
POV Rana.*
Rana dan putrinya sudah memakai satu pasang pakaian, dan pelayan toko mencopot label pakaian yang dikenakan oleh mereka berdua untuk scan barcode.
Sepertinya Rana dan putrinya sudah selesai berbelanja, dan kemudian mereka berdua menuju kasir yang di pandu oleh pelayan toko tersebut.
"total keseluruhan belanja ibu adalah, tujuh ratus lima dua ribu rupiah, bayar cash atau debit dan bisa juga menggunakan kartu kredit."
"cash..."
Jawab Rana dan kemudian mengambil tas buluk dari putrinya, lalu merogoh isi tersebut dan mulai menghitung lembaran-lembaran uang dari dalam tas.
Kasir dan pelayan toko tersebut terlihat bengong dan bingung.
"maaf ibu, kami tidak menerima pembayaran dengan daun."
"daun kau bilang, ini uang pecahan lima puluh ribu dan aku berikan sepuluh lembar."
"ini daun ibu, pakai kartu debit atau kartu kredit aja."
"ngak ada kartu itu, ini uang goblok."
Kasir tersebut memberikan kode kepada rekannya untuk mengambil pakaian yang dipegang oleh Rana dan putrinya.
"apa-apaan sih?"
"Yanti.....
geledah tasnya, dan temukan uang untuk membayar pakaian yang sudah dipakai mereka berdua."
Rekannya yang bernama Yanti itu, menggeledah secara paksa keduanya dan menemukan dompet Rana.
"kalau yang di kenakan nya berapa?"
"pakaian yang sudah di pakai seratus dua puluh lima ribu rupiah."
Jawab kasir tersebut, dan kemudian pelayan yang bernama Yanti itu mengambil uang dari dompet dan diserahkannya kepada kasir.
"berapa lagi isi dompetnya itu?'
"cuman segitu."
Jawab Yanti, dan kemudian mereka mengambil belanjaan Rana dan putrinya, terlihat mereka begitu kesal.
Lalu mereka mengusir Rana dan putrinya dari toko pakaian itu, sumpah serapah keluar dari mulut Rana dan juga putrinya kepada pelayan toko tersebut.
"kenapa sih dengan mereka semua? tadi sertifikat rumah yang di bilang buku tulis biasa, sekarang uang kita di bilang daun, terus apa lagi ma?"