
Tangan Lusi di pegang oleh Yogi yang membuatnya berhenti berteriak, dan gadis belia itu menatap Yogi.
"maaf mas....
Mendiang mama ku itu adalah suku Batak mas, dan mama yang mengajari Lusi bicara bahasa batak hingga mahir."
"emangnya mamanya Lusi berasal dari mana?"
"ngak tahu mas, karena mama lahir dan besar di kota ini.
Dulu mama pernah cerita, kalau almarhumah mama juga pernah menanyakan asal usul dari oppung boru atau nenek dalam bahasa Indonesia nya.
tapi nenek bungkam dan malah marah ketika di tanya asal usulnya, sejak saat itu mama tidak bertanya lagi tentang asal usul mereka.
emangnya kenapa mas?"
Lagi dan lagi Yogi langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Lusi.
prak....plang.....plang.......
Lusi melempar botol minum berbahan stainless itu ke arah Yogi, dan raut wajahnya yang terlihat marah karena merasa di cuekin oleh Yogi.
Lalu Yogi menatap ke arah gadis belia itu dan kemudian tersenyum.
"akan ada waktunya kamu mengetahui segalanya."
"ngak usah sok misterius gitu mas, ngak asyik tau...."
Yogi membalasnya dengan senyuman lalu pergi bersama Aji asistennya.
Susana menjadi hening seketika setelah Yogi dan asistennya itu meninggalkan ruang meeting itu.
Lalu Farel, Desi dan juga Diana mendekati Lusi.
tok...tok....tok.....
"m...a....s...u...k....."
Suara Farel yang kuat membuat mereka terkejut.
Lalu masuk seorang pria berpakaian security berama seorang laki-laki yang masih muda dengan membawa satu karung besar yang diletakkan di atas kepalanya.
"bang Horas......."
Lusi berteriak lagi ketika melihat pria itu dan meminta kepada security itu untuk membantunya menurunkan barang bawaannya.
"kwintansi ini dek?"
Lusi menerima kwitansi itu, dan kemudian menyerahkannya kepada Farel.
Setelah memperlihatkan nominalnya lalu Farel melirik Diana kemudian melirik pria yang dipanggil Lusi dengan sebutan Horas.
"bisa transfer?"
"bisa pak, nomor rekeningnya ada di belakang kwintansi nya."
Seketika Diana mengambil laptopnya dan kemudian mengakses internet banking perusahaan dan melakukan transaksi pembayaran.
"sudah terbayar, apakah kamu mengecek nya?"
"iya pak, sudah masuk kok. karena sudah laporan sms bangking nya ke handphone Ku."
__ADS_1
Lalu pria itu meraih sesuatu dari tasnya dan ternyata itu adalah uang lalu diberikan kepada Lusi.
"terimakasih ya dek Lusi, sering-sering beli ulos sama abang ya.
itu sudah abang diskon dan ini fee untukmu."
haaaaaaaa........
Lagi dan lagi Lusi berteriak, dan.......
"sssttt......
berisik dek, kalau begitu abang pamit ya dan selamat beraktifitas."
"iya bang Horas, hati-hati di jalan ya. sampaikan salam ku ke bou."
Pria yang dipanggil Horas itu hanya tersenyum dan kemudian melambaikan tangannya ke arah Lusi.
"kak Diana, silahkan di cek kak."
Diana langsung mengecek kain tenun ulos itu lalu memperhatikan dengan seksama.
"waouuuuu........
ini semua bagus-bagus......
Lisa...... Marco........ Lisa....... Marco......."
Ujar Diana dan berteriak memanggil rekan kerjanya.
brak.... prak...bram.....
"disini memang tempatnya memang harus nada yang kuat ya."
Mereka yang ada di ruang meeting itu serentak menatap Lusi.
"kalian bayar tuh pintu, dan saya tidak mau tahu. besok pagi pintu itu harus seperti semula."
"siap kak."
