
Dari kejauhan diseberang benua, seorang laki-laki duduk termenung di balkon hotel dan menatap keluar untuk menyaksikan keramaian kota yang tiada berhenti.
Kota yang tidak pernah sepi, dan sepertinya manusia-manusia itu tidak mengenal lelah dan ribuan orang terlihat mondar-mandir dengan kesibukannya.
Kemudian pria itu keluar dari balkon itu dan terlihat mengemasi barang-barang nya lalu memasukkannya kedalam sebuah koper yang tidak terlalu besar.
Koper sudah ditutup dan kemudian meraih tas kecil yang tergantung, kemudian melangkahkan kakinya ke luar pintu.
Cek out dari hotel dan keluar begitu saja, kemudian mobil mewah sudah menunggunya lobby hotel.
"airport."
Ucap pria itu kepada supir mobil mewah itu dan perlahan-lahan mobil tersebut sudah melaju dengan kecepatan yang sangat lambat karena macetnya jalanan.
Beberapa saat kemudian tiba juga di bandara itu dan langsung cek in.
Terlihat dari paspor nya, bahwa pria itu adalah Yogi yang hendak meninggalkan kota yang penuh kebisingan tersebut.**
Perjalanan yang panjang dari Texas, negara bagian Amerika Serikat dan sudah tiba di pulau dewata Bali.
Butuh waktu dua jam lebih dalam perjalanan, akhirnya Yogi tiba di sebuah hotel yang mengusung konsep alam dan budaya Bali.
Kamar hotel deluxe atau VVIP (very very important performance), dan langsung di suguhi pemandangan yang indah nan memukau.
Alam hijau dengan bukit dan lembah yang dipenuhi pepohonan yang sangat hijau dan menyejukkan mata sejauh memandang.
"apa kabar kamu Lusi? apakah kamu sangat bahagia bersama bude mu itu sehingga kamu melupakan ku?
tapi ngak apa-apa dan ini semua demi kebaikan kita berdua."
Yogi bicara kepada dirinya sendiri, kemudian menyeruput kopinya.
Mungkin karena sudah kelelahan, karena menempuh perjalanan yang panjang dan akhirnya Yogi memilih tidur.**
ahhhhhh......
Yogi terbangun dalam keadaan berkeringat, sepertinya Ia bermimpi buruk dan kemudian menyadari kalau dirinya hanya bermimpi.
Lalu menoleh kearah luar dan ternyata hari sudah pagi.
Yogi bergerak ke arah kamar mandi, tidak berapa lama kemudian Yogi sudah keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan celana pendek.
Beberapa saat kemudian bel pintu berbunyi dan itu adalah servis room hotel yang menawarkan sarapan dan juga minum.
Selesai sarapan dan Yogi memanggil pelayan untuk membersihkan piring dan peralatan makan itu dari meja makan.
Semuanya sudah selesai dan Yogi melangkahkan kakinya ke balkon untuk melihat pemandangan alam yang memukau.
Ting nong.....ting.....nong......
__ADS_1
Bel pintu kembali berbunyi dan segera Yogi membuka pintu hotel tersebut.
"Aji.....
ceria benar itu wajah, ada berita apa yang membuat mu begitu bahagia?"
"Februari bulan depan, Aji dan Desi akan segera menikah mas.
Aji berharap mas Yogi bisa menghadiri pernikahan Aji."
"Sebelumnya saya ucapkan selamat ya dan semoga lancar hingga hari jadinya, tapi mas mintak maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan mu nantinya.
Mas ngak mau kejadian itu terulang kembali dan membuat bersedih sepanjang hidup mu nantinya."
"kejadian apa emangnya mas?"
Yogi menghela napasnya dan kemudian menatap kedua mata Aji dengan tatapan yang dalam.
"mas ngak bisa menghadiri awal hari kebahagiaan mu, karena itu akan menjadi petaka bagi mu nantinya.
Dulu pernah mas menghadiri pernikahan ajudan kepercayaan, dan itu adalah kakek buyut mu.
