
Lusi hanya melihatnya tanpa melakukan apapun terhadap Santi.
"kenapa Santi? untuk apa kau kemari?"
Santi mulai mengangkat pandangannya dan kemudian menghapus air matanya.
"aku mintak maaf ya, aku datang ke sini untuk mintak maaf.
Kamu kenal sama Gebi?"
"iya, emangnya kenapa dengan Gebi?"
"Gebi sudah meninggal karena bunuh diri, itu semua salahku.
Aku terlalu percaya akan ucapan Suci, sehingga aku ikut-ikutan mengatai Gebi sebagai simpanan om-om.
Aku benar-benar menyesal, sekalipun Gebi jual diri, itu tidak akan merugikan ku.
Entah kenapa aku, ikut-ikutan mengatai Gebi demikian.
Aku benar-benar merasa bersalah dan menyesal melakukan itu semua.
Tidak akan pernah aku ulangi lagi, aku benar-benar menyesal."
"jadi kamu beranggapan kalau aku akan bunuh diri seperti Gebi, hanya karena fitnah itu ya?"
Santi kembali menghapus air matanya yang mengalir.
"iya.....
aku ngak mau ada korban lagi, korban karena fitnah.
Gebi bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya karena ikut membantu kakak iparnya jual produk kecantikan.
Saya benar-benar bodoh dan ikut terpancing akan ucapan Suci.
Jikapun itu benar, toh juga ngak gunanya untuk ku.
Bukan aku yang tercela tapi orang yang melakukannya."
Lusi memeluk Santi, mungkin karena iba melihatnya yang menangis, sampai-sampai ucapannya sulit dimengerti karena tangisannya.
"aku maafkan, dan semoga kamu tidak mengulanginya lagi.
jadikanlah ini sebagai pembelajaran yang berharga untuk mu, dan jangan suka menyebarkan fitnah yang belum tentu kebenarannya.
Untuk apa mengurusi orang lain, lebih baik saling introspeksi diri sendiri dan jangan ikut campur.
Coba kamu tebak, kenapa aku bisa tinggal di kontrakan yang mewah ini?"
Santi melepaskan pelukannya dan kemudian menatap Lusi.
"kata teman-teman gambar desain bagus dan kamu juga bisa menjahit.
Aku juga melihat mesin jahit itu, berarti kamu menjahit lalu menjualnya kepada orang lain.
Teman-teman yang lain berkata, kalau mendiang mama mu adalah tukang jahit yang terkenal.
Mungkin kamu belajar darinya, sehingga sudah mahir menjahit serta membuat pola pakaian.
Berbeda dengan ku, yang baru saja meraba di dunia tata busana.
__ADS_1
Kamu sudah mahir sementara aku masih sangat pemula.
Aku juga tau, kalau kamu yang membuat dress milik Tifani.
Tifani berkata bahwa kamu yang menjahit dress dan Tifani membayar dua juta rupiah, karena itu wajar.
Dress cantik dan sangat elegan, dari situ aja sudah jelas sumber uang nya.
Santi benar-benar menyesal karena telah ikut-ikutan memfitnah Gebi dan juga kamu Lusi.
tolong maafkan aku ya."
Lusi tersenyum dan kemudian memeluk Santi, dan pelukan itu berbalas.
"dah jam tujuh malam loh, ntar di cariin."
"dah pamit kok tadi sama mama, dan mama ngak terlalu risau karena diantar oleh kakak kemari.
Kakak ku itu rekan kerjanya kak Desi, anak yang punya kontrakan ini.
Dari kakak lah aku tau kamu tinggal disini, karena kamu sudah kerja di tempat kerja kakak ku.
Binsar fashion dan kakak ku sebagai tenaga administrasi di sana, aku murni karena ingin minta maaf.
Tidak ada alasan lain, bahkan kakak ku ngak kalau aku pernah mengatai mu demikian.
Nanti kakak yang menjemput ke sini, ntar kami sama pulang nya.
tapi masa tamu ngak kasih minum atau makanan ringan gitu?"
