
Jauh dari seberang sana, disebuah kamar mewah terlihat seorang pemuda sedang merenung.
haaaaaaaa........ haaaaaaaa.......
Suara aneh terdengar di kamar mewah itu lalu Yogi langsung duduk bersila dan menutup kedua matanya.
Hanya sinar terang yang memenuhi kamar mewah tersebut, dan seketika itu juga suara itu lenyap dan cahaya berangsur-angsur hilang.
Pria itu tergeletak seketika cahaya lenyap, dan terdengar suara pintu dibuka secara paksa....
"tuan.....tuan Yogi.....
bangun tuan.... bangun...."
Kedua mata itu terbuka secara perlahan-lahan dan menoleh ke segala arah.
"dugaan ku tidak meleset Aji."
"maksudnya apa tuan?"
Yogi terdiam lalu berusaha untuk duduk yang dibantu oleh Aji, sang asisten pribadinya.
"penghianat yang terkutuk itu akan segera lepas dari alam baka untuk menyakiti gadis pilihan leluhur Ku."
Kemudian Yogi bengong dan kemudian Aji melangkah ke arah meja rias dan mengambil buku catatan yang sudah terlihat usang.
Yogi masih bengong sementara Aji terus membaca buku catatan yang sudah usang itu, dan beberapa saat kemudian sang asisten menoleh tuanya.
"uak Santo...."
Ujar Aji dan kemudian mengembalikan buku catatan itu ke tempatnya dan perlahan-lahan berjalan mendekati Yogi yang duduk di ranjang nya.
"kenapa uak Santo bisa kembali lagi tuan?"
Tatapan tajam dari Yogi mengarah kepada asistennya.
"karena ada keturunan dari saudaranya yang melakukan pemujaan terhadap nya, mereka ingin mengetahui kenapa keturunan mereka selalu ada yang cacat.
Keturunan dari saudaranya uak Santo, ingin mempertanyakan hal itu secara langsung kepada arwah uak Santo."
"apakah itu masuk tuan?"
"pertanyaan mu itu tidak berbobot Aji, kamu lihat sendiri kalau orang yang menjadi lawan bicara mu adalah manusia abadi."
ahhhhhh...... ahhhhhh......
Tiba-tiba saja Aji meronta-ronta kesakitan dan sepertinya rasa sakit itu amat teramat sakit, hingga akhirnya pingsan dan terjatuh di ranjang Yogi.
__ADS_1
Kemudian Yogi meluruskan tubuh asisten nya, agar bisa istrihat dengan benar.
Tubuh Aji diselimuti dengan bad cover itu, setelah semua rapi dan Yogi duduk dengan posisi bersila di dekatnya.
Seperti melakukan pertapaan, tangan di kepal dan diletakkan di letakkan di atas dengkulnya dimana kedua tangannya yang di kepal menghadap keatas.
Perlahan-lahan Yogi menutup kedua matanya, seperti orang yang sedang melakukan meditasi atau lebih tepatnya orang yang sedang bertapa.
Entah apa yang membuat Yogi sehingga menggelengkan kepalanya ke kiri lalu ke kanan.
Terlihat keringat mulai bercucuran dari keningnya.
ang.....ang....ang.....ang......
Suara-suara yang tidak jelas memenuhi ruangan tersebut, dan cahaya menyelimuti seluruh tubuh Yogi.
uawahhhhh.........
Sesosok makhluk yang bersuara nyaring dan melayang-layang di sekitar tubuh Aji yang sedang tidak sadarkan diri.
"pinoppar ni si Gopal, saunnari nungga jadi jappurut mu. paluakku nama on, asa rap hami mangalo ho Poltak." *bahasa batak toba
(keturunan si Gopal, dan sekarang sudah menjadi budak mu. akan aku lepaskan agar kami bersama-sama melawan mu Poltak)
"jolma sibolis songon ho, ikkon mago do sian portibi on. hahamago ni jolma do ho, jala ho si boan nabarnit tu hajolmaon."
"Sae torus maho di portibi on, jala bereng si boru naditinodo ni oppung ikkon hu hancur hon, jalo ma nabarnit tu ngolum."
