PENGANTIN PRIA TERKUTUK

PENGANTIN PRIA TERKUTUK
Kelebihan Yang Lain Dari Lusi.


__ADS_3

Yogi meraih kedua pipinya Lusi dan kemudian memutar kepalanya ke kiri, seketika itu juga Lusi terdiam dan raut wajahnya yang terlihat aneh karena menahan rasa malu.


"Farel....."


Yogi memanggil seseorang yang bernama Farel, dan ternyata Farel itu adalah pria bertangan lentik lalu mendekati Yogi.


"iya bos."


"mulai hari ini, gadis cantik yang bernama Lusi akan kerja sebagai desainer disini.


buatkan meja khusus untuk Lusi dan juga Desi.


Satu lagi, jangan pernah mendesak mereka untuk membuat suatu karya kecuali mereka berdua yang menyerahkan karya itu.


paham...."


"paham bos.


Okey ladies, follow me."


"bentar dulu, aku ngomong sama mas Yogi."


Ujar Lusi yang masih mendesak Yogi untuk menjawab semua pertanyaan nya, akan tetapi Farel di beri kode agar membawa Lusi dan Desi ke tempat kerjanya.


"hei cantik.....


dilantai ini saya yang berkuasa, aku bilang harus ikut.


Mau ku isap ubun-ubun mu?"


"ngak kak, ampun...."


"ya udah, cus ikuti eke, saatnya kerja untuk cari inspirasi dan uang.


Desi....


ajak gadis labil itu ke ruang sidang."


Tangan Lusi langsung di gemgam oleh Desi dan mereka berdua mengikuti Farel ke suatu ruangan.


"Lusi dan Desi, duduk....."


Kedua gadis itu langsung duduk setelah dibentak oleh Farel.


Akan tetapi Lusi malah mengeluarkan bontot makanan dari tas ranselnya serta botol minuman.


"loh ngapain Lusi? belum sarapan ya?"


"sepertinya kak Farel yang belum sarapan, kebetulan nih aku membawa bekal yang aku masak sendiri tanpa penguat rasa."


Lalu Lusi membuka tutup bontot makanannya dan mengarahkan aroma nya ke Farel.


Sepertinya kepala bagian desainer itu tergoda dengan aroma makanan dari bontot makanan Lusi tapi masih menjaga image nya di hadapan gadis belia itu.


Kemudian Lusi menggambil sendok dari sudut kotak makanan dan kemudian menyuap makanan itu ke mulut Farel.


uhmmm......


Farel bergumam ketika mengunyah makanan yang di suapkan oleh Lusi, lalu meraih kotak makan itu dari tangan Lusi kemudian duduk dan makan.


Kemudian Lusi menuangkan air minum di gelas yang merupakan tutup botol minuman itu, dimana Lusi juga mengeluarkan botol minum yang kedua yang berisi air minum.


Hanya sekejap saja makanan itu sudah habis di lahap oleh Farel lalu minum dari air yang telah di tuang oleh Lusi.

__ADS_1


Farel sudah berhenti mengunyah dan telah menghabiskan air minum yang tersedia.


"sttttt......


kak Farel minum teh buatan Lusi, agar kakak semakin bersemangat untuk ngomel."


uhmmm......


Farel hanya bergumam ketika minum dari tutup botol itu.


"ini bahan nya apaan? kok enak di leher dan hangat di badan."


"akar alang-alang kering, jahe merah dan jahe badak serta daun kunyit kak. untuk pemanisnya adalah gula aren asli."


Farel meneguk habis teh buatan Lusi, dan kemudian mintak di tambah dari botol tersebut dan Lusi menuangkan minuman itu di tutup botolnya.


"pantas kalian berdua di buat bersama, karena tingkah kalian berdua sama.


Desi sering menyogok ku dengan makanan enak, dan kamu Lusi. baru aja nyampe di sini sudah menyogok ku dengan makanan enak dan juga teh yang sangat enak."


Lusi tersenyum lebar akan pujian dari Farel, begitu juga dengan Desi yang mulai terlihat tenang.


"baiklah kita mulai ya, kak Farel mengundang kalian berdua kemari hanya ingin menyampaikan kalau desain kalian berdua di terima.


