
Tidak sampai disitu, kedua wanita itu terus menerus menghajarnya, hingga akhirnya dilerai oleh satpam taman tersebut.
"perempuan ****** ini telah menipu dan juga mencoba menggoda suami kami.
Dasar perempuan ******, penipu ulung, kurang ajar....."
Lusi langsung menarik tangan Yogi dan juga tangan Desi yang di ikuti oleh Aji.
Setengah berlari menuju tempat parkir mobil dan akhirnya mereka berhasil masuk ke mobil lalu Aji langsung menancap gas dan segera berlalu dari tempat tersebut.**
Karena merasa kesal dan Lusi minta diantarkan pulang ke kontrakan nya, dan Yogi memenuhi permintaan gadis pujaannya itu.
Yogi mengantarkan gadis belia itu sampai ke pagar rumah lalu....
muach.....
Lusi mencium pipi kanannya dan kemudian memegang tangan Yogi.
"terimakasih ya mas untuk semuanya, maaf kalau kita gagal jalan-jalan...."
uhmmm.......
Suara mpok Alfa yang membuat Lusi melepaskan tangan Yogi dan juga Desi yang berhenti menatap Aji.
"maaf....
laki-laki dilarang masuk ke kos, sekarang kalian berdua pergi."
Dengan langkah yang berat, Yogi bersama asistennya itu meninggalkan rumah berpagar itu dan naik ke mobil.
"kalian berdua masuk."
Lusi dan Desi masuk ke dalam rumah karena mpok Alfa memerintahkan untuk masuk ke dalam rumah.
Tapi tiba-tiba saja mpok Alfa menarik tangan Lusi yang hendak masuk ke dalam kontrakan nya dan menatap wajah gadis belia itu.
"kamu itu sudah seperti putri mpok, kenapa wajahmu terlihat begitu sedih?
Mpok siap mendengar curhatan mu, siapa tahu itu bisa membuat lega."
Lusi langsung memeluk mpok Alfa, dan pelukan berbalas lalu di peluk lagi oleh Desi.
"kita ngobrol di dalam aja ya, mpok tadi buat sup buah, kita makan sup buah sambil ngobrol di taman belakang."
Ucap mpok Alfa, dan langsung memegang kedua tangan gadis cantik itu dan berjalan secara bersamaan.
"cieee.....
tri angle cantik kompak banget....."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Mereka tertawa karena coletehan adik laki-lakinya Desi yang menegur mereka bertiga.
__ADS_1
"kalian ke meja taman aja, ntah biar Papa yang menyajikan sup buah untuk kalian empat."
Mereka hanya mengganguk setuju dan langsung menuju ruang belakang rumah.
"silahkan di nikmati, ayo dek kita main bola aja, biarkan para wanita saling curhat."
Ujar Papa nya Desi dan anak kecil itu langsung meraih tangan papa nya dan pergi.
Lusi langsung menikmati sup buah itu lalu menatap mpok Alfa.
"jujur....
Lusi tidak tau apakah benar kalau pria itu ayah kandungku.
Sungguh membingungkan dan sulit untuk Lusi pahami.
photo pernikahan papa dan mama masih ada, dan mama tidak terlihat hamil di photo itu.
Mendiang mama Ku pernah berkata, butuh waktu satu tahun usia pernikahan agar menggendong Ku.
Tapi kenapa Papa mengatakan kepada istri barunya kalau Lusi bukan anaknya.
Papa berkata kalau dirinya kasihan kepada mama yang hamil duluan.
Tapi jika dilihat dari tanggal pernikahan, Lusi baru lahir setelah usia pernikahan mereka mencapai dua tahun.
Tidak mungkin kan mama hamil duluan?"
Haaaaaaaa.....
"apakah Lusi ngak pernah kepada mama mengenai ini?"
"ngak mpok, karena semuanya terlihat baik-baik aja dan kami layaknya keluarga yang bahagia.
Suatu hari mama tiba-tiba murung dan hal itu dirahasiakan nya, tapi pada akhirnya Lusi mengetahui penyebab mama menjadi murung.
