
Yogi masih terus menatap Lusi yang terlihat cengengesan, sementara Yogi sudah jauh lebih tenang.
"kenapa mas Yogi? naksir ya sama Lusi."
"iya...
karena kamu mempu membuat jantungku sakit dan berdebar kencang."
"cie.....cie......
kak Des........
Lusi di gombal sama pria yang tampan dan kaya raya."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Desi dan Lusi malah tertawa menanggapi ucapan dari Yogi, padahal yang diucapkan oleh Yogi benar adanya dan bukan gombal rayuan seperti yang di dalam benak Lusi.
"Lusi....
bisa kita bicara empat mata tanpa Desi?"
"disini dan berduaan ya?
mas Yogi mau ngapain? mau menjamah tubuhku ya?"
"ngak Lusi, ada beberapa hal yang mas tanyain sama kamu."
Desi memberikan isyarat kepada Lusi agar gadis belia itu mau belajar bicara empat mata dengan pria yang berbaring di ranjang itu.
"Lusi itu masih gadis belia pak, jika bapak memperkosa nya itu artinya bapak pedofil dan saya tidak akan ....."
"sssttt.....
kamu tenang aja, saya adalah pria yang selalu menepati janji, Desi tenang aja dan jangan pulang dulu.
Jika memerlukan sesuatu mintak aja sama mpok Uni."
Yogi memotong pembicaraan Desi yang begitu menghawatirkan Lusi, dan Ia hanya bisa patuh akan perintah sang bos tuan muda.
Desi sudah keluar dari kamar mewah itu nan luas itu dan seketika itu juga Lusi langsung naik ke ranjang dan duduk disebelah Yogi.
"emangnya mas Yogi mau ngomong apa? sepertinya sangat urgen sekali."
Yogi malah tersenyum melihat tingkah dari Lusi yang menurutnya sangat lucu.
"apa tanda lahir mu terasa sakit?"
Lusi terdiam sejenak lalu meraba tanda lahir itu di pundaknya.
"Sakit itu akan muncul dari area tanda lahir ketika Lusi sedih, dan untuk pertama kalinya sakit yaitu ketika mama nya Lusi meninggal tiga tahun yang Lalu.
Lalu waktu Lusi mengetahui kalau aku bukan anak kandungnya Papa.
Kemudian terkadang sangat sakit ketika anak-anak Papa dan istrinya barunya menyakiti Lusi.
Lusi yang kerja dan Mak lampir itu yang mengambil gaji Ku, di tambah lagi sepulang Lusi harus masak untuk mereka dan mereka hanya memberikan sedikit makanan untuk Lusi.
__ADS_1
Lusi harus tersenyum untuk mengurangi rasa sakit dari tanda lahir ini, karena kesedihan Lusi yang membuat rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.
Pundak ini terasa seperti terbelah mas, pedih dan teramat sakit. tapi itu hanya terjadi ketika Lusi merasa sedih.
Menurut mas Yogi itu karena apa ya?"
"Belum saatnya kamu mengetahui nya, tapi mas akan menjaga agar Lusi tidak merasa sedih lagi sampai tiba waktunya."
"tiba waktunya dan itu kapan waktunya mas?"
"setelah kamu dewasa Lusi."
"dewasa?....
kak Desi mengatakan kalau Lusi sudah dewasa, karena Lusi sudah menstruasi.
Dewasa yang mas Yogi maksud apa?"
"itu kamu baru dewasa secara wanita, tapi belum dengan jiwa mu."
"idih.....
ngomongin jiwa, dah kyak di film-film aja.
oh iya mas, Lusi juga punya kalung seperti yang mas punya itu loh.
Batu berwarna merah dan sejenis kayu kecil yang keras dan di tengahnya di lubang lalu di kasih tali yang kuat dan terkadang sangat wangi."
Yogi kemudian bangkit duduk lalu melepaskan kalung yang dikenakannya itu, kemudian Lusi mengeluarkan kalungnya dari tas ranselnya.
