
Sudah menjelang magrib dan tiga bus sudah terparkir di depan rumah.
"mas Abi...."
Lusi langsung memeluk pria yang bernama Abi itu dan lagi-lagi Lusi pingsan.
"bude..... bude.....b....u....d...e....."
Suara dari seorang anak laki-laki yang membuat mata tertuju kepadanya dan langsung menuju jenasah almarhumah.
"Zahran...."
Ucap Lusi yang tiba-tiba terbangun dari pingsan nya dan kemudian merangkak seperti bayi dan menemui anak laki-laki yang bernama Zahran.
"ini gara-gara mama dan kakak itu kan? kurang ajar kau Zahran....
Gara-gara mama dan kakak kau itu, bude ku pergi untuk selamanya."
"maaf kak..... maafkan Zahran bude....."
'haaaaaaaaa.....'
Lusi bertriak dan menjambak rambut Zahran, dan anak itu tidak melawan sama sekali dan pasrah.
"cukup Lusi, cukup......
Zahran juga ngak mau ini terjadi, Zahran ngak mau bude pergi dalam keadaan seperti ini.
Sabar Lusi, istighfar Lusi...."
Santi langsung mendekati sahabat nya dan memeluknya erat agar berhenti mengikuti Zahran.
"syukurlah kalau mpok ada disini."
"maaf...
bapak siapa ya?"
Seorang laki-laki menghampiri mpok Alfa yang duduk disamping Lusi.
"Laki-laki yang menabrak almarhumah sudah di tangkap polisi, laki-laki yang bernama Denan dan baru tiga minggu yang lalu keluar dari penjara."
"Denan...."
Ujar Lusi yang menanggapi perkataan pria itu dan kemudian pria itu menatap Lusi dengan tatapannya yang sayu.
"iya neng, mamang ini adalah pedagang sayur mayur di pasar, langganan si mpok dan almarhumah.
Istriku mamang ingin menjahit pakaian kepada almarhumah, dan setelah mengukur badan istri mamang, mereka berdua jalan ke arah depan pasar.
Untuk membeli bakal kain, karena warna bakal kain yang ada di rumah almarhumah habis dan juga membeli perlengkapan menjahit yang lain.
Mereka berdua jalan beriringan, jalanan itu tidak pernah di lalui truk, hanya pickup kecil pengangkutan barang-barang untuk pasar.
Istri mamang dan almarhumah sengaja di tabrak oleh truk yang lewat itu, dan almarhumah melindungi istri mamang agar perutnya tidak terbentur.
__ADS_1
Istriku sedang hamil tujuh bulanan, dan saat di rumah sakit setelah dokter mengeluarkan bayi kami.
Berkat perlindungan dari almarhumah, istri dan anak mamang selamat.
Kecelakaan itu disengaja atau di rencanakan neng, karena mamang sudah sepuluh tahun lebih jualan di pasar dan tidak pernah ada truk masuk ke dalam.
Seorang wanita paru baya dan gadis yang berwajah seram, duduk disamping kemudi dan mereka tertawa setelah berhasil menabrak almarhumah dan istri mamang.
Dari kartu identitas kedua perempuan itu, yang paling muda bernama Suci dan satu lagi bernama Rana.
Mereka telah di amankan oleh polisi untuk menghindari amukan massa.
Almarhumah menjadikan tubuhnya sebagai pelindung untuk istri mamang, sehingga menjadi almarhumah."
"emangnya mamang kenal sama bude Ku?"
"kenal neng, hampir semua penjual di pasar itu mengenal almarhumah.
Almarhumah yang menjahit dress atau apapun itu yang berhubungan dengan pakaian, dan katanya jahitan almarhumah sangat bagus dan cantik.
Selain jahitnya yang rapi dan cantik, dan juga murah. almarhumah juga menjadi donatur panti asuhan yang tidak jauh dari pasar.
mungkin besok pagi, anak-anak dari pantai asuhan itu akan datang kemari.
Maafkan mamang ya, karena ngak mengantarkan mereka berdua ke toko kain itu.
Sebenarnya almarhumah hampir tiap hari ke toko kain itu, dan baik-baik aja."
