PENGANTIN PRIA TERKUTUK

PENGANTIN PRIA TERKUTUK
Perasaan Yang Tidak Menentu.


__ADS_3

Yogi yang masih menggandeng tangan Lusi berdiri di depan gerbang sekolah, seolah-olah mereka sedang menunggu seseorang.


"mana mobil mewah mas itu?"


"bentar lagi datang."


Jawaban yang begitu singkat dan tidak berapa lama kemudian, mobil mewah nan besar parkir berhenti di hadapan mereka.


Lalu keluar laki-laki yang masih sangat muda dan membuka pintu mobil dengan cara menggesernya ke samping.


"silahkan tuan, silahkan nyonya."


Ujar pria muda itu, dan Lusi sangat mengagumi Nya dan langsung naik ke dalam mobil mewah itu.


"waouuuuu......


berarti mas Yogi benar-benar kaya raya ya, boleh lihat rumah nya mas Yogi?"


"boleh aja, emangnya sudah selesai ujiannya?"


"sudah mas, berarti Lusi bisa ke rumah mas Yogi kan?"


Yogi hanya mengganguk dan Lusi begitu bahagia, tapi sejurus kemudian.....


"oh.....


mas Yogi ngak macam-macam kan sama Lusi? "


"kamu boleh ajak seseorang yang menurut mu cocok untuk menemani mu."


Setelah Yogi mengatakan demikian lalu Lusi langsung meraih handphone jadulnya, dan kemudian terdiam.


"mas Yogi....


handphone Lusi mati, karena memang sudah sangat jadul, tapi masih bisa di gunakan kok."


Yogi langsung memberikan handphone keluaran terbaru yang sudah siap pakai kepada Lusi.


"waouuuuu......"


Lusi bergumam dan sangat mengagumi handphone keluaran terbaru itu, lalu menatap tajam ke arah Yogi.


"berhenti.... berhentiiiii......."


Pria muda yang menyetir mobil mewah itu langsung menepi karena teriakan dari Lusi, sementara Yogi masih terlihat syok.


"kamu kenapa Lusi?"


Tiba-tiba saja Lusi menangis dan meletakkan handphone keluaran terbaru itu di dekat Yogi.


"Lusi memang anak yatim piatu yang miskin, tapi Lusi tidak akan mengobral tubuh dan harga diri hanya demi handphone dan kemewahan semata."


"hei....


jangan drama gitu, handphone mas berikan kepada mu agar Lusi menghubungi seseorang yang menurutmu pantas untuk menemani mu, kalau ngak mau sini kembalikan handphone Nya."


Dengan begitu cepatnya Lusi kembali mengambil handphone itu lalu tersenyum lebar.


"di handphone itu cuman ada tiga tiga kontak nomor, pertama kontak calon suami ini, kedua kontaknya Desi dan yang ketiga kontak handphone pak Rado supir pribadi mu."


muach.....


Dengan gamblangnya Lusi langsung mencium pipi kanannya Yogi dan terlihat wajah itu langsung memerah.


"Lusi memanggil kak Desi ya, ayo kita jalan mas, kita jemput dulu kak Desi ke kantor nya."


"ngak perlu, biar Desi yang datang bersama pak Rado ke rumah.


ngak usah kwatir, di rumah ada mpok yang cerewet, tidak mungkin mas macam-macam ke kamu."

__ADS_1


"macam-macam juga ngak apa-apa, kan mas Yogi pria tampan nan kaya raya."


"dasar gadis labil."


Ujar Yogi yang menggelengkan kepalanya, dirinya begitu terkejut melihat sikap Lusi yang berubah-ubah dalam hitungan menit.


Akhirnya tiba juga di halaman rumah mewah milik Yogi.


"waouuuuu.......


Bukan rumah lagi ini namanya, tapi ini adalah istana."


"Lusi....."


Seseorang memanggil Lusi dari arah belakang dan ternyata itu adalah Desi, putri pemilik kos nya.


"Benar-benar istana ya dek, kalau di buat kontrakan mungkin bisa dapat seratus pintu kali ya."


ck....ck.....ck.....


Ujar Desi yang mengagumi rumah kediaman Yogi yang persis seperti istana.


"masih kurang rumah kontrakan mbak itu ya?"


"iya.....


haaaaaaaa......"


Desi baru sadar kalau yang bertanya kepadanya adalah Yogi, karena dirinya yang masih mengagumi rumah mewah bak istana itu.