"di sekolah Lusi ngak boleh memakai aksesoris mas, makanya Lusi simpan di dompet kecil ini.
Sampai sekarang Lusi masih belum bingung maksud dari ucapan mama mengenai gadis cantik yang terpilih.
Apa mas Yogi maksudnya?
terpilih disini maksudnya apa mas?"
"Lusi sudah makan? yuk makan kita makan."
Yogi mengalihkan topik pembicaraan, seolah-olah dia merahasiakan sesuatu dari Lusi.
Sementara Lusi sudah memasang wajah cemburut karena Yogi mengalihkan topik pembicaraan.
"sudah nurut aja, ntar juga ada waktunya untuk menceritakan semuanya."
"hadehhh...."
Lusi kemudian menindih tubuh Yogi, akan tetapi malah Yogi yang berada di atas tubuh Lusi.
Kemudian Yogi hanya mengecup kening Lusi dan kemudian bangkit lalu berdiri di samping ranjang.
"terimakasih karena Lusi sudah hadir di dalam hidup Ku, sekarang aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menikahi dan waktu yang tepat itu adalah sesuai dengan keinginan mu yang pertama."
"keinginan ku yang pertama?"
"iya Lusi, kamu harus SMK tata busana sesuai keinginan mu lalu kuliah dan kerja minimal setahun.
__ADS_1
itukan keinginan pertama kamu?"
Lusi mengganguk lalu beranjak keluar dari ranjang kemudian berdiri di samping Yogi seraya menatap nya dengan tatapannya yang aneh.
"mas sudah memberikan banyak hal pada Lusi, apa tidak ada yang mas inginkan dari Lusi?"
"jelas ada Lusi, mas menginginkan mu untuk jadi istriku dan hanya perlu menunggu."
"hadehhh.....
iya deh, bicara sama mas Yogi sama dengan bicara dengan ibu Yuli guru BK itu, ribet dan ribet.
Yuk kita makan aja mas Yogi tampan...."
Yogi hanya tersenyum dan tangannya langsung di gandeng oleh Lusi keluar dari kamar.
Kemudian menuju ruang makan dan meja makan itu sudah terhidang banyak makanan yang terlihat sangat lezat dan juga mewah.
"kak Desi..... oh....kak Desi....."
"iya ampun.....
orangnya cantik tapi bar-bar juga ya.....
begini nih kalau sudah gabung sama mpok-mpok."
"bukan hanya gabung sama mpok-mpok, tapi juga preman pasar mpok Uni."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Mereka tertawa bersama dan muncul Desi dari arah dapur.
"kakak ngapain dari dapur?"
"belajar masak sama si mpok, seperti kata mama di rumah, bisa memasak bagi seorang perempuan adalah nilai plus nantinya.
Kakak iri loh sama Lusi, karena Lusi jago masak."
"Lusi yang melihat kakak, punya mama yang baik hati, penyayang dan juga penyabar serta tidak pemarah, punya Papa yang luar biasa, punya adek-adek dan juga punya pekerjaan yang layak dan termasuk pekerjaan yang luar biasa fantastis."
Lusi termenung dan kemudian langsung dipeluk oleh Desi.
"haloo anak gadis....."
Kedua gadis itu terhentak karena suara mpok Uni yang kuat dan mengedarkan mereka berdua.
"itulah kelebihan dan kekurangan seseorang tapi intinya disini adalah bersyukur, karena sebagian bisa di pelajari dan sisanya adalah kerja keras kita.
belajar untuk bisa selalu bersyukur karena dengan bersyukur semua pasti terasa indah dan menyenangkan.
bersyukur atas apa yang telah kita miliki dan teruslah berusaha untuk melakukan yang terbaik."
"mpok Uni......"
Ujar Lusi setelah mendengarkan nasihat darinya dan menarik mpok Uni dan berpelukan bersama.
"uhmmmm...
__ADS_1
jadi makan ngak?"
Akhirnya mereka sadar, kalau tujuan mereka ke meja ini adalah untuk makan dan bukan untuk berpelukan ataupun untuk bersedih.