PENGANTIN PRIA TERKUTUK

PENGANTIN PRIA TERKUTUK
Tidak Ada Yang Mengenali Rana dan Putrinya.


__ADS_3

Suci terlihat kelelahan demikian juga namanya, dan mereka berdua seperti orang yang linglung.


"rumah kita dimana ya? kok kita ngak nyampe juga, padahal ngak pala terjauh kita jalan dari rumah itu."


"iya... iya....


rumah kita dimana? itu ada orang, biar mama tanya dulu ya."


Ujar Rana kepada putrinya, dan kemudian mendekati pria yang kebetulan hendak lewat.


"rumah kami dimana ya pak?"


"kok nanya ma gue? emangnya kita saling kenal?"


"ngak juga sih, ngapain aku harus kenal sama bapak, hanya saja saya lupa rumah di mana?"


"ibu aja lupa, gimana dengan saya? emangnya alamat rumah ibu dimana?"


"itu loh....


jalan besar dan kemudian jalan sempit."


"nama jalan nya ibu."


Rana seperti orang yang linglung dan tidak ingat rumah yang ditempatinya selama ini dan kemudian memanggil putrinya.


"Suci....


apa sih nama alamat rumah kita?"


"emangnya kita punya rumah ya? dimana?"


"gila ini orang."


Ujar pria itu dan kemudian meninggalkan Rana dan putrinya yang terlihat seperti orang linglung.


ngeongggg....... ngiusssss........


Sepeda motor lewat dengan begitu cepatnya yang membuat penutup wajahnya Suci terbang jauh.


'iihhhhh......


lihat tuh wajahnya, sudah seperti penyihir yang di film-film itu loh.'


'seram banget.....


pergi yuk, siapa tau aja nular.'


Ucap para warga yang kebetulan berpapasan dengan suci dan mama nya.


Lama-kelamaan mereka berdua menjadi pusat perhatian para warga yang terlihat jijik dan takut melihat wajah Suci yang buruk rupa.


"apa-apaan ini? ngapain pada ngumpul disini? apa yang terjadi?"

__ADS_1


"pak RT....


ini pak RT, ada orang seperti penyihir disini."


Seorang warga menjawabnya dan pria yang dipanggil pak RT itu memerintahkan orang lain untuk membawa Rana dan putrinya ke suatu tempat, untuk menghindari kerumunan para warga.


Ternyata Rana dan putrinya dibawa ke pos ronda dan pak RT itu meminta Suci untuk menutupi wajahnya yang menakutkan itu.


"ibu dari daerah mana? mau ketemu siapa disini?"


"saya warga sini, dan suami ku bernama Jono."


"Jono Suhardi?"


"iya .....


Nama suamiku Jono Suhardi, cuman aku lupa alamat rumah kami."


"Loh....


istri Jono Suhardi sudah meninggal, dan saat ini Jono sudah dipenjara karena membunuh istrinya.


Rumahnya sudah jadi masjid di daerah sini dan merupakan masjid terbesar, karena beberapa rumah-rumah tetangganya tersebut dijadikan menjadi bagian masjid juga.


Saya ngak pernah melihat ibu sebelumnya, apakah kalian kenal dengan ibu ini?"


"ngak pak RT dan aku baru pertama melihat mereka berdua ini.


Coba pak RT mintak identitas nya?"


"pasti tinggal di rumah pak RT, karena tadi pagi saya dan putriku ini masih ke rumah itu dan kami ke gudang belakang untuk mencari peralatan kebersihan."


"maling tadi ini pak RT, karena tadi pagi pak Leo mengejar seseorang yang mengambil seperti menggeledah gudang masjid itu.


Di dalam gudang hanya terdapat alat-alat kebersihan, dan barang-barang keperluan masjid lainnya.


Pak Leo berkata bahwa malingnya tidak mengambil apapun tapi gudang menjadi berantakan, serta cairan pembersih lantai yang tumpah.


jadi kalian berdua yang mengacaukan gudang masjid itu?"


"eh kamu.....


jangan sembarang ngomong ya, itu rumah kami dan bukan masjid, saya ngak pernah membuat nya menjadi masjid."


