
Setelah Sin Toga menceritakan tentang Tujuh Altar Naga ,ia kemudian memerintahkan Aron dan ketiga rekannya untuk segera meninggalkan tempat itu secepatnya. Sin Toga berpesan kepada mereka untuk memberi peringatan kepada semua orang agar mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana alam. Besar kemungkinan, hujan lebat akan mengguyur bumi selama tujuh purnama. Mereka juga diingatkan untuk mencari tempat berlindung di dataran tinggi atau di bukit-bukit untuk menghindari banjir besar yang akan segera melanda permukaan bumi.
“Kalian berdua bagaimana. Apakah sanggup meninggalkan area Gerbang Naga dengan kondisi seperti itu?” tanya Sin Toga kepada Aron dan Matsuhito.
Aron dan Matsuhito hanya saling berpandangan satu sama lain.
Ketika Matsuhito baru hendak menyampaikan sesuatu, Sin Toga sudah menghilang lalu tiba-tiba muncul di belakangnya. Sin Toga kemudian mengalirkan energi ke kedua telapak tangannya dan mengarahkannya ke punggung Aron dan Matsuhito.
“Kalian berempat harus pergi sekarang!” perintah Sin Toga setelah selesai mengalirkan energi ke tubuh Aron dan Matsuhito.
Sebelum beranjak meninggalkan tempat itu, Aron memandangi wajah Dewi Rara yang terlihat salah tingkah.
“Sampai jumpa lagi,” ucap Aron sambil melemparkan senyumannya yang menawan ke arah Dewi Rara.
Jantung Dewi Rara berdetak kencang. Ia tidak marah dipandangi oleh Aron yang hanya manusia biasa itu. Dewi Rara justru merasa senang dengan perlakuan Aron terhadap dirinya.
“Perasaan apa ini?” gumam Dewi
Rara dalam hati. Ia terus memandangi Aron dan ketiga rekannya menghilang dari balik pintu gerbang.
“Kenapa Ayah menyuruh mereka buru-buru meninggalkan tempat ini?” tanya Dewi Rara.
“Kamu tentu tahu. Mereka tidak akan banyak membantu menghadapi lawan yang ada di balik pintu itu,” jawab Sin Toga sambil mengacungkan telunjuknya kearah sebuah pintu yang bergambar seekor naga berkepala tujuh.
“Alasan Ayah yang sebenarnya adalah, Ayah tidak ingin mereka celaka jika nanti kamu menggunakan Pedang Langit.” Sin Toga tersenyum kearah putrinya sambil melangkah ke arah pintu yang ditunjuknya tadi.
“Ingat, lawanmu di balik pintu itu bukanlah lawan yang mudah untuk
kamu hadapi. Ayah tidak bisa melindungimu. Ayah hanya bisa memberikan kamu petunjuk jika diperlukan,” ucap sin Toga sambil mendorong daun pintu tersebut perlahan-lahan.
Dari balik pintu tercium aroma kematian yang sangat pekat dan mencekam.
Tubuh Dewi Rara terasa menggigil. Perasaan gundah tiba-tiba menyelimuti hatinya.
“Ah… ini hanya perasaan aku saja,” gumam Dewi Rara mencoba membangkitkan kembali semangatnya.
__ADS_1
Sin Toga dan Dewi Rara melangkah dengan sangat hati-hati di ruangan yang baru dimasukinya itu.
Terlihat tujuh batu berbentuk peti mati, berwarna biru bening berjejer di depan sebuah patung naga berkepala tujuh.
“Inilah Tujuh Altar Naga,” ucap Sin Toga sambil memperhatikan ketujuh buah altar yang berada sekitar sepuluh meter di hadapannya.
Tujuh buah altar itu sekilas terlihat indah. Warnanya bening bercahaya kebiruan dan tembus pandang. Namun jika diperhatikan dengan seksama, ketujuh buah altar itu menjadi amat mengerikan dipandang mata. Di setiap altar terdapat seorang gadis belia yang terbujur kaku tanpa busana. Kepala ketujuh mayat gadis itu nyaris terpisah dari tubuhnya masing-masing. Bau darah yang amat pekat memenuhi ruangan yang ukurannya jauh lebih kecil dari ruangan sebelumnya itu.
“Tega sekali mereka memperlakukan perempuan seperti ini,” ucap Dewi
Rara mengumpat.
