
Sang ibu langsung menggandeng tangan Lusi dan bersama-sama keluar dari kantor polisi tersebut.
"ibu lapar atau haus?"
"iya .....
habis sudah suara ibu karena ngomel-ngomel sama pak polisi itu."
"didepan ada kafe, yuk kita ke sana. biar Lusi yang mentraktir sebagai ucapan terimakasih kepada ibu karena sudah menolong Lusi."
"ntar uang neng habis, masih mahasiswi kan?"
"Lusi sudah selesai kuliah dan sudah bekerja bu. ayolah bu, haus ini."
Akhirnya Lusi berhasil membujuk ibu tersebut untuk pergi ke kafe yang berada di depan kantor polisi tersebut.*
Lusi sudah berada di kamarnya dan terlihat masih syok akan kejadian yang baru saja menimpanya.
"mas Yogi....
kamu dimana mas Yogi?"
Lusi bicara dengan dirinya sendiri dan masih duduk di ranjang nya.
drrrt..... drrrt...... drrrt......
Lusi mengabaikan handphone nya yang bergetar dan tetap berada di kasurnya itu.
Handphone itu terus menerus bergetar dan tetap aja Lusi mengabaikannya.
sssssss.......
Angin bertiup yang mengibaskan rambut dan gorden jendela kamar itu.
"Lusi....."
Suara itu membuat Lusi mencari-cari sumber suara, lalu.....
brak.......
Tubuh Yogi seperti terpental di ranjang Lusi dan tepat disampingnya.
Lusi merasa bermimpi karena melihat wajah Yogi di sampingnya dalam keadaan pucat dan menahan rasa sakit yang teramat sakit.
"akhirnya kamu memanggilku."
"mas Yogi....."
Lusi langsung memeluknya dengan erat dan erangan akan sakit dari Yogi sudah tiada.
Kemudian Yogi menarik tubuh Lusi yang berada diatas tubuhnya.
"wajah mas Yogi ngak pucat lagi, apa yang terjadi mas? "
"untuk melindungi mu dari pembegal itu."
__ADS_1
"jadi mas Yogi yang membelokkan setir mobil Lusi? tapi aku ngak melihat mas Yogi."
"rasa takutmu itu menghalangi pandangan mu kepadaku."
"maksudnya apa mas Yogi."
"tubuh mu sudah semakin berat, bisa lepaskan pelukan mu?"
"mas Yogi berkata kalau Lusi gendut gitu?"
"bukan Lusi, mas sudah menghabiskan banyak energi dan tidak punya kekuatan lagi untuk menopang tubuhmu."
Lusi membantu Yogi untuk bersandar ke ujung ranjang dan setelah itu Lusi menatap wajahnya.
"beberapa tahun telah berlalu, tapi wajah mas Yogi tetap tidak berubah."
Yogi tersenyum menanggapinya dan hal itu membuat Lusi terlihat jengkel.
"kamu semakin cantik aja ya."
"ngak usah mengalihkan perhatian mas Yogi, apa maksud ucapan mas Yogi barusan.
mulai dari akhirnya aku memanggil mas Yogi dan rasa ketakutan yang menghalangi pandangan ku untuk melihat mu mas."
Ting non..... ting nong......
Suara bel berbunyi dan seketika itu juga Yogi menghilang dari pandangan Lusi.
Lusi sempat kebingungan akan peristiwa yang dialaminya dan semakin di ingat nya dan semakin teringat kejadian yang sama.
Waktu itu ketika bude nya Lusi meninggal dunia dan Lusi seorang yang berada di kamar, lalu tiba-tiba saja Yogi menemui nya.
Lusi sadar kalau kedatangan orang lain bisa membuat Yogi pergi seperti angin yang berlalu.
Tentunya kesal dan bercampur aduk dengan kekesalan yang dalam, karena Yogi. lagi-lagi meninggalnya seperti angin yang berlalu.
"Lusi..... Lusi......"
Suara dari Desi dan suaminya serta mpok Alfa, lalu memaksa masuk ke kamar Lusi yang masih terduduk di ranjang nya.