"cukup.... cukup.....


biar ibu tenang dan tidak bertanya-tanya, mari kita lihat masjid itu."


Pak RT dan juga tiga orang laki-laki membawa Rana dan putrinya menuju masjid.


Rana dan putrinya itu terlihat kebingungan saat rumah yang seharusnya di tuju itu adalah rumah nya dan kini sudah menjadi masjid yang megah.


"ahhhhhh....

__ADS_1


kau kan yang masuk ke gudang itu? lihat semua pembersih lantai masjid tumpah semua.


Heran deh......


Para jama'ah yang membeli pembersih lantai itu ibu....


Tapi seenaknya kalian berdua menumpahkannya, ada masalah apa sih dengan kalian berdua?"


"sabar pak Leo..... sabar....."


"gimana ngak emosi pak RT, satu kardus besar pembersih lantai dan deterjen serta disinfektan, tumpah semua pak RT.....


Semua itu dibeli dengan uang jama'ah, lalu bagaimana caranya saya bertanggungjawab untuk itu semua?"


"sabar ya pak Leo, ini ada sedikit uang dan mudah-mudahan bisa membelinya kembali demi keperluan masjid kita ini."


"ngak usah deh pak RT, tadi saya hanya kesal aja. sayang aja tumpah semua gitu. tadi saya sudah lapor sama petugas masjid lainnya."


"pak Leo silahkan di ambil, untuk membeli perlengkapan masjid lainnya yang kurang, tadi saya mendapatkan rejeki karena membantu anak muda yang mobilnya lagi mogok.


Rejeki itu harus dibagi-bagi agar berkah, apalagi ini untuk masjid dan jama'ah lainnya."


Marbot atau penjaga masjid tersebut akhirnya menerima uang pemberian dari pak RT dan langsung menyuruh anaknya untuk membeli keperluan masjid, seperti yang tumpah itu.


"ibu ngapain sih ke gudang? di gudang itu ngak ada barang-barang berharga."


"ini rumah suamiku dan kenapa bisa jadi masjid?"


Marbot masjid itu terlihat kebingungan atas ucapan Rana.


"maksudnya piye pak RT?"


Pak RT juga hanya geleng-geleng kepala dan berusaha tenang agar bisa menghadapi Rana.


"saya sebagai RT adalah saksi akan peralihan rumah ini dan juga dua rumah lainnya untuk menjadi tanah wakaf dimana untuk digunakan membangun masjid.


Pemilik rumah ini yaitu pak Jono Suhardi bersama putrinya memberikan rumah dan tanahnya untuk wakaf.


Lalu putrinya itu juga membeli rumah kiri dan kanannya agar masjid jauh lebih besar, dan menyumbangkan sejumlah uang agar bisa membangun masjid menjadi semewah ini.


Lalu waris dari almarhumah warga RT sebelah, juga menyumbangkan sejumlah uang dan rumah almarhumah tersebut di jadikan sebagai musholla dan tempat pengajian para ibu-ibu dan juga anak-anak di sekitar sini.


Berhubung di RT sebelah sangat padat penduduk, dan hanya bisa membuat musholah dan jaraknya tidak terlalu jauh ke masjid yang megah ini.


Disepakatilah kalau masjid utamanya adalah masjid yang ini, dan rumah almarhumah itu dijadikan sebagai musholah dan tempat pengajian ibu-ibu dan juga anak-anak yang merupakan asuhan dari masjid ini.


Bapak-ibu sekalian......


mohon datang kemari....."


Beberapa warga lainnya berdatangan dan terlihat kebingungan tentang apa yang terjadi.


"bapak-ibu warga ku sekalian, mungkin saya kurang mengenal kedua perempuan ini, apakah mereka berdua warga disini atau warga RT sebelah?"

__ADS_1


"saya ngak pernah melihat kedua perempuan ini, emangnya pak RT dapat dari mana?"


Jawab seorang warga yang akhirnya membuat semuanya jadi tertawa, dan pak RT bertambah bingung dengan pengakuan para warganya yang tidak mengenal Rana dan putrinya.


__ADS_2