Kedua rekan kerja Diana yang masih terduduk di lantai dengan sigapnya menjawab iya kepada Farel.
"hei kalian dua.....
bisa ngak sih kerja nya ngak rusuh kyak gini?"
"maaf kak, tadi refleks ketika mendengar jeritan dari kak Diana, takut nya kak Diana kejepit kedondong mentah."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
"kedondong? kenapa ngak kejepit pisang ambon aja kak."
Hanya Lusi yang tertawa dan menanggapi ucapan dari rekan Diana yang laki-laki itu.
"Diana.....
bawa anggota keluar dari sini, pecah nanti rahim Ku di buat Nya."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Lagi dan lagi Lusi tertawa lepas karena ucapan Farel dan Desi hanya menahan tawa nya karena menghargai atasnya.
__ADS_1
"sejak kapan pemilik kedondong punya rahim.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha."
Ucap Lusi dengan tawa nya yang terbahak-bahak, terlihat Farel memberikan perintah dengan isyarat kepada Desi agar membawa Lusi keluar dari ruangan meeting itu.
Mungkin dia tersinggung karena ucapan Lusi yang mengatakan tidak mungkin pemilik kedondong punya rahim.
Mereka semua yang di ruangan itu langsung meninggalkan ruang meeting dan terburu-buru menuju ruang mode desain.
Sesampainya di ruang mode desain dan Lusi langsung gerak cepat memotong ulos jenis ragi hotang, untuk bagian-bagian yang diperlukan.
Demikian juga Desi, yang membuat rancangan nya sendiri dan kedua gadis mulai bekerja.
"potongan selesai dan tinggal menjahit."
Ucap Lusi kepada dirinya sendiri, lalu melangkah ke arah mesin jahitnya.
"Lusi bisa menjahit?"
"bisa dong kak Farel, mendiang mama yang mengajari Lusi, karena mama itu penjahit khusus kebaya.
Kakak duduk di situ dan jangan ganggu Lusi, nanti aja di komentari ya kak."
"dasar gadis jahat."
Ucapannya dan kemudian melangkahkan ke arah Desi yang juga menjahit model desain miliknya.
"kakak ngapain sih kemari? duduk aja disitu sambil minum teh, gangguin orang kerja aja."
"ihhhhh.....
dasar komplotan gadis jahat....."
Lagi-lagi Farel di usir oleh Desi dan juga di usir oleh desainer yang lain, karena tidak ingin konsentrasi mereka terganggu karena ocehan Farel.
kringg......kring.......
Dengan waktu selama tiga jam yang diberikan kepada para desainer yang berjumlah lima orang tersebut, dan mereka harus memperkenalkan hasil desain mereka dihadapan yang lainnya.
Menuju aula dan desainer yang berjumlah lima orang tersebut membawa karya mereka yang berjumlah dua desain, kecuali Lusi dengan membawa sepuluh desain Nya.
Pakaian yang didesain oleh Lusi sudah dikenakan ke manekin, sehingga harus dibantu oleh security dan juga pegawai yang lainnya.
Dihadapan para penilai dan Lusi yang berdiri disamping hasil desainnya, begitu juga dengan desainer yang lainnya.
Semuanya tampak gugup terkecuali Lusi yang terlihat santai dengan tersenyum lebar ke arah audiens.
Farel yang menjadi pembedah hasil desain dan langsung menuju ke arah Lusi.
"ngapain loh cengengesan?"
"kak Farel, ini loh kak. Lusi rasanya bahagia banget karena ini pertama kalinya Lusi mempamerkan hasil jahitan Lusi ke orang-orang hebat yang ada dihadapan ku ini."
"kamu yakin kalau hasil desain mu itu di produksi massal?"
"entahlah ya kak, yang penting pamer aja dulu. diterima atau ngak itu urusan nanti."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Jawaban Lusi langsung mengundang gelak tawa, dan hanya Farel yang terlihat jengkel dengan jawaban dari Lusi.
__ADS_1