"idihhhh.....
kalau begitu mari kita ke dapur, kita masak dulu baru bisa makan. karena begitu lah aturannya."
sekalian belajar masak sama kamu deh."
Akhirnya mereka berdua langsung menuju dapur dan memilih memasak mie untuk mereka berdua.
Makanan berupa mie dan teh racikan Lusi sudah tersaji di meja.
"Lusi......."
Mereka berdua gagal menyuapkan mie itu ke mulut, karena ada gangguan.
Siapa lagi kalau bukan Desi yang datang bersama perempuan seusianya.
"kak Fitri...."
Ujar Santi dan mie yang hendak di makan nya langsung disambar kakaknya.
"jangan gitu lah, itu mangkuk masih ada lagi mie nya, ambil sendiri lah kakak-kakak cantik."
"iyaa....."
Ucap Desi lalu menarik tangan temannya untuk mengambil mie, tidak berapa kemudian mereka berempat sudah makan bersama-sama di meja makan.
"enak banget mie nya, siapa yang masak?"
"kami berdua kak."
Jawab Lusi dan Fitri yang bertanya meragukan kata berdua yang di ucapkan oleh Lusi.
__ADS_1
"Santi ikut masak?"
"iya loh kak, emangnya kenapa?"
"ngak pecah kan kuali mu?"
"ngak kak, apaan sih? masa gara-gara Santi ikut masak kuali pecah?"
haha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha haha
Desi dan Fitri hanya tertawa, sementara Lusi masih bengong dan Santi terlihat kesal karena ucapan kakaknya.
"kalian berdua saling kenal ya?"
Pertanyaan dari Desi, membuat ke-dua gadis belia itu saling bertatapan.
"iya kak Des, kami berdua satu sekolah waktu SMP dan lanjut ke SMK tata busana.
Hanya beda kelas sekarang dan kami berdua seumuran."
"kakak baru tau kalau Santi punya teman jago masak, biasanya hanya tau makan aja."
"masa sih Fit? berarti mereka berdua ini ngak terlalu akrab dong."
"iya iya....."
Santi langsung menyahuti omongan kedua gadis dewasa itu.
"kami berdua bukan teman akrab, hanya sebatas teman satu sekolah aja.
bahkan Santi sering membuly Lusi disekolah."
"sudahlah Santi, kita kan sudah saling memaafkan."
"haaaaa......"
Seketika Fitri terlihat kaget atas ucapan adiknya.
"iya kak, Santi membuly Lusi disekolah. itu dikarenakan Santi terhadap Lusi yang punya banyak teman dan selalu punya barang-barang yang baru.
Karena kecemburuan itu yang akhirnya membutakan mata hati Santi dan pada akhirnya termakan omongan teman kami.
Tidak lain saudara tirinya Lusi sendiri, namanya Suci.
Suci yang menyatakan kalau Lusi ini simpanan om-om, sehingga bisa memiliki barang-barang yang bagus."
"sudahlah Santi, itu masa lalu. satu hal yang harus Santi ketahui sobat.
Suci itu bukan saudara tiri Ku, perempuan itu adalah hasil perselingkuhan mama nya dengan pria lain.
Suci bukan anak kandung Papa, itu terbukti dengan hasil tes DNA dan mama nya mengakuinya."
Santi, dan kakak nya serta Desi. hanya bengong mendengar ucapan Lusi, dan itu seperti berita yang mengejutkan terutama buat Santi.
"begitu ya, tapi ya. Santi baru sadar kenapa Suci menebarkan fitnah itu.
Waktu Santi dan mama pergi ke pusat perbelanjaan yang simpang tiga itu, untuk membeli bakal kain untuk tes nanti.
Disitu aku melihat Suci bersama om-om dan seperti om-om itu temannya Papa.
Mereka terlihat sangat mesra dan seperti orang pacaran, dan benar aja. pria itu temannya Papa.
__ADS_1
Namanya om Alex dan merupakan rekan bisnis Papa."
Dengan informasi itu, mereka semakin bengong. ternyata si penyebar fitnah itu bertujuan untuk menutupi aibnya sendiri.