"maaf pak tadi Desi ngak sopan."


"santai aja, tapi saya salut melihat Mu. gadis dengan jiwa pengusaha kontrakan, mungkin nantinya kamu bisa menambah jumlah kontrakan mu."


"amin....."


Ucap Desi yang langsung mengamini ucapan sang bos tersebut.


"mas Yogi.... mas Yogi...... mas Yogi........"


"cukup sekali aja manggil nya, saya itu ngak tuli."


"heeee......."


Lusi hanya cengengesan saat menanggapi ucapan dari Yogi.


"kamar mas Yogi yang mana?"


"neng ngapain nyariin kamar nak Yogi?"


Suara perempuan dari belakang mereka yang datang membawa minuman dan juga cemilan.


"mau tidur sama mas Yogi mpok."


haaaaaa.......


Wanita paru baya itu hanya menghela napasnya dan menundukkan wajahnya, sementara Yogi masih terlihat stay cool.


"nama saya Lusi mpok, dan ini kak Desi. kami berdua adalah kakak beradik tersumpah, dimana kami berdua sudah bersumpah untuk menjadi kakak beradik."


Kali ini Yogi tidak bisa stay cool, dia akhirnya tertawa akan ucapan Lusi yang mengatakan kakak beradik tersumpah.


"panggil aja mpok Uni, kepala asisten rumah tangga di rumah ini."


"mpok Uni....


si mpok yang cerewet itu kan?


hahahaha..........

__ADS_1


bukan disini Lusi bertemu dengan mpok-mpok yang cerewet, ini...ini nih mama nya kak Desi adalah mpok-mpok yang cerewet."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Ujar Lusi yang seolah-olah mengolok-olok mpok Uni dan terlihat si mpok itu menatap tajam ke arah Yogi sementara Yogi mengalihkan pandangannya, lalu mpok Uni memberikan nampan yang berisi minuman kepada Desi dan kemudian.....


"ahhh.... auhhh..... ahhhhhh.....


ampun mpok ampun......."


Mpok Uni menjewer kuping Lusi, sehingga gadis belia itu kesakitan.


Terlihat kerah kemeja Lusi tersingkap sehingga bahu nya terlihat jelas.


"ah....ah....haaaa......"


Yogi lagi-lagi merasa kesakitan dan rasa sakit seperti berasal dari dadanya, karena Yogi memegang dadanya.


"mas....mas Yogi...."


Lusi seketika mendekati Yogi yang sudah terduduk di lantai, lalu dada yang sakit langsung dipegang oleh Lusi.


"mas....."


Lusi memanggilnya karena Yogi sudah terlihat sudah mulai membaik.


"di punggung kananku mu itu apa?"


"tanda lahir mas Yogi, dulu itu masih kecil tapi bertambah lebar sedikit demi sedikit seiring bertambahnya usia Lusi.


emangnya kenapa mas?"


Sejenak Yogi terdiam dan tatapannya yang layu lalu menunduk.


"emangnya kenapa mas? apa yang terjadi mas Yogi?"


"tolong bantu mas ke kamar, mau istrihat."


"mas ngusir kami ya."


"ngak Lusi, mas hanya ingin istrihat sebentar."


Akhirnya Lusi bersama Desi memapah tubuh Yogi ke dalam kamarnya.


"buset dah.....


ini kamar atau ruangan kantor gubernur?"


"emangnya kak Desi pernah ke kantor gubernur?"


"pernah..."


uhmmm......


Lusi dan Desi asyik mengobrol tanpa memperdulikan Yogi yang mereka papah, dan akhirnya Yogi bergumam dan kedua gadis itu hanya bisa tersenyum.


"maaf ya pak."


"cepat antar aku ke ranjang."


Kedua gadis itu langsung merebahkan tubuh Yogi ke ranjang yang besar nan mewah itu dan lagi-lagi Desi dan Lusi malah mengagumi ranjang itu tanpa memperdulikan Yogi.


"orang lagi sakit tapi kalian berdua malah asyik memperhatikan harta ku."


"mas Yogi ngak mencerminkan lagi sakit, santai aja.


Mas itu hanya memarkan harta kekayaan mas aja ke kami berdua.


ngomong-ngomong mas Yogi bayar pajak ngak?"

__ADS_1


Yogi menekuk jidatnya saat menanggapi ucapan dari Lusi.


__ADS_2