Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 20 - Kekuatan Firon


__ADS_3

Komandan Jio yang menganggap diamnya Tuan Murai adalah sebuah penolakan, kemudian memerintahkan anggotanya untuk menyerang terlebih dahulu.


“Jangan buang waktu, selesaikan dengan cepat!” Perintah Komandan Jio yang kemudian melompat ke atas atap sekolah.


Para pendekar dari pihak sekolah tampak kebingungan melihat tindakan Komandan Jio yang nampak seperti orang yang hendak mundur.


“Formasi Dewa Perang” Teriak semua anggota Pasukan Elit serentak.


Para anggota Pasukan Elit kemudian membentuk barisan menyerupai Trisula. Cahaya kuning keemasan tiba-tiba muncul diatas kepala setiap anggota Pasukan Elit sehingga cahaya tersebut nampak persisi seperti trisula.


“Trisula Penghancur” Lagi-lagi para anggota Pasukan Elit berteriak seraya melepaskan jurus Formasi Dewa Perang ke arah para pendekar pihak sekolah yang berada di hadapan mereka.


Para pendekar pihak sekolah terpental seketika menghantam bangunan sekolah yang berada dibelakangnya. Bangunan sekolah hancur lulu lantak. Beberapa orang pendekar dari pihak sekolah yang terkena jurus Formasi Dewa Perang langsung tewas, pendekar yang tersisa terluka parah dan tak mampu lagi untuk berdiri.


“Bagaimana, kalian masih ingin melawan?” Komandan Jio tersenyum angkuh ke arah Tuan Murai.


“Kalau begini, kami semua akan mati konyol jika masih tetap melawan!” Tuan Murai masih bingung untuk mengambil sikap.


“Baiklah, kuserahkan Tuan Muda Firon kepada anda. Sekarang aku akan menjemputnya di dalam!”


Mengingat kekuatan yang dimilikinya mustahil untuk memberi perlawanan kepada Pasukan Elit Kekaisaran, Tuan Murai akhirnya memutuskan untuk menyerahkan Firon kepada mereka.


“Sekarang kau bawa anak itu ke hadapanku!” Komandan Jio memberi perintah.


Tuan Murai kemudian bergegas melangkah menuju terowongan tempat Firon dan yang lainnya bersembunyi.


Di dalam terowongan yang agak gelap, Firon dan kawan-kawannya ditemani oleh Guru Guyo terlihat cemas dan penasaran akan apa yang sedang terjadi.


“Guru Guyo berikan Firon kepadaku, hanya dia yang bisa menolong kita!” Ucap Tuan Murai yang muncul dari balik pintu terowongan.


“Apa maksudmu Tuan Murai?” Guru Guyo benar-benar tidak paham maksud dari perkataan Tuan Murai.

__ADS_1


Tuan Murai yang memahami kebingungan yang dialami Guru Guyo, kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Guru Guyo dan berbisisk, “Kita harus menyerahkan Firon kepada mereka atau kita semua akan mati. Beberapa orang pendekar senior telah tewas dan yang lainnya terluka parah. Mereka sangat kuat dan mustahil kita mampu melawannya!.”


Guru Guyo mengerutkan dahi. Ia terdiam sambil menatap Firon yang sedang melangkah menuju ke arahnya.


“Tuan Murai, Guru Guyo! Tidak apa-apa, aku sudah mengetahui semuanya. Bahkan aku juga mengetahui bahwa kedua orang tuaku telah mati!” Firon terlihat terpukul namun berusaha untuk tetap tegar.


Tuan Murai dan Guru Guyo terperanjat mendengarkan perkataan anak berumur tujuh tahun yang berada di hadapannya itu.


“Firon, bagaimana kau bisa mengetahui semua itu?” Guru Guyo menatap Firon dengan pandangan iba. Ia juga heran, kenapa Firon bisa mengetahui kabar kematian kedua orang tuanya padahal ia sendiri belum mengetahuinya. Apalagi mereka sudah berada di dalam terowongan sebelum para prajurit itu menerobos masuk ke dalam sekolah.


“Aku mendengarnya dari orang yang menyerang sekolah. Aku juga mendengar apa yang Tuan Murai katakan barusan!” Firon menatap tajam ke arah Tuan Murai.