Ucap laki-laki itu, dan pria yang Abi itu mendekatinya seraya memeluknya.
Kita semua yang ada disini juga sedang menunggu giliran. rejeki, jodoh dan maut, kita tidak tau kapan datangnya.
sebaiknya mamang pulang, karena istri dan anak mamang membutuhkan kehadiran mamang di sana.
Besok ibu ku ini di makamkan, jadi besok aja datangnya ya."
"ngak apa-apa pak ustadz, mamang disini aja bantu-bantu, istri dan anak mamang sudah menjaga.
Putriku yang besar dan kedua ibu kami, itu sudah lebih dari cukup.
Izinkan mamang untuk memberikan menyumbang tenaga di sini, karena mamang tidak akan bisa membalas kebaikan almarhumah."
"baiklah mamang, saya sebagai anak kandungnya almarhumah, menerima niat baik dari mamang."
Begitu haru dan bercampur sedih, itulah keadaan yang sekarang.
Seketika itu juga para warga disekitar sudah berdatangan untuk melayat.
"aku dah bilang berkali-kali sama mu Dila, jangan kau ambil si Zahran.
Kedua perempuan itu gila, pasti karena kamu mengirimkan si Zahran ke pasentren sehingga kamu di teror oleh kedua perempuan gila itu.
Siapapun yang berhubungan dengan perempuan gila, pasti malah petaka yang datang."
"apa maksud ibu?"
__ADS_1
Abi yang heran mendengar pernyataan tetangganya itu, pernyataan dari tetangganya yang menimbulkan persepsi yang berbeda berbeda.
"iya nak Abi, jika seseorang berhubungan dengan kedua perempuan dan malapetaka yang datang.
Lihat saja, almarhumah mamanya Lusi, mendiang ibu mu dan sebagainya.
kedua perempuan itu sumber malapetaka, ibu sudah mengingatkan agar jangan menampung si Zahran.
Karena itu menjadi alasannya perempuan-perempuan itu untuk mendatangi almarhumah.
Setelah si Zahran itu pergi ke pasentren, kedua perempuan itu sering ke sini untuk mencuri mendiang Dila ini.
Tapi kami merahasiakan kemana Ia pergi dan ibu tau kalau mendiang ini tinggal di rumah ponakannya yang merupakan korban dari kedua perempuan itu.
Ibu juga ngak bisa mengalahkan mendiang, karena kasih sayangnya terhadap anak-anak yang tidak bisa melihat anak-anak menderita.
Tapi....
Iya Allah ya Tuhanku....."
Ujar ibu paru baya itu, dengan tangisannya yang terisak-isak.
"Dila.....
baru tadi pagi kita bertemu di pengajian, dan aku mencicil hutang ku kepadamu.
Belum juga lunas hutang ku kepadamu, tapi kamu.....
Dila.....
Kenapa kamu pergi secepat ini Dila? Senin depan giliran menjadi tuan rumah di pengajian.
Hanya kamu dan ustadzah yang pandai mengajari kami mengaji."
"assalamu'alaikum.....
Mbak Dila........"
Seorang ibu-ibu yang gamis panjang dan menggunakan hijab, langsung terduduk lemas ketika melihat jenazah almarhumah.
Hanya ada tangisan di rumah tersebut, yang tidak menyangka kalau almarhumah akan secepat itu meninggalkan mereka.
Bukan hanya kaum ibu, mulai dari anak-anak sampai yang tua, berkumpul di rumah itu dan hanya tangisan yang terdengar.
"bapak ibu sekalian, jangan menangis meratapi almarhumah seperti itu."
"bagiamana ngak menangis pak ustadz, bude adalah ibu bagi kami."
"saya paham, saya juga kehilangan ibu tercinta, tapi ini sudah takdir ya.
Mari kita bersama-sama berdoa untuk almarhumah, agar mendapatkan tempat yang layak di sisi Pencipta kita."
Ujar Abi yang mencoba memberikan pengertian kepada para pelayat yang datang.
Mereka berdoa bersama yang di iringi oleh tangisan perpisahan dari mereka untuk mendiang.
__ADS_1