Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 15 - Pertemuan


__ADS_3

Suasana di ruangan tengah balai kota menjadi momen reuni bagi Aron, Lee dan Ketua Jo. Tuan Ligo memilih pamit dan meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan Dewi Rara terlihat bingung ingin meninggalkan ruangan atau tetap mendampingi suaminya. Ia tidak ingin memberitahu Ketua Jo tentang identitasnya di hadapan Jederal Lee. Instingnya mengatakan bahwa Jenderal Lee adalah orang yang amat berbahaya dan tidak dapat dipercaya.


Dewi Rara kemudian larut dalam lamunannya. Ia mengingat tentang Pedang Langit, Kitab Jurus Pedang Pelangi dan Cincin Dewa yang ia sembunyikan di suatu tempat. Ia tidak ingin ketiga Pusaka Langit itu ditemukan oleh orang jahat yang mungkin akan menghancurkan bumi jika memilikinya.


Dewi Rara tidak ingin memberi tahu identitasnya kepada orang lain kecuali Aron suaminya dan Ketua Jo yang dianggapnya adalah orang baik. Maka dari itu ia berfikir untuk memberi tahu Ketua Jo ketika tidak ada orang lain bersamanya.


Sementara itu, Ketua Jo terlihat dengan semangat membicarakan tentang perkembangan Pulau Air Terjun yang kini sudah mulai membaik. Klan Gojo sudah berhasil menjadikan Desa Air terjun menjadi desa yang indah dan sejahtera. Meski sumber daya yang dimiliki Pulau Air Terjun sangat terbatas, namun mereka mampu bercocok tanam di lahan yang tidak terlalu luas dengan hasil yang sangat memuaskan. Ada juga yang menjadi nelayan dan ada pula yang berdagang, meski perdagangan mereka hanya antara warga Desa Air Terjun saja.


“Bagaimana denganmu Lee, apa yang terjadi dan dimana para pendekar Klan Gojo yang pergi bersamamu dulu?” tanya Ketua Jo Sambil memandangi Jenderal Lee dengan tatapan tajam. Ia tidak senang melihat Jenderal Lee mengenakan seragam kekaisaran. Sejak dulu Klan Gojo memang tertutup dari perpolitikan. Mereka lebih memilih tidak terlibat apapun tentang politik.


“Ayah, dulu ketika aku bersama para pendekar Klan Gojo melaksanakan misi dari ayah, kami berhasil memberitahu informasi terkait bencana itu kepada orang-orang di desa dan kota yang letaknya berada di dataran rendah. Namun setelah beberapa purnama kami menyebar informasi tersebut, kami justru terjebak di sebuah desa yang sudah nyaris tenggelam,” ungkap Jenderal Lee sambil memutar kembali kenangannya yang telah lampau.


Jenderal Lee menceritakan bahwa ketika mereka hendak keluar dari desa tersebut, mereka malah dihadang oleh gelombang air yang sangat besar yang akhirnya menenggelamkan desa dan semua yang ada di dalamnya. Jenderal Lee kemudian meringkas ceritanya, bahwa setelah beberapa hari ia terombang-ambing dibawa gelombang air, ia pun akhirnya terdampar di suatu tempat dan ditolong oleh seseorang yang berasal dari Klan Mojo.


“Klan Mojo adalah klan yang berhasil memanfaatkan situasi bencana alam untuk mendirikan sebuah kekaisaran. Karena mereka telah menolong aku, makanya aku bersedia bekerja untuk mereka sebagai tanda balas budi,” ungkap Jenderal Lee sambil tersenyum ke arah ayahnya.


Ketua Jo yang dari awal menyimak cerita Jenderal Lee dengan seksama, terlihat tidak senang. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Jenderal Lee.


Melihat ekspresi wajah ayahnya yang terlihat tidak senang mendengarkan ceritanya, Jenderal Lee kemudian memasang wajah lesu dan penuh penyesalan, “Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti kehendak mereka. Selain karena aku berhutang budi kepada mereka, aku juga tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapku jika menolak keinginan mereka.”


Ketua Jo lagi-lagi tidak senang mendengar penuturan Jenderal Lee. Pikirannya menerawang. Ia memikirkan tentang apa yang telah dilakukan Lee, anaknya sehingga bisa mencapai posisi sebagai seorang jenderal di Kekaisaran Mojo. Menurutnya, Lee tidak akan mungkin mencapai posisi jenderal jika tidak pernah melakukan sesuatu yang luar biasa.


