Firon yang mendengarkan percakapan antara Sin Toru dan orang itu, hanya bisa mengerutkan dahi. Ia semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kurang ajar, kalian. Lepaskan kami, atau kubunuh kalian!" pekik Yongdai sambil memelototi para kurcaci yang ada di hadapannya.


Para kurcaci itu sama sekali tidak memperdulikan Yongdai.


"Tetua, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya salah seorang anak buah Yongdai.


"Aku harus mendapatkan kembali Pedang Ratu Iblis."


"Tapi, bagaimana cara mendapatkannya, Tetua?"


Yongdai hanya bisa mengerutkan dahi ketika mendengar pertanyaan anak buahnya itu. Ia juga mulai menyadari kelemahannya yang telah dengan mudahnya ditipu oleh para manusia kerdil itu.


Sementara itu, Firon beserta yang lainnya sudah tiba di kastil kota. Firon duduk di ruangan khusus bersama Sin Toru, Ryusa dan seorang pendekar yang tadi menjemput mereka di tepi danau.


"Kibuki, bawa Pangeran kesini!" perintah Sin Toru.

__ADS_1


Kibuki kemudian berdiri dan melangkah keluar ruangan. Ia menelusuri lorong kastil dan berhenti di depan pintu sebuah ruangan yang dijaga ketat oleh beberapa orang berseragam hijau.


"Pangeran, anda boleh keluar sekarang. Ketua Sin dan teman anda, ingin menemui anda," ucap Kibuki.


Seorang pria berseragam hijau lantas membuka pintu dan mempersilahkan orang yang berada di ruangan tersebut untuk keluar.


Sementara itu, Sin Toru bercerita, bahwa beberapa waktu yang lalu, Sin Toga pernah datang ke Kota Hidden. Ketika itu, Sin Toga menceritakan, bahwa pihak Kerajaan Langit telah mengetahui pelanggarannya dan ia yakin ia akan menerima hukuman akibat dari pelanggaran itu.


"Adik Sin sempat meminta tolong padaku. Ia ingin aku menggantikan dirinya untuk menjaga dan membimbing dirimu. Ia juga menceritakan semua kejadian yang menimpa ibumu, ayahmu, kakekmu dan dirimu. Katanya, tidak ada sesuatu pun yang ia sembunyikan dariku."


Sin Toru menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat murung.


"Bukanya menerima permintaannya, aku justru meminta ia untuk memberikan amanahnya itu pada Ryusa. Dan Ryusa menerimanya dengan senang hati" ucap Sin Toru sambil melirik Ryusa.


"Iya Firon, Dewa Sin Toga sepertinya sudah merencanakan segala sesuatunya dengan matang. Ia mengatakan, bahwa kamu pasti akan datang ketempat ini bersama dengan satu-satunya mendiang Kaisar Nogugato.


" Maksud Paman, saudara Noguchi?" Firon cukup kaget mendengar pernyataan Ryuasa.


"Aku bersedia menerima permintaan Dewa Sin, karena ia juga bersedia menerima syarat yang aku ajukan padanya," ungkap Ryusa.


"Syarat apa yang paman ajukan?" tanya Firon penasaran.


"Jika Putra Mahkota masih hidup, maka ia harus bisa membawa putra mahkota ke sini. Dengan senang hati ia bersedia. ia bahkan mengatakan bahwa kamu akan membantu kami untuk merebut kembali tahta Kekaisaran Nogufuji dari tangan Keluarga Fujiwara," tutup Ryusa.


"Kami datang." Kibuki memberitahu.


"Masuk!" ujar Sin Toru.


Kibuki kemudian masuk ke dalam ruangan dengan membawa Noguchi bersamanya.


"Saudara Nogu, rupanya kau disini," sapa Firon sambil tersenyum ke arah sahabatnya itu.


Noguchi membalas senyuman Firon. "Rupanya, kamu juga disini," balas Noguchi.


"Baiklah, kalian berdua sudah berkumpul. Untuk itu aku ingin menceritakan sedikit tentang sejarah masa lampau." ucap Ryusa.


Ryusa kemudian bercerita, bahwa dahulu, Kekaisaran Nogufuji didirikan oleh dua klan besar di Benua Hitam. Klan tersebut adalah Klan Noguchi dan Klan Fujiwara. Kedua klan tersebut kemudian membuat sebuah perjanjian di atas sebuah prasasti dan dihadiri oleh seluruh anggota klan dari kedua klan tersebut. Isi perjanjian itu adalah, Bahwa tampuk kekuasaan tertinggi, yakni tahta kaisar hanya berhak diduduki oleh Klan Noguchi. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi perebutan kekuasaan antara kedua klan. Sedangkan Klan Fujiwara, berhak menduduki semua posisi penting, kecuali posisi kaisar.

__ADS_1


Kedua klan kemudia bersepakat, dan diangkatlah Pendekar Nogugato sebagai kaisar pertama di Kekaisaran Nogufuji.


__ADS_2