Mama melihat papa menggendong anak di suatu rumah, dan mama bertanya kepada tetangga rumah itu dan ternyata Papa adalah ayah dari anak kecil yang digendongnya itu.
Karena mereka adalah suami istri, fakta itu membuat mama semakin murung dan kesehatan nya menjadi drop dan pada akhirnya meninggal dunia.
Setelah dua jenazah mama dikebumikan, lalu papa datang ke rumah dengan membawa dua anak.
Satu anak perempuan yang seusia dengan Ku dan satu anak laki-laki yang berusia satu tahun.
Sejak saat itu semua berubah, Lusi menjadi babu untuk mereka.
Intimidasi dan penganiayaan terhadap Lusi yang mereka lakukan adalah hal biasa.
Harus kerja terlebih dahulu baru bisa makan, dan setelah semua permintaan mereka terpenuhi dan rumah bersih barulah Lusi bisa istrihat.
Tidak lebih dari seorang budak, yang dipekerjakan secara tidak manusiawi dan itulah sebabnya Lusi memilih kabur karena sudah tidak tahan dengan semuanya.
Papa sering keluar kota dan setiap kali pulang ke rumah selalu bertanya kepada Lusi, dimana mama menyimpan buku rekening dan juga asuransinya serta sertifikat tanahnya.
__ADS_1
Lusi hanya menjawab tidak tahu karena mama tidak memberitahukan Lusi.
Mama berpesan agar tidak memberitahu nya kepada Papa dan istri baru ataupun anak-anaknya tentang dimana mama menyimpan berkas-berkas yang di incar oleh papa itu.
Itu alasan untuk istri barunya itu selalu menyakitiku dan memaksaku untuk memberitahu dimana berkas itu disimpan.
Begitu sampai disini, dan rasa nya damai sekali hati ini.
Mpok Alfa yang tingkat cerewet nya yang hampir imbang dengan mama, seketika mengobati kerinduanku terhadap mendiang mama.
Terimakasih ya mpok karena sudah cerewet."
"sama-sama...."
haaaaaaaa.......
Begitu cepat nya mpok Alfa menjawabnya dan baru sadar kalau dirinya di omongin oleh Lusi dan akhirnya mereka tertawa bersama.
"Mpok cerewet ya?"
"iya....."
Lusi dan Desi serantak menjawabnya tapi mereka berdua langsung memeluknya.
"jangan pernah berhenti cerewet ya ma, dan teruslah cerewet.
Putri mama yang cantik ini, bisa melangkah sejauh ini hanya karena kecerewetan mama."
"benar sekali, Lusi suka ucapan kakak. karena kecerewetan mpok yang membuat Lusi nyaman disini."
Mpok Alfa menarik kedua gadis itu dan menatap nya.
"kalian berdua aneh ya, dimana-mana orang itu pada ngak betah kalau ada yang cerewet."
"cerewet nya itu berbeda, mama itu cerewet karena kami salah dan mama cerewet karena menyayangi kami yang menginginkan kami anak-anak mama menjadi orang.
istilah nya cerewet yang membangun, ada tuh orang di kantor, ngoceh mulu tapi ngak ada gunanya.
kalau mama beda, semua mama ucapkan benar adanya."
"iya mpok, apa yang katakan kak Desi itu benar.
Begitu juga dengan almarhumah mamanya Lusi.
Hanya karena kecerewetan mama, Lusi bisa menjahit, memasak dan selalu juara satu disekolah dan selalu dapat beasiswa."
Lagi dan lagi mereka berpelukan dengan erat dan kemudian saling tertawa bersama.
Hanya menikmati sup buah, tapi mereka begitu menikmati kebersamaan itu.
"teringatnya apakah Lusi mengetahui berkas dari mama mu itu?"
Lusi menggangu dan kemudian menatap mpok Alfa.
__ADS_1
"Lusi belum cukup umur untuk mengambilnya, dan jika mereka mengetahuinya pasti akan diambil semuanya."
Jawab Lusi lagi, dan sesaat kemudian suasana menjadi hening.