"apa ada yang luka Lusi? "
"ngak ada mpok, kenapa nanya apakah ada luka pada Lusi?"
Mpok Alfa hanya terdiam dan melirik menantunya itu, demikian juga dengan Desi yang ikut melirik Aji.
"tadi mas Yogi nelpon, katanya kamu di begal sekelompok orang dan meminta kami untuk melihat keadaan mu.
Kenapa ngak mengangkat telepon dari kakak mu?"
Lusi masih diam dan Desi memeluknya demikian juga dengan mpok Alfa.
"jangan begitu Lusi, kalau ada masalah cerita dong sama kakak, atau sama mpok deh."
Desi dan mama nya melepaskan pelukannya lalu menatap Lusi dengan tatapannya yang sayu.
__ADS_1
"apa yang terjadi dan kenapa Lusi bisa terjebak dengan pembegal itu?"
"ntah mpok, jalanan disitu emang agak sepi padahal sudah jam pulang kerja loh.
Tiba-tiba saja sekolompok orang mengendarai motor trail dan memintaku untuk berhenti.
Lusi kehilangan kendali kemudi dan kemudian menyerempet pemotor itu hingga tergilas dan mungkin sebagian tewas di tempat.
Lusi baik-baik aja, hanya sedikit syok aja. kemudian Lusi di tolong oleh ibu-ibu warga di dekat lokasi kejadian.
Ternyata begal itu sudah banyak menewaskan korban jiwa, termasuk ponakannya yang hendak berkunjung ke rumah si ibu itu.
Ibu membawa bukti-bukti sisi TV di depan rumah nya dan menemani Lusi ke kantor polisi.
Ibu itu mengomel di kantor polisi, sampai-sampai Polisi nya ngak berdaya dan meminta kami untuk segera pulang.
Luar biasa memang ibu itu, dan ibu itu menuduh polisi itu bersekongkol-kol dengan pembegal karena tidak kunjung berhasil menangkap para pembegal itu.
Setelah mendapatkan serangan dari si ibu itu, lalu kami berdua di izinkan pulang."
Jelas Lusi dan terlihat mpok Alfa kebingungan akan suatu hal.
"sebentar dulu, tapi nak Aji berkata kalau si Yogi itu memberi tahu kalau Lusi di begal.
Yogi tau dari mana kalau Lusi di begal? apa Lusi langsung berkomunikasi dengan Yogi?"
Pertanyaan mpok Alfa hanya dijawab oleh Lusi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya dan hal itu membuat mpok Alfa semakin kebingungan.
"sebenarnya Yogi itu makhluk apa sih? tadi mpok melihat sekilas si Yogi ada di antara lemari yang di ruang tamu itu.
ketika mpok lihat lagi dan hilang begitu aja, apakah Yogi itu bisa menghilang atau telepati seperti yang di film-film?
Atau hanya halusinasi ku aja, memang terakhir kali bertemu dengan pria misterius waktu Lusi hendak pindah ke kontrakan yang baru.
Tapi tadi saat melihatnya di antara lemari itu, wajahnya ngak berubah dan masih sama seperti yang dulu.
Masa ada manusia ngak bisa menua? apa dia memakai krim ajaib sehingga terlihat awet muda?"
"mama jangan mengada-ada ah.....
mungkin itu hanya halusinasi mama aja, semua manusia itu pasti menua mama.
Atau mama hanya melihat arwah pak Yogi?"
"kamu lagi lebih ngaur, mana ada hantu bisa menelpon orang yang masih hidup."
"iya juga ya ma."
Kemudian secara bersamaan mereka bertiga menatap Aji, karena Aji adalah asisten pribadi nya Yogi.
"nak Yogi.......
sejak selesai kuliah dan nak Yogi sudah menjadi asistennya si pria misterius itu, pasti banyak hal yang sudah kamu ketahui tentang nya.
Ceritakan dong tentang pria misterius itu, apakah dia manusia atau alien."
__ADS_1
Mereka hanya tertawa saat mendengar ucapan dari mpok Alfa.
Tapi kemudian mereka kembali menatap Yogi dengan tatapannya yang tajam.