“Tuan Muda, maafkan aku! Aku tidak punya pilihan lain!” Tuan Murai mencoba membuat Firon mengerti tentang tindakannya. Namun ia juga tidak habis pikir, ilmu apa yang dimiliki anak berusia tujuh tahun itu sehingga mampu mendengar suara Komandan Jio yang berada pada jarak ratusan meter. Apalagi mereka berada diruang yang tertutup.


“Tuan Murai tidak usah khawatir. aku mengerti tujuanmu menyerahkan aku kepada mereka!” Firon kemudian melangkah keluar dari terowongan menuju tempat Komandan Jio berada.


Komandan Jio agak terkesan melihat seorang bocah melangkah pelan ke arahnya. Bocah yang sedikitpun tidak menunjukkan sikap gentar di hadapan puluhan prajurit yang hendak membunuhnya. Prajurit yang menyaksikan sikap bocah berumur tujuh tahun itu menjadi takjub dan berdecak kagum.


“Dia sama sekali tidak takut terhadap kita!”


Beberapa orang prajurit saling berpandangan dan saling berbisik.


Tatapan mata Firon begitu dingin. Ia terus melangkah hingga jarak Komandan Jio dan dirinya tinggal tiga langkah.


Meskipun Komandan Jio agak terkesan dengan keberanian Firon, sedikitpun ia tidak waspada walaupun dirinya sudah berada dalam jangkauan Firon. Baginya, Firon hanyalah seorang bocah gila yang sudah tidak punya urat takut.


Saat Komandan Jio menoleh ke arah pasukannya hendak memberi perintah untuk meringkus Firon hidup-hidup, tiba-tiba sebuah tusukan pedang yang terbuat dari kayu menancap tepat di mata sebelah kirinya.


“A..apa yang kau lakukan bocah?” Komandan Jio menjerit sangat keras. Ia benar-benar tidak menyangka bocah yang dianggapnya bukan sebuah ancaman itu berani menyerangnya.


“Itu adalah bayaran yang harus kau terima karena mengganggu ketentraman kami!” Firon terlihat puas telah melukai Komandan Jio.

__ADS_1


“Aku tahu kalian pasti akan membunuhku, untuk itu aku ingin memberi bekas agar kau bisa selalu mengingatku pak tua!” Firon kemudian melompat hendak menyerang kembali Komandan Jio.


Sebelum Firon berhasil mendaratkan pukulannya di tubuh Komandan Jio, sebuah pedang tiba-tiba tertancap di punggungnya hingga menembus dadanya.


Firon mengerang kesakitan. Darah segar mengalir dari mulut dan hidungnya. Prajurit yang menikamnya dari belakang kemudian mencabut pedang yang masih tertancap di tubuh Firon.


Firon kemudian jatuh ke tanah tak sadarkan diri.


“Komandan, dia sudah mati. Sekarang kita apakan mayatnya?” Ucap prajurit yang telah menikam Firon.


“Cincang-cincang dia! Aku tidak ingin ada yang tersisa kecuali kepalanya!” Ucap Komandan Jio sambil memegang mata kirinya yang masih mengalirkan darah. Ia ingin sekali menghancurkan seluruh tubuh Firon sebagai balasan atas perbuatannya, namun ia harus menyisakan kepalanya untuk ia bawa ke hadapan Jenderal Moo.


***


“Apa yang terjadi? Apakah aku terlambat?” Malaga menjadi khawatir melihat kondisi gerbang sekolah dari kejauhan.


Malaga kemudian terbang menggunakan sayapnya ke arah sekolah. Ia begitu kaget ketika melihat Firon sudah terkapar di tanah berlumuran darah.


“Ah.. aku sudah terlambat!” Malaga merasakan kekecewaan yang amat mendalam karena tidak sempat menolong cucu Sintoga satu-satunya.


Melihat salah seorang prajurit hendak menebas leher Firon, Malaga dengan secepat kilat mengambil tubuh Firon menggunakan Ilmu Teleportasi yang ia miliki.


“SSHAAPP”


Pedang milik prajurit yang hendak menebas leher Firon itu menghantam tanah.


“Apa-apaan ini?” Prajurit tersebut terkejut bukan main.


“Kemana mayatnya?”


Semua orang yang menyaksikan kejadian itu terlihat kebingungan. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang bisa mencerna peristiwa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


“Sial, Geledah semua tempat ini. Jangan biarkan ada yang lolos!” Perintah Komandan Jio geram.


__ADS_2