Sebentar mode nya akan keluar dan akan diperlihatkan kepada kita, untuk di kritik dan juga penilaian."


"waouuuuu......


kak Farel ngak bercanda kan?"


"saya selalu serius Lusi, persiapan semuanya dan buat semuanya ini sukses.


mintak lagi dong minuman nya."


Tok....tok.... tok.....


"masuk....."


Farel menyuruh yang mengetuk pintu untuk masuk dengan suaranya yang cempreng, lalu masuk seorang perempuan yang masih muda.


"maaf kak mengganggu, ada masalah di bagian desain si mentel itu."


"apa masalahnya Diana?"


"susah mencari bahan nya, dan kru tidak tahu membeli bahan kain nya dimana."


"Lusi....


gimana ini?"


"tenang aja kak, tinggal telpon aja."


Lusi kemudian meraih handphone keluaran terbaru itu dan juga handphone lama milik nya dari ranselnya.


Dengan gayanya yang sok anggun lalu mengaktifkan loud speaker handphone tersebut.


"halo bou....


au do on si Lusi, di ingot bou do kan?" *bahasa batak toba


(**halo kakak, ini aku Lusi, kakak ingat kak kan?).


dalam tradisi Batak Toba, panggilan bou itu adalah panggilan akrab dari gadis ke seorang ibu dan termasuk panggilan yang sangat sopan sebelum mengetahui sisilah marga.

__ADS_1


Akan tetapi panggilan bou adalah panggilan kepada adik perempuan atau kakak perempuan dari pihak ayah.


Dalam tradisi Batak Toba, seseorang bou akan memanggil orang dengan panggilan adek**.


"ouh....


huingot anggia, aha ma naboi hubantu anggia?"


(ouh......


aku ingat kok, apa yang bisa ku bantu dek?)


"sadia godang ulos ragi hotang ni bou?"


(**berapa sisa ulas ragi hotang kakak?)


ulos ragi hotang adalah jenis atau nama ulos atau kain tenun khas Batak Toba**.


"bah gudang, sadia naeng tuhoron mu?"


(banyak dek, berapa yang kamu beli?)


"boi saratus bou?"


(bisa seratus kak?)


"boi anggi, andigan kirimon jala songon dia do pembayaran na?"


(bisa dek, kapan ku kirim dan bagiamana cara pembayarannya?)


"saunnari boi tu alamat Binsar fashion jonok do tu pasar i bou, annon langsung hubayar dison, jala sibaen bou ma attong kwitansi na da."


(sekarang aja kak, kirimkan ke Binsar fashion dan ini dekat ke pasar kok, nanti langsung ku bayar disini, sekaligus buat kan kwitansi nya)


Terdengar suara jeritan dari penerima telpon tersebut dan kemudian....


"okey.....


akan segera meluncur hasian ku....."


*hasian Ku (kesayangan Ku).


Telepon berakhir dan ekspresi wajah dari Desi, Farel dan juga Diana, membuat Lusi tertawa.


"tadi itu bahasa apa Lusi?"


Suara laki-laki dari belakang mereka yang mengejutkan mereka yang ada di ruang meeting tersebut.


"bahasa Batak mas Yogi."


Ternyata Yogi yang datang bersama asistennya yang bernama Aji, kemudian kursi di raih Yogi dan duduk di samping Lusi.


"Lusi kok bisa bahasa Batak?"


Lusi tersenyum sinis ke arah Yogi dan kemudian menatap pria tampan itu dengan tatapannya yang seperti menginginkan sesuatu.


"Lusi akan menjawab nya, tapi dengan dua syarat.


Pertama, nanti tolong bayar kan pesanan kain ulos yang sudah Lusi pesan dan yang kedua, mas Yogi harus mentraktir kami yang ada disini makan siang."


"Untuk kain itu sudah tersendiri pembiayaannya dan untuk makan siang tidak ada masalah bagiKu."


haaaaaaaa.....hiiiiiiiiiiiii.......

__ADS_1


Lusi berteriak kegirangan dan suaranya memenuhi seluruh ruangan itu, yang membuat yang lainnya menutup telinga karena suara Lusi sangat menyakiti gendang telinga.


__ADS_2