
Tanpa disadari air mata budenya mengalir di pipinya dan Lusi menghapus air mata itu.
"entahlah Lusi, entah kenapa bude melakukannya dan yang jelas bude sudah melakukannya dan mencoba menerima nya dengan lapang dada.
Saat ini bude masih belajar untuk berlapang dada, walaupun belum sepenuhnya bisa untuk melapangkan dada ini.
Semoga saja bude mampu melalui semua cobaan ini, dan bisa melapangkan dada untuk mereka-mereka yang menyakiti hati bude."
Bude berhenti bicara, karena sudah tiba di rumah dan Lusi memeluk nya.
Setelah puas berpelukan dan akhirnya bude keluar dari dalam mobil tapi tidak dengan Lusi, karena dirinya belum sanggup untuk bertemu dengan bocah yang bernama Zahran yang merupakan adik tirinya.
Mobil sudah melaju dan Lusi mendengar suara Zahran memanggil budenya, sementara Lusi berpura-pura tidak mendengar suara bocil itu.**
Mobil terus melaju dan mengarah ke rumah nya, akan tetapi Lusi masih terus-menerus menangis hingga akhirnya pak Rado menepi karena tidak sanggup untuk melihat Lusi yang terus-menerus menangis di dalam mobil.
"kenapa non? apa kita putar balik aja ke tempat bude mu?"
"jangan pak e, kita ke kantor polisi aja. Lusi ini bertemu dengan Papa."
"kok tiba-tiba non? apa ngak sebaiknya kita kabari bude mu?"
"ngak perlu pak, tolong jalan ya pak."
Pak Rado supir pribadinya hanya bisa mengangguk dan kemudian menjalankan mobilnya.
"emangnya bapak tau dimana Papa di tahan?"
"tau non, pengacaranya Binsar Batara group yang melaporkan Papa nya non ke polisi.
Sesuai dengan perintah dari mas Aji, yang mengatakan kalau suatu saat non ingin bertemu dengan Papa nya non, maka bapak harus mengantar non dan tetap menjaga non."
"terimakasih kasih ya pak, tapi apa boleh Lusi bertanya?"
"silahkan non, jika pertanyaan itu bisa ku jawab maka bapak akan menjawabnya dan apabila tidak bisa menjawabnya, maka bapak akan diam."
"okey......
jika dilihat dari fisik bapak, dan Lusi sangat tidak yakin kalau bapak bukan warga sipil biasa.
Apa Lusi salah menganalisis pak?"
__ADS_1
"tidak non, ngak salah kok. bapak pensiun dari angkatan darat dan bapak termasuk tim khusus di kesatuan.
Tiga anak bapak, dua laki-laki dan satu perempuan. semuanya sekolah di yayasan milik Binsar Batara group, dan sangat pintar serta mendapatkan beasiswa ke luar negeri.
Memang beasiswa tapi perlu sogokan dana, sebab anak-anak bapak mengambil kedokteran di universitas Sydney Australia.
Jika hanya mengandalkan gaji dari kesatuan bapak, tidak mungkin sanggup membiayai anak-anak di Australia yang notabene kebutuhan hidup jauh lebih tinggi di sana.
Mungkin melalui koneksi tuan Yogi, sehingga merekrut bapak sebagai supir sekaligus penjaga untuk non Lusi.
Gaji bapak ngak main-main disini, karena bapak adalah anggota khusus di kesatuan yang direkrut langsung.
Semua permasalahan finansial sudah teratasi dan jam kerja yang teratur sehingga masih waktu untuk istri bapak lebih banyak."
"waouuuuu........"
Lusi sangat mengagumi nya dan seketika rasa sedihnya itu hilang yang tergantikan dengan rasa kagum terhadap riwayat hidup pak Rado.
Saat itu juga Lusi berpindah tempat duduk ke samping pak Rado, walaupun itu membuat pak Rado kaget dan tetap berusaha tenang dan meminta Lusi untuk mengikatkan sabuk pengalaman.