Beberapa saat kemudian, tubuh para gadis yang tadinya terbujur kaku tak bernyawa itu tiba-tiba melayang di udara. Kemudian terlihat bola cahaya yang bersinar menyilaukan keluar dari kening semua jasad perempuan itu.
Semua bola cahaya itu kemudian beredar kearah patung naga berkepala tujuh. Seluruh badan patung naga itu kini diselimuti cahaya yang menyilaukan.
Tidak berselang lama, terjadi ledakan cahaya dan patung naga yang tadinya hanya sebuah batu, berubah menjadi makhluk hidup yang amat menyeramkan.
Sin Toga dan Dewi Rara kemudian menjadi siaga melihat peristiwa yang terjadi di hadapannya.
“Bagaimana dengan Ayah. apakah makhluk itu juga bisa melihat Ayah?” tanya Dewi Rara khawatir.
“Tenang saja, makhluk itu tak dapat melihat Ayah. Karena sejatinya Ayah tidak berada di tempat ini. Yang kamu lihat ini hanya roh Ayah,” balas Sin Toga.
Belum sempat Sin Toga menjelaskan lebih jauh, tiba-tiba salah satu dari tujuh kepala naga itu menyerang Dewi Rara dengan menyemburkan api dari mulutnya.
“Rara, Hati-hati!” teriak Sin Toga memperingatkan anaknya.
Dewi Rara nyaris terkena semburan api. Beruntung dia masih sempat melompat ke arah belakang menjauhi monster itu.
Belum sempat kakinya menyentuh lantai, Dewi Rara kembali diserang oleh monster itu menggunakan kepalanya yang lain. Kali ini, kepala yang satunya itu tidak menyemburkan api, namun yang disemburkannya adalah kilatan petir.
“Wah Gawat, kelihatannya monster ini menguasai beberapa unsur,” gumam Dewi Rara sambil terus menerus menghindari serangan Monster Naga.
“Rara, gunakan Pedang Langit!” Terdengar suara Sin Toga di kepala
__ADS_1
Dewi Rara.
Dewi Rara kemudian menghunuskan Pedang Langit.
“Shhhaapp.”
Semua jasad perempuan yang sebelumnya terbaring di atas Altar, lenyap seketika. Monster Naga berkepala tujuh yang ada di depan Dewi Rara tidak bergeming sama sekali.
Meski sedikit terkejut melihat reaksi monster naga yang tidak terpengaruh dengan kekuatan Pedang Langit, tanpa ragu Dewi Rara melesat dan menebas salah satu leher monster naga menggunakan Pedang Langit.
“Shhaapp.”
Kepala Monster Naga jatuh ke lantai terpisah dari tubuhnya.
Dewi Rara yang awalnya sedikit senang melihat serangannya berhasil, hanya bisa mengerutkan dahi melihat kepala monster naga yang terpisah dari tubuhnya itu tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di posisinya semula.
“Ternyata monster ini sangat kuat.”
Dewi Rara terlihat kecewa melihat serangannya tidak berhasil melukai Monster Naga. Ia kemudian mundur puluhan meter.
“Rara, Monster itu sangat kuat. Jangan sampai kamu terkena semburannya. Meskipun kamu seorang dewi dari langit, kekuatan monster itu mampu membuatmu celaka.” Suara Sin Toga kembali terdengar di kepala Dewi Rara.
Mendengar ucapan ayahnya, Dewi Rara menjadi lebih berhati-hati dan mulai berfikir untuk mencari kelemahan Monster Naga.
“Rara, makhluk itu hanya seonggok batu yang diliputi energi jahat. Mungkin energinya memiliki batas. coba serang monster itu terus menerus tanpa jeda!” Sin Toga kembali memberi instruksi.
Dewi Rara melesat kesana kemari sambil menebas leher monster itu satu persatu secara beruntun dan terus menerus. Tebasan demi tebasan terus dilayangkan ke arah leher Monster Naga sambil menghindari serangan balik yang dilakukan oleh monster itu.
“Kelihatannya sia-sia.”
Dewi Rara hanya bisa mengerutkan dahi melihat serangannya benar-benar sia-sia dan tidak melukai lawannya sedikitpun.
“Ahhhh!"
Dewi Rara berteriak menahan sakit. Mata sebelah kirinya tiba-tiba terkena semburan racun dari mulut monster itu. Dewi Rara benar-benar tidak dapat menghindari serangan Monster Naga yang datang tiba-tiba.
__ADS_1