
Jauh dari pulau dewata Bali, Yogi meringis kesakitan dan sumber sakit itu bersumber dari dadanya dan itu tepat dari jantung nya.
"apa yang terjadi dengan mu Lusi? kenapa kamu menyiksaku seperti ini."
ahhhhhh.........
Yogi terus menerus mengerang kesakitan dan kemudian berusaha meraih telpon genggam milik nya.
haaa.....ha....ha..... hiii....iiii.....
Terdengar suara yang karena kesakitan dan napasnya ngos-ngosan.
'*Aji....
a.....ah ...... apa yang terjadi dengan Lusi? kenapa jantungku sakit sekali?'
'maaf mas lupa ngasih tau, bude nya Lusi meninggal dunia.'
'sakit apa Aji? karena kemarin itu mas ngobrol dengan Lusi dan juga bude nya, suaranya masih terdengar sehat dan tawa nya begitu luwes.'
'sengaja di tabrak oleh saudara tirinya Lusi, kejadiannya begitu singkat mas Yogi
Tidak ada yang menyangka akan terjadi seperti ini, dan kejadian ini benar-benar di luar nalar kita.
Almarhumah tertabrak bersama istri penjual sayur mayur di pasar, ketika hendak membeli bahan jahitan di toko yang tidak jauh dari tempat jualan sayur mayur itu.
tidak pernah truk melintas ke sana, hanya pickup kecil yang diperbolehkan masuk untuk mengangkut barang-barang ke pasar.'
'terimakasih informasi nya, bisa kami mas ngomong dengan Lusi.'
'maaf mas, Lusi pingsan lagi dan saat ini masih di jaga mpok Alfa dan juga Desi.'
'baiklah kalau begitu, tolong jaga Lusi untukku.'
'iya mas Yogi*.'
Lalu Yogi mengakhiri sambungan telepon dan kemudian meletakkan handphone tersebut di atas meja.
Dengan bersusah-payah Yogi mencoba untuk tenang dan kemudian duduk bersila di lantai karena tidak sanggup ke ranjang.
"**mas Yogi, kita berada di mana mas?"
"kita sedang di alam mimpi sayang, mas sengaja mengundang mu ke sini agar bisa mengurangi rasa sakit di jantung Ku ini."
"ada apa dengan jantung mu? kenapa harus sakit dan kenapa harus bertemu di sini bersama mas Yogi."
"mas kangen melihat Lusi."
"mas aneh, yang ditanya apa jawaban lain. kalau mas Yogi kangen sama Lusi, kan tinggal temui Lusi aja."
"tidak bisa Lusi, ini semua demi kebaikan kita berdua, mas bisa menemui mu setelah perjanjian itu terlaksana.
Mas mohon kepadamu, tolong relakan kepergian bude mu. agar beliau tenang menghadap penciptaNya.
Apa Lusi tiga membuat arwah nya tidak tenang?
Ikhlaskan ya sayang, tidak ada gunanya meratapi kepergian bude mu itu.
__ADS_1
Asal kamu tau sayang, ratapan mu itu hanya membuat bude mu tidak tenang di alam sana."
"mas asal bicara seenak udelnya, mas ngak pernah merasakan kehilangan yang mas cintai."
"pernah Lusi dan sudah berulangkali, tapi harus ikhlaskan agar arwah nya tenang."
"mas hanya memang jago bicara, emangnya mas Yogi ketemu dengan arwah bude ku?"
"kalau kamu ngak percaya, kamu tanya aja sama Abi, sepupu mu itu.
Tanyakanlah padanya bagaimana hukum meratapi orang yang meninggal.
"mas Yogi kok tau kalau Lusi punya sepupu yang bernama Abi?"
"banyak hal yang mas ketahui tentang kamu sayang, dan tiba saatnya nanti kamu mengetahui mas yang sebenarnya."
"sok misterius mas ini, kenapa ngak sekarang aja ceritanya mas Yogi."
"banyak hal yang belum bisa mas ceritakan kepadamu Lusi, kamu yang sabar.
bangunlah dan ikhlaskan kepergian bude mu, kasihan bude mu nantinya.
Cukup berdoa untuknya dan berusahalah untuk bangkit kembali.