“Baiklah, sekarang apa rencana kalian berdua?” tanya Ketua Jo tegas. Ia tidak lagi menghiasi bibirnya dengan senyuman. Ia bahkan menatap kedua anaknya itu dengan tatapan yang tidak bersahabat.

__ADS_1


Pertanyaan Ketua Jo langsung membuat suasana menjadi tampak canggung. Ron dan Jenderal Lee tahu betul apa yang ada dipikirkan ayahnya itu. Mereka berdua sangat yakin bahwa Ketua Jo pasti menginginkan mereka untuk kembali ke Desa Air Terjun.


Semuanya terdiam. Aron dan Jenderal Lee saling berpandangan. Dewi Rara yang duduk disamping Aron bisa mengerti situasi yang dihadapi suaminya, namun ia lebih memilih diam untuk menghindari perdebatan dengan ayah mertuanya itu.


“Lebih baik ayah istirahat saja dulu! Nanti kita bahas masalah ini,” ucap Aron mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Benar, Anda baru saja menempuh perjalanan jauh dan tentu sangat melelahkan.” Dewi Rara mencoba membantu suaminya.


Ketua Jo kemudian mengalihkan pandangannya kepada Dewi Rara yang dari tadi ia tidak pedulikan. Pandangannya tertuju kepada sehelai cadar yang nyaris menutupi seluruh wajah Dewi Rara.


“Oya, Kenalkan, aku adalah menantu anda. Aku istri dari Aron,” ungkap Dewi Rara sambil membungkuk memberi hormat.


“Iya, Tuan Ligo telah menceritakan padaku banyak hal tentangmu,” ucap Ketua Jo sambil tersenyum hangat kepada menantunya itu.


Dewi Rara kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mengantar Ketua Jo dan orang-orang yang datang bersamanya ke kamar peristirahatan.


“Kalau begitu aku juga mau mohon pamit, Aku mau menemui anggota pasukanku di luar gerbang. Mereka sudah terlalu lama menunggu,” ucap Jenderal Lee sembari bangkit dari duduknya.


Aron dan Dewi Rara tidak lagi mencegah Jenderal Lee untuk meninggalkan ruang tengah balai kota. mereka sangat memahami maksud perkataan Jenderal Lee dan bahayanya jika menahan Jenderal Lee terlalu lama di kota.


**


Jenderal Lee melesat cepat meninggalkan Kota Penyu dengan menunggang kuda. Pikirannya benar-benar kacau. Ia sangat tidak senang bertemu dengan ayah dan kakaknya.

__ADS_1


“Ayah dan Aron pasti akan menghalangi ambisiku. Aku harus bisa menyingkirkan mereka,” gumam Jenderal Lee dalam hati.


Senyuman licik menghiasi bibir Jenderal Lee. Terlintas di fikirannya sebuah rencanalicik yang ia yakini akan membuat dirinya semakin cepat meraih ambisinya untuk menguasai Benua Kuning.


**


Sementara itu diluar gerbang Kota Penyu, Jenderal Moo sudah memerintahkan para pasukannya mempersiapkan diri untuk menyerang Kota Penyu.


“Jika beberapa saat lagi Jenderal Lee tidak juga tiba, maka kita serang Kota Penyu!” teriak Jenderal Moo kepada seluruh anggota pasukannya.


Beberapa saat kemudian, terlihat oleh Jenderal Moo seorang penunggang kuda sedang melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi, orang itu tak lain adalah Jenderal Lee.


Dalam waktu yang sangat singkat, Jenderal Lee tiba di hadapan Jenderal Moo.


“Kalian pasti sudah lama menunggu,” ucap Jenderal Lee yang terlihat menghawatirkan sesuatu.


“Apa yang terjadi Jenderal Lee?” tanya Jenderal Moo. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak baik yang sedang dihadapi oleh Jenderal Lee.


“nanti aku ceritakan. Sekarang kita cari tempat yang bagus untuk membangun kemah!” jawab Jenderal Lee ringkas.


"Pasukan!" Jenderal Moo mengyungkan tangannya kearah depan sebagai tanda agar seluruh pasukan bergerak meninggalkan gerbang kota.


Seluruh pasukan kemudian bergerak meninggalkan Gerbang Kota Penyu.

__ADS_1


__ADS_2