(semoga engkau abadi di dunia ini, dan kamu harus melihat gadis yang direstui oleh leluhur mu akan lenyap, dan itu membuat mu semakin menderita)
"Jala pinoppar ni si Gopal on, ikkon hubaen lobi sian na uji, jala pinoppar si horas on ma mamboan ho tu pandelean seleleng ni leleng na."
(keturunan si Gopal ini, akan ku buat mengkhianati mu bahkan lebih kejam dari masa lampau, yang membuat mu ke dalam kehancuran dan penderitaan yang tiada berkesudahan).
Poltak...... Poltak..... Poltak.........
Suara yang menggema dan sosok itu berubah menjadi asap hitam lalu masuk ke tubuh Aji.
prak.....prak.....prak....prak......
Tubuh Aji bergetar hebat, sehingga mampu menggetarkan ranjang yang besar itu dan kemudian.....
haaaaaaaa..........
Sosok yang menyeramkan tadi, yang memasuki tubuh Aji kini keluar lagi dan seperti kesakitan ketika keluar dari tubuhnya Aji.
Tubuh Aji tidak bergetar lagi dan sosok makhluk itu melayang-layang disekitar Yogi yang masih seperti orang bertapa.
__ADS_1
Ahhhhhh.... ahhhhhh.......
Sosok itu berteriak seperti kesakitan dan terus menerus mengelilingi tubuh Yogi.
Terlihat Yogi membuka mulutnya, dan sosok makhluk itu berubah menjadi gumpalan awan hitam lalu masuk ke mulut Yogi.
Masih posisi yang sama, seperti orang bertapa dan mulut yang tertutup itu seperti kumur-kumur.
Terlihat keringat itu keluar lagi dari kening Yogi, dimana mulutnya seperti kumur-kumur lalu......
cuihh.......
Yogi mengeluarkan sosok itu dari mulutnya seperti orang membuang ludah, dan terlihat gumpalan awan itulah di lantai kamar lalu menghilang secara perlahan-lahan.
Cahaya ditubuh Yogi semakin redup dan redup hingga akhirnya cahaya itu menghilang.
Masih posisi yang sama, terlihat keringat itu semakin banyak bercucuran dari Yogi lalu perlahan-lahan cahaya mulai menyelimuti tubuhnya.
Tiba-tiba saja tubuh Yogi yang masih seperti tadi dan melayang di udara.
Tubuh Yogi mengelilingi tubuh asistennya yang tergeletak di ranjang yang balut cahaya yang silau itu.
Lalu tubuh Yogi kembali ke tempat duduknya semula, dan keringat itu semakin banyak bercucuran dari keningnya.
Perlahan cahaya itu redup lagi dan akhirnya lenyap akan tetapi posisi Yogi masih tetap sama.
Ada yang aneh, kedua mata Aji mengeluarkan air mata.
Kemudian tubuh Aji bergetar dan terlihat seperti meronta-ronta dan perlahan-lahan tenang kembali.
Sepertinya Aji mimpi buruk, lalu Yogi meletakkan telapak tangan kanannya di jidat Aji dan terlihat air mata itu berhenti mengalir.
Telapak tangan Yogi yang berada diatas jidat Aji terlihat bercahaya dan saat itu juga tubuh Aji bergetar lagi dan seperti meronta-ronta.
Tubuh Aji berhenti bergetar dan meronta-ronta begitu cahaya itu secara perlahan hilang.
Setelah cahaya di tangan Yogi hilang, lalu menarik tangan itu kembali dan meletakkan tangan di posisi semula.
Yogi masih di posisi yang sama, dimana terlihat seperti orang bertapa akan tetapi cahaya itu sudah menghilang.
Tidak beberapa lama kemudian Yogi mulai membuka ke-dua matanya, lalu turun dari ranjang.
Yogi melangkah ke arah meja kecil dan meraih gelas kemudian menuangkan air minum.
Hanya sekali teguk dan air minum itu sudah habis diminumnya.
Lalu menambahkan air minumnya dan kembali meneguk minuman itu.
__ADS_1
Gelas itu sudah diletakkan dan kemudian Yogi meraih sapu tangan dari laci dan membersihkan keringat dari keningnya.