
Pelajaran tambahan dari guru-guru membuat Lusi terlihat melupakan calon suaminya, dan semakin akrab dengan Santi.
"satu bulan full belajar dan bimbingan, sekarang kita akan menghadapi ujian loncat kelas.
kok aku deg-degan ya? seperti jantung berdetak lebih kencang."
"sama San.....
yuk kita masuk."
Sanggah Lusi dan mereka berdua masuk ke dalam suatu ruangan dengan bergandengan tangan.
Hampir empat jam ujian loncat kelas, dan itu akhirnya selesai. selanjutnya adalah wawancara, dan terlihat guru-guru penguji sudah bersiap di suatu ruangan.
Lusi dan Santi sudah duduk berhadapan dengan empat pewawancara yang siap mengajukan pertanyaan demi pertanyaan untuk mereka berdua.
"hasil ujian loncat kelas sudah keluar dan kalian berdua dinyatakan lulus, dimana nilai tertinggi di raih oleh Lusi, bagaimana tanggapan Santi?"
"Santi sangat bersyukur ibu, ngak menyangka bisa lulus.
Wajar kalau Lusi itu mendapatkan nilai tertinggi ibu, karena sahabat ku pintar.
Bahkan Santi pun masih mintak di ajarin oleh Lusi akan pelajaran tambahan dari bapak-ibu guru.
Santi sangat bersyukur punya sahabat seperti Lusi, yang bisa membantuku belajar dengan baik.
Kalau papa dan mama mengetahui Santi lulus ujian lompatan, pasti langsung membuat syukuran.
Kelulusan ini merupakan prestasi pertama buat Santi.
Terimakasih bapak-ibu guru, terimakasih Lusi....."
Santi memeluk Lusi dengan begitu eratnya, seolah-oleh dunia hanya milik mereka berdua.
tok.... tok.......
(suara meja di ketok oleh guru, karena merasa di cuekin).
"hello......"
"maaf ibu, Santi sangat bahagia dan bersyukur."
"uhmmm......
baik kita lanjut ya."
"kalian berdua sama-sama lulus, dan nilai praktek kalian berdua, di kategorikan memuaskan. menurut Lusi, apakah Santi ini saingan mu?"
"ngak bu, misalnya kita sudah menjadi desainer dan kita berdua sama-sama memiliki butik.
Selera Lusi dalam membuat pola, gambar dan desain itu berbeda dengan Santi.
Demikian juga dengan selera orang dalam hal memilih pakaian.
Mungkin saja selera si A adalah desian yang Lusi buatkan, sementara selera si B desain yang dibuat oleh Santi.
Bisa di lihat saat penjurian lomba itu bu, desain Lusi dan Santi itu berbeda, dan kami berdua sama-sama lolos.
ngak merasa tersaingi bu, tapi seperti mendapatkan tambahan ide di setiap desain yang Lusi buatkan."
__ADS_1
Terlihat ibu guru yang bertanya itu kagum dan puas akan jawaban kedua anak didiknya itu.
"satu pertanyaan lagi, jika seandainya kalian berdua tidak lulus, atau hanya Lusi atau hanya Santi yang lulus di seleksi tahap ketiga.
Bagaimana perasaan kalian berdua?"
"Santi yang jawab duluan ya bu, kalau Santi sudah sangat-sangat bersyukur bisa sampai di tahap ke dua.
Jika tidak lulus di tahapan ke-dua, itu artinya Santi harus belajar dan praktek lebih giat lagi.
Kakak ku sering memuji Santi, dan selalu memakai pakaian yang aku buatkan untuk nya.
itu artinya Santi harus belajar dan praktek lebih giat lagi, dan umur Santi yang masih belia dan masih punya banyak waktu untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik.
Jika Lusi lolos tahap tiga, tentunya dong Santi akan mendukungnya dan nantinya bisa menjadi motivasi buat Santi."
"betul sekali kawan, tapi enak ya kalau kita berdua bisa lulus tahap ketiga ini.
Supaya kita berdua sama-sama lanjut terus dan ada teman nya.
Tapi Santi saja yang lulus, kamu tenang aja sobat, saya Lusi akan membantumu untuk memberikan ide-ide yang fantastis sembari terus belajar dan praktek lebih giat lagi.