Karena kutukan yang bersemayam dalam jiwaku ini, membuat pernikahan itu menjadi gagal.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja pengantin perempuan tidak sadarkan diri dan pada akhirnya tewas.
Kamu berhak bahagia Aji, dan mas ngak mau menghancurkan kebahagiaan kalian.
Desi memiliki keluarga, dan juga Lusi sudah menganggapnya sebagai kakaknya.
mas ngak bisa membayangkan betapa hancur hatiku, keluarga Desi dan juga Lusi."
"mas ini ngaco deh."
"saya serius Aji, kamu membaca kisahnya di buku harian Ku yang tersimpan di lemari besi dibalik pintu masuk perpustakaan mini itu.
Mas ngak mau mengulangi hal bodoh yang bersifat fatal, cukup kejadian itu saja dan terulang lagi.
Desi adalah gadis baik dan berhati lembut, dan kamu adalah pria penyayang dan pekerja keras.
Mas merestui pernikahan kalian berdua dan semoga berbahagia sampai maut yang memisahkan kalian berdua."
"kalau memang itu yang terbaik, nanti perlahan-lahan Aji akan memberikan pengertian kepada Desi dan keluarga.
Tapi bagaimana dengan Lusi, apa gadis ngak kecewa karena mas ngak bisa hadir di pernikahan kami?"
"pastinya Aji, tapi mas punya cara agar bisa membujuk gadis itu.
Apakah gadis itu sudah melupakan Ku?"
__ADS_1
"ngak mas, Lusi ingin cepat-cepat tamat sekolah agar segera bisa menikah dengan mas Yogi.
Alasannya yang selalu membuat onar dan tawa, bahkan sekarang Lusi sudah berkolaborasi dengan bude nya dan terlihat sangat sibuk.
Walaupun Lusi sibuk menjahit dan belajar, tapi masih sempat-sempatnya membuat kegaduhan di kantor.
Kalau Lusi ke kantor pasti kami semua berhenti kerja, karena akan ada festival komedi antara Lusi dan Farel.
Para karyawan lainnya sudah bersiap-siap sakit perut karena tertawa dan mereka merasa rileks ketika sudah selesai perdebatan komedi itu."
"karyawan lain ngak terganggu kan?"
"jelas ngak dong mas Yogi, karena mereka juga butuh hasil hiburan.
kalau Lusi sudah di kantor dan pegawai yang lain sudah bersiap-siap untuk menonton seperti hendak mengasikkan pertunjukan komedi.
Selesai mereka berdua berdebat, lanjut kerja lagi.
bahkan jika Lusi ngak ke kantor, karyawan lainnya malah sibuk bertanya.
Kenapa Lusi ngak ke kantor ya? apakah dia sakit? dan banyak pertanyaan lainnya."
"bagus kalau begitu, tapi Aji kemari mau ngapain?"
"hanya rindu aja melihat mas Yogi."
"kenapa selama di Texas kamu ngak pernah datang kalau memang rindu?"
"malas mas, capek di pesawat. karena terlalu lama duduk didalam pesawat.
Kalau sudah di Bali seperti ini kan dekat, jadi tidak terlalu capek lah."
"oh begitu, tapi nih ya. Aji dan Desi sudah pantas tuh menikah dari segi umur dan juga penghasilan yang luar biasa.
tapi kenapa harus menunggu tahun depan?"
"iya mas Yogi, karena harus menunggu adiknya selesai magang dokter di suatu daerah di pulau Sumatera.
itu adalah permintaan Desi, biar yang menjaga keluarga nya ketika kami sudah menjadi suami istri."
"kamu sabar aja dulu ya, lagian tinggal tiga bulan lagi."
Sanggah Yogi dan kemudian mereka duduk bersantai di balkon hotel seraya menikmati kopi.
"berkat bude nya, sehingga Lusi kembali menjadi riang dan lebih bersemangat tentunya.
Mereka berdua persis seperti ibu dan putrinya yang sangat kompak."
Yogi hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Aji dan kemudian secara bersama-sama menyeruput kopi.
__ADS_1