"bapak mengorbankan karir bapak di kesatuan dan itu demi keluarga, lalu kenapa bapak mau membeberkan riyawat bapak ke Lusi, yang merupakan anak baru kemarin."
"Apapun akan bapak lakukan demi anak-anak dan juga istri, selama itu masih halal. karena mereka lah yang menjadi semangat bapak di dunia ini.
Terakhir non lah yang mengetahui riyawat bapak ini, itu karena non sudah seperti putri bapak sendiri.
Lagipula bapak harus menjaga hubungan dengan baik dengan non, agar terjalin hubungan kerja yang harmonis.
Bapak ngak takut kok jika riyawat bapak ini diketahui oleh orang lainnya, karena bapak kerja demi keluarga.
Bapak juga yakin sama non Lusi, walaupun non Lusi masih sangat muda tapi bapak mempercayai non aja.
Kalau di tanya alasannya, bapak ngak tau. yang jelas bapak sangat percaya sama non."
"waouuuuu......"
Lusi lagi-lagi hanya bisa mengagumi sosok pak Rado, dan tidak menyangka bahwa supir pribadinya itu adalah orang pilihan.
"kita sudah sampai non, dan ingat ya. non harus tetap di samping bapak.
Biar bapak yang mengurus nya, non hanya perlu berdiri di samping bapak."
__ADS_1
Lusi hanya mengganguk dan pak Rado yang menghadapi petugas dan akhirnya petugas membawa mereka ke dalam suatu ruangan.
Lusi bersama pak Rado, sudah duduk di kursi menunggu Papa nya Lusi dan tidak berapa lama kemudian, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
Kursi roda menjadi tempat penyanggah Papa nya, dan Lusi terlihat berusaha tegar.
"Lusi....."
Papa nya memanggil nya dan suara itu terdengar bergetar, dan air matanya mengalir seketika.
"Papa ngak menyangka kalau akhirnya Papa bisa bertemu dengan putri Ku.
Kamu jauh sangat cantik dan persis seperti mama Mu.
Terimakasih karena Lusi sangat kuat dan sehat, sehingga tumbuh menjadi gadis cantik nan tangguh.
Mama mu pasti bangga punya putri yang kuat nan cantik seperti kamu."
Suara Papa nya semakin pelan, itu dikarenakan air matanya yang terus menerus mengalir membasahi pipinya.
"maa.....maaafkan Papa, maaaaaf maaafkan Pa....pa...."
Ucapannya yang terbata-bata dan tidak jelas karena menangis, tapi Lusi masih diam dengan tatapannya yang kosong.
Papanya berulangkali mintak maaf, tapi Lusi masih diam, dan akhirnya air mata Lusi tumpah ruah di pipinya.
"Lusi...... aaaadalah putri bapak, maaaaaf maaafkan Papa yang sempat meragukan mu, dan p...a.....p....a....
Papa mintak maaf untuk mama mu, yang sempat meragukan cinta suci nya untuk Papa."
"kenapa Papa tega melakukan kepada Lusi dan mama?"
Air mata Papa semakin deras mengalir, suara yang kuat dari Lusi semakin membuat air mata itu mengalir deras di pipi nya.
Demikian juga dengan Lusi, air matanya yang tumpah yang mengisyaratkan bahwa hati nya yang terluka karena sikap Papa nya di masa lalu yang menyakiti hati nya dan juga mendiang mama nya.
"itu karena kebodohan dan keegoisan Papa mu ini, sehingga sangat menyakiti hati mu dan juga hati mama mu.
Papa sadar kalau tiada maaf untuk Papa, itu sese semua karena kelakuan Papa.
Maaaaaf..... maafkan Papa.... maaaaaf......."
__ADS_1
Papa nya terus menerus meminta maaf, suara itu terbata-bata dan pelan, suara tangisannya yang menghalau permintaan maafnya kepada putrinya.
Lalu Papa nya menghapus air matanya dan mencoba untuk bangkit berdiri.