Mas Yogi mu sangat mencintaimu dan bersabarlah sayang**."
haaaaaaaa......ha....uhhhh..... ihhhhh........
Yogi sudah berhasil menemui calon istrinya melalui mimpi, di kala sang calon istri masih pingsan.
"Lusi....
Aku mohon Lusi, tolong ikhlaskan bude mu. karena bukan hanya bude mu yang tersiksa tapi mas juga kan tersiksa disini.
Rasa sakit mu akan menjadi rasa sakit ku, dan rasa jauh lebih sakit dari kematian.
Tolong tenangkan dirimu sayang ku, dan ikhlas kan kepergian mu."
Ujar Yogi yang bicara terhadap dirinya sendiri seraya memegang dadanya yang terkadang masih sakit.
"syukurlah....
sepertinya kamu sudah siuman Lusi, tolong ikhlaskan kepergian bude sayang.
Aku akan memberi pelajaran bagi orang yang menyakitimu, dan tidak akan ku biarkan mereka-mereka menyakiti mu lagi.
kamu yang sabar ya Lusi, kamu harus kuat sayang.
Mas harus rela menahan rindu yang sangat dalam, untuk menghindari petaka itu menghampiri mu.
Keluarga dari ayahnya mu itu, adalah pengecualian dan aku akan membuat perhitungan dengan mereka.
Tunggu kamu tenang dulu ya sayang, agar aku bisa memulihkan kembali kekuatan Ku.
Kamu adalah kekuatan ku, sekaligus kelemahan ku.
Jika kamu terluka, maka mas akan terluka dan jauh lebih sakit dari luka yang kamu terima."
__ADS_1
Ucap Yogi dan tiba-tiba handphonenya berdering.
'*gimana kabar Lusi?'
'syukurlah mas, Lusi sudah bangun dari pingsan nya. saat ini dia sedang dinasehati oleh sepupu nya yang bernama abi.'
'syukurlah....'
'mas Yogi masih merasakan sakit itu mas?'
'ngak lagi.'
'oh iya mas, tadi Lusi berkata kepada Desi. katanya Lusi bermimpi bertemu dengan Mu mas dan menasehatinya agar mengikhlaskan kepergian bude nya.'
'itu terjadi karena Lusi calon istriku yang direstui oleh leluhur Ku, dan kami terkoneksi satu sama lainnya.'
'jujur ya mas, sampai saat ini Aji masih bingung dengan semua penjelasan dari mas Yogi.'
'itu wajar Aji, karena kamu adalah manusia yang normal.'
'iya mas, jaga diri ya mas, kalau perlu sesuatu telpon Aji aja ya.'
'iya .....
tolong jaga Lusi untukku*.'
Yogi mengakhiri sambungan telepon nya dan kemudian mencoba untuk bangkit berdiri agar bisa beranjak ke kasur nya.
Lalu Yogi melipat kedua kakinya, sudah seperti orang yang bertapa.
siuhhhhhh......
Cahaya itu bersinar di atas kepala Yogi, dan terlihat cahaya itu semakin bercahaya.
uhmmm.....uhm.... uhum.....
Yogi batuk dan kemudian memuntahkan darah dan kemudian duduk bersila lagi seperti semula.
Sempat cahaya itu redup, dan menyala lagi tapi kali ini darah keluar dari hidung serta dari matanya yang sudah seperti air mata yang menetes.
Tubuh Yogi melayang-layang di atas kasur itu, yang disertai oleh cahaya yang berkilau.
Hampir dua jam Yogi melakukan demikian, seakan-akan dia melakukan perjalanan spiritual yang menghabiskan seluruh tenaganya.
Pada akhirnya......
bruk.......
Tubuh Yogi terjatuh dari ke kasur dan tidak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian, secara perlahan-lahan kedua mata Yogi terbuka dan jari telunjuknya mulai bergerak.
"Lusi....
Manusia-manusia itu tidak akan menggangu mu lagi, semoga kita bisa melewati hal ini."
Ucapnya dengan begitu pelan, dan mencoba untuk bangkit dari ranjang tersebut.
__ADS_1
Tapi sepertinya Yogi tidak bertenaga, karena hanya mampu menggerakkan sebagian tubuhnya saja.