Masalah ujian loncat kelas ini adalah suatu rejeki, karena di perhatikan khusus oleh bapak-ibu guru.
Serta menjadi pengalaman yang sesuatu banget untuk Lusi pribadi."
Selesai Lusi bicara, bapak kepala sekolah langsung berdiri dan meraih kedua tangan anak didiknya.
"kalian berdua menjadi harapan sekolah ini, dan selamat kalian berdua lolos di tahap ketiga dan akan dikirim ke Paris.
jangan......"
Kedua gadis belia itu berteriak dengan begitu kencangnya dan para guru-guru menutup telinganya.
Sementara bapak kepala sekolah hanya bisa menekuk jidatnya dan kemudian kembali duduk.
tok.......tok .......
"hei ..... hei.......
biasa diam ngak? duduk........"
Karena ditegur oleh kepala sekolah akhirnya Lusi dan Santi berhenti teriak dan mereka berdua masih cengengesan lalu duduk kembali.
"berdasarkan kesepakatan bersama para guru-guru dan hanya ibu Nania yang bisa menemani kalian berdua.
Sebenarnya masih ada jatah untuk satu orang lagi, tapi karena keadaan sekolah kita di tambah lagi para bapak-ibu yang tidak bisa ikut."
"ngak masalah bapak, yang penting ada guru yang mendampingi kami berdua.
Tadi bapak bilang ada satu orang lagi yang bisa ikut, bisa ngak pak kalau kakak ku ikut?
karena kakak ku ini kerja sebagai desainer di Binsar fashion?"
"bisa Lusi, tapi apa ngak merepotkan? terus apa kakak mu bisa izin dari kerja nya? karena seminggu lebih kalian di Paris.
jangan hanya karena menemani kalian berdua, lalu kakak mu itu jadi pengangguran setelah pulang dari Paris.
"sama sekali ngak, kakak ku ini masih gadis dan sangat berkompeten di bidangnya.
__ADS_1
Mas Yogi sudah meminta kakak ku ini untuk selalu menemani Lusi kemanapun Lusi pergi.
Urusan pekerjaan biar Lusi yang mengatur yang penting ada tempat untuk kakak ku itu."
"bagus.....
jadi kami para guru-guru merasa tidak bersalah lagi, terimakasih ya Lusi."
"sama-sama ibu."
prok.....prok.....prok......
Mereka akhirnya tepuk tangan untuk menyemangati diri mereka pribadi.
"administrasi sudah di urus oleh panitia dan dua hari lagi kalian akan berangkat ke Paris dan semangat......"
Kebahagiaan jelas terpancar di wajah kedua gadis belia itu dan mereka keluar dari ruangan seraya bergandengan tangan.**
Lusi yang tidak sabar untuk menyampaikan kabar bahagia tersebut kepada Desi, dan langsung menuju kantor kerja nya.
Begitu juga dengan Santi dan langsung pulang ke rumah untuk menemui kedua orang tuanya.
"emangnya kedua orangtua mu sudah pulang kerja?"
"iya iya....
kalau begitu Santi ikut sama mu boleh?"
"boleh dong."
Lalu mobil yang disetir oleh pak Rado sudah tiba di sekolah dan mereka berdua langsung masuk kedalam mobil.
"pake e.....
kami berdua lulus lompat kelas dan kami menjadi siswa kelas dua kemudian akan lomba di Paris pak."
"Alhamdulillah......
Non Lusi sudah memberi kabar tuan Yogi?"
"sudah pak e, nanti kak Desi dan juga ibu Nania yang menemani kami disana."
"iya benar, karena bapak juga akan ikut mengkawal kalian disana."
"loh....loh.....
terus keluarga bapak gimana? kami di Paris seminggu lebih loh pak.
Bu Nania dan kak Desi itu karena masih sendiri, lah bapak gimana?"
"tenang ......
anak-anak bapak sudah sekolah semua dan anak-anak yang menjaga mama nya.
Tugas suami atau ayah itu mencari nafkah dan keluarga sudah terbiasa bapak tinggalin.
Lagian bapak sudah banyak waktu akhir-akhir ini, tidak perlu merasa terbebani."
Panjang lebar penjelasan pak Rado, dan akhirnya disetujui untuk mengawal mereka ke Paris.
__ADS_1