
Perlahan-lahan Yogi melangkah kakinya ke arah ranjang dan kemudian memperhatikan Aji yang masih belum sadarkan diri.
"nikmatilah kenangan mu itu, agar kamu mengetahui kebenarannya dan kamu berhak menentukan nasib sendiri."
Ucap Yogi dan kemudian melangkahkan kakinya ke arah kasur lalu merebahkan tubuhnya di sofa.*****
Dari sebuah sudut rumah, seorang anak kecil yang mungkin berusia sekitar delapan tahun dan menangis histeris melihat kedua orangtuanya tewas dibunuh oleh tiga orang yang memakai penutup kepala.
Kedua orangtuanya tewas di tikam berkali-kali menggunakan pisau di area perutnya, hingga mengeluarkan banyak darah.
Lalu keduanya jatuh ke lantai, dan setelah memastikan kedua korbannya meninggal, ketiga pembunuh itu membuka topengnya.
"Aji kemana?"
Salah satu pembunuh itu bertanya akan keberadaan Aji, yaitu anak dari orang tua yang mereka bunuh.
"Aji berada di tempat nenek nya, tadi sore di jemput dan kemungkinan besok akan kembali ke sini."
"baiklah kalau begitu, biar tidak meninggalkan jejak. kita harus membakar rumah ini."
Ujar pria yang bertanya barusan, sementara Aji kecil yang bersembunyi di balik tirai di sudut ruangan itu berusaha menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.
Dengan mengendap-endap Aji keluar dari persembunyiannya, lalu masuk ke arah kamar kedua orangtuanya.
Setelah sampai di kamar tersebut, Aji mengambil plastik berwarna hitam dan segera pergi dari kamar tersebut dengan cara mengendap-endap.
Akhirnya Aji berhasil keluar dari rumah dan bersembunyi di taman kecil di depan rumah, disitu terlihat ketika pria pembunuh kedua orangtuanya sedang menyiram sekeliling rumah.
Kemudian mereka bertiga berkumpul di samping rumah, lalu salah satu diantara pria itu melemparkan korek api yang sedang menyala lalu rumah itu terbakar.
"sudah aman, saatnya kita menikmati semua harta kekayaannya."
"surat-surat tanah dan juga surat-surat berharga lainnya gimana?"
Sanggah dari salah diantara mereka bertiga dan yang berkata barusan menolehnya.
"kita tidak memerlukan itu, dengan alasan bahwa rumah ini terbakar. kita hanya perlu Aji dan membawa untuk mendapatkan semua harta kekayaan itu."
Pria yang bertanya itu akhirnya diam dan setelah yakin rumah itu terbakar lalu mereka bertiga pergi meninggalkan rumah tersebut.
Dengan membawa plastik hitam itu, Aji kecil itu berjalan menelusuri gelapnya malam.
__ADS_1
Langkah demi langkah dan akhirnya tibalah di sebuah halaman rumah yang sangat mewah dan seperti aji kecil itu sudah paham membuka pintu gerbang itu.
Lalu mengetuk pintu dan keluarlah seorang pria muda.
"ayah berkata, jika terjadi sesuatu kepada ayah dan ibu, maka Aji harus mendatangi tuan.
Mulai saat ini, Aji yang menggantikan tugas ayah untuk melayani mu tuan."
"masuk lah adek kecil, suatu saat nanti kamu akan mengetahui kebenarannya.
Saya tidak bisa mencegah keserakahan keluarga mu, dan kamu akan dalam perlindungan Ku.
Masuk dan istrihat, untuk saat ini. lupakanlah semua yang kamu lihat dan mereka akan melupakan tujuan mereka sampai kamu mengingat kejadian tragis yang menimpa mu.
Kelak nantinya kamu akan membalas perbuatan bejat mereka dan mengembalikan semua kepada mu.
Keluarga mereka yang menyakitimu akan merasakan betapa pahitnya kehilangan orang yang dicintai.
Saya menerima bukan karena kutukan, tapi karena aku menyayangi ayah mu dan juga menyayangi mu."
pruk.....kresss.....
Aji kecil itu pingsan dan kemudian........
Aji terbangun, lalu Yogi berjalan ke arah ranjang itu dan kemudian menarik kursi dari sebelah ranjang.
Kursi di letakkan yang menghadap ke ranjang, dan Yogi membantu Aji untuk duduk, setelah Aji duduk lalu Yogi mengambil gelas yang dipakai untuk minum dan menuangkan air kedalam nya.
Air minum itu di berikan nya kepada Aji dan seketika itu langsung di teguk olehnya sampai habis.
"nambah lagi air minumnya?"
Aji hanya menggelengkan kepalanya, dan gelas itu di raih oleh Yogi dan diletakkan di meja.
"dulu aku mengenal dua orang laki-laki yang sangat baik dan akrab.
Namanya Santo dan aku yang memberikan nama itu, seorang bayi yang dibuang keluarga karena dianggap pembawa sial.
Bayi itu terus bertumbuh dengan baik hingga akhirnya bisa bekerja.
Lalu seseorang pria remaja mendatangiku untuk meminjam uang, untuk membawa kedua orangtuanya berobat.
__ADS_1
Aku memberikan uang itu, dan sekitar satu bulan lebih pria remaja itu mendatangiku lagi dan meminta pekerjaan.
Namanya adalah Gopal, pria remaja yang energik dan murah senyum serta baik hati.
Gopal meluluhkan hati ini dengan masakannya yang lezat dan akhirnya aku menerimanya kerja sebagai juru masak di penginapan.
Beberapa tahun kemudian, leluhur mempertemukan aku dengan gadis pilihan.
Tapi gadis pilihan merupakan gadis yang di jual orangtuanya ke rumah bordir.
Aku menikahi nya karena cinta dan juga restu dari leluhur.
Baru saja kami menikmati malam pertama yang indah, dan geng preman pemilik rumah bordir dimana ayah istriku itu menjual nya.
Datang dan memporak porandakan penginapan, semua tewas termasuk para tamu penginapan kecuali Santo dan Gopal.
Ternyata Santo telah mempengaruhi Gopal untuk berkhianat, mereka berdua memberitahu geng preman itu keberadaan istriku.
Karena emosi dan aku membunuh semua geng preman itu, lalu mengutuk Santo menjadi manusia pembawa sial seperti yang di ucapkan oleh keluarganya.
Lalu untuk Gopal, aku mengutuknya. kelak hanya memiliki keturunan laki-laki dan menjadi menjadi pelayan Ku.
Sepuluh tahun berselang kejadian itu, dan anak laki-lakinya Gopal dan satu-satunya datang kepada ku dan itulah yang pertamakali jadi pelayan ku dari keturunan Gopal.
Waktu terus berjalan dan sekarang kamu adalah keturunan Gopal yang ke empat yang menjadi pelayan Ku.
Di keturunannya yang ketiga, saya telah menyudahi kutukan tersebut. itu artinya kutukan itu berakhir di kakek mu.
Telah kuberikan kompensasi berupa rumah, dan juga harta benda yang sesuai dengan jaman nya.
Akan tetapi ayah mu malah meminta pekerjaan kepadaku seperti pekerjaan kakek mu yaitu pelayan Ku.
Bahkan kakek dan nenek mu memohon kepada ku agar memperkerjakan anaknya sebagaimana aku mempekerjakan kakek mu.
Berhubung saya butuh ya ku terima, sebab semua keturunan Gopal sangat berkompeten dan saya tidak membatasi keinginannya atau membatasi kebebasannya, asal tetap profesional dalam pekerjaan.
Sangat-sangat memuaskan dan tidak ada alasan untuk melakukan pemutusan pekerjaan secara sepihak.
Pada akhirnya ayah mu bertemu dengan ibu mu di rumah sakit, saat itu ibu mu adalah seorang perawat di rumah sakit yang merawat kakek dan nenek mu di rumah sakit itu."
Tiba-tiba saja Yogi tertawa dan kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja itu.
__ADS_1
Membuka lacinya lalu mengambil album photo dari laci itu, kemudian membukanya dan diberikannya kepada Aji.