PENGANTIN PRIA TERKUTUK

PENGANTIN PRIA TERKUTUK
Bebas Dari Tuduhan.


__ADS_3

POV Rana.*


Rana dan putri nya yang bernama Suci sudah dibebaskan oleh polisi, dan tentunya Suci sangat heran kenapa mereka berdua dilepaskan begitu saja.


"mama lapar nih, kita warung makan itu ya."


"mama punya duit emangnya?"


"kalau ngak punya duit, ngapain mama mengajak mu makan."


Jawab mamanya dengan sinis, lalu mereka berdua menunju warung makan tersebut.


Makanan yang mereka pesan sudah tersaji dan langsung melahapnya seketika itu juga.


"ribet banget pakai cadar ini, bisa ngak Suci buka?"


"biar semua orang yang disini lari melihat keadaan wajah mu itu?"


Iya....


Begitulah keadaan dan penampilan Suci, yang harus mengenakan pakaian serba tertutup dan memakai cadar alias penutup wajahnya, untuk menutupi wajahnya yang mengerikan.


Wajahnya sedemikian rupa disebabkan oleh keganasan dari para istri dimana suaminya di gaet oleh Suci.


Akhirnya mereka selesai makan dan istrihat sejenak sehabis makan.


"kenapa kita dilepas begitu saja ma, kenapa hanya Denan yang di tahan?"


"Denan berkorban untuk kita berdua, Denan mengaku kalau kita berdua tidak tau apa-apa dan hanya Denan yang mempunyai rencana ini semua."


"loh kok bisa?"


"bisa aja Suci....


ternyata Denan menaruh barang-barang kita di bak truk itu.


Denan berkata kalau kita di ajak nya pindah rumah, dan kita berdua tertidur di samping nya dan memang sengaja ingin menghabisi nyawa si Dila itu.


mama iya iya aja, toh juga percuma juga si Denan hidup bebas.


Karena Ia menyusahkan kamu nantinya, Denan itu sudah ketergantungan terhadap narkoba dan biar saja polisi yang mengurusnya."


"iya sudahlah kalau begitu, terus kita mau tinggal dimana ma?"


"kan kita masih punya rumah, rumah orangtuanya Lusi."


"kan di kunci sama bude nya ma?"


"kita bongkar aja, itu aja kok repot."


Lagi-lagi mamanya menjawabnya dengan gampang dan tanpa basa-basi mereka berdua langsung pulang setelah membayar makanan yang telah meraka makan.


Sesampainya di rumah itu dan langsung membobol pintu dan akhirnya mereka berdua bisa masuk ke dalam rumah itu.


"Suci.....

__ADS_1


Mari kita cari sertifikat rumah ini, barangkali ada di gudang yang di tempati Lusi saat di rumah ini."


Ujar mama nya dan langsung mencari ke gudang tempat Lusi selama gadis itu berada di rumah itu.


Mencari kesana kemari dan tidak menemukan apapun, dan pada akhirnya Suci menemukan lemari kecil.


"ma..... mama....."


"apaan?"


"lihat ini ma...."


Dalam lemari tersebut, terdapat uang beberapa gepok pecahan lima puluh ribu rupiah dan emas yang berkilau serta seperti sertifikat.


Mamanya Suci langsung memeriksa sertifikat itu dan seketika tersenyum.


"inilah sertifikat nya dan sudah atas nama Lusi.


kita gadaikan aja rumah ini ke rentenir, dan ambil semua uang dan emas itu."


"iya ma....


kita ngak perlu kerja lagi, dengan uang dan emas ini, sudah cukup untuk kita."


Ujar Suci dan kemudian melihat tas yang sudah usang tapi masih bisa untuk menampung emas dan uang dari lemari kecil itu.


Setelah mengumpulkan uang dan emas tersebut, lalu mereka berdua keluar dari gudang tersebut menuju ruang tamu rumah yang sudah berdebu itu.


"rumah ini sudah kotor dan penuh dengan debu dan kecoa ma.


"iya sudah, tapi kita ke toko pakaian dulu ya. mama sudah sumpek memakai pakaian mama ini."


"sama ma."


Mereka berdua langsung pergi dari rumah tersebut dan masih berada di halaman rumah sang mama menghentikan langkahnya.


"kenapa ma?"


"apa ngak lebih baik kita menggadaikan sertifikat rumah yang kita dapatkan ya? karena di ujung lorong sana ada rentenir yang siap menampung segalanya yang berharga."


"boleh juga ma."


Ide mama nya di terima olehnya dan langsung berjalan ke arah ujung lorong dan akhirnya menemukan rumah yang sangat besar.


"ngapain?"


Tanya seorang penjaga kepada mereka berdua dan langsung di hadapi oleh mama nya Suci.


"begini loh pak, suami ku itu saat ini sedang berada di rumah sakit dan kami butuh biaya untuk untuk membayar biaya rumah sakit.


Suamiku bilang untuk menggadaikan rumah yang di ujung sana, bercat warna hijau.


Itu rumah suami ku, peninggalan dari kedua mendiang orang tuanya."


"rumah yang dulunya ada penjahit kan?"

__ADS_1


"iya dan itu istri pertama suamiku yang meninggal karena sakit, dan saya ini istri kedua."


"masuk."


Penjaga itu mempersilahkan Suci dan mama nya untuk masuk dan terlihat penjaga itu membisikkan sesuatu kepada seorang pria yang berbadan gempal.


Berada di teras rumah itu, dan pria yang berbadan gempal itu meminta kepada kedua wanita itu untuk duduk.


"butuh berapa uang?"


"lima puluh juta pak, karena biaya rumah sakit suamiku itu dua puluh lima juta.


Nanti siswanya untuk biaya berobat jalan dan juga modal ku untuk berjualan sayur mayur di pasar, dan menggunakan lapak jualan dari mertuaku yang dulu."


"mana jaminannya?"


Mamanya Suci langsung merogoh tasnya dan mengeluarkan map kuning, lalu map tersebut di serahkan kepada pria berbadan gempal itu.


Lalu pria tersebut membuka map kuning itu, dan ekspresi itu sangat tidak bersahabat.


"maksud ibu apa? kok memberikan buku tulis biasa sebagai jaminan, ibu mau mempermainkan saya iya?"


"apaan sih pak, ngak mungkinlah. itu sertifikat rumah suamiku dan memang atas nama putri pertamanya."


plak....


Pria itu melemparkan dokumen itu dan jatuh ke atas lantai.


"lihat itu, bukan sertifikat rumah tapi buku tulis biasa. gimana sih?"


"kalau bapak ngak mau meminjamkan uangnya, tapi jangan seperti itu dong pak."


Ungkap nya dengan kecewa terhadap pria tersebut, dan pria yang berbadan gempal itu memanggil penjaga rumah Nya.


"Roni.....


Coba kamu lihat, apakah itu sertifikat rumah atau hanya buku tulis biasa?"


"buku tulis biasa lah bos, kedua mata ini masih sehat bos."


Jawab anak buahnya dan kemudian mengusir kedua perempuan itu dengan kasar karena merasa di tipu.


"sok alim tapi penipu."


Ujar penjaga itu dan kemudian menutup pintu gerbang rumah tersebut, terlihat Rana dan putrinya hanya bisa bengong akan perlakuan penjaga dan rumah tersebut.


"mereka kenapa ya? sudah jelas-jelas ini sertifikat rumah tapi kenapa mereka bilang ini hanya buku tulis biasa?"


"mungkin mereka lagi mabuk kali. Kalau gitu kita toko pakaian aja dulu, setelah ini kita jual emas itu.


Hanya dengan emas itu aja, kita sudah bisa beli rumah baru nantinya.


mungkin rentenir itu takut membeli mengambil rumah itu."


Lalu mereka berdua berjalan lagi dan akhirnya menemukan toko pakaian yang besar, dan langsung masuk ke dalamnya.

__ADS_1


Berjalan diantara rak-rak pakaian dan memilih-milih pakaian yang cocok untuk mereka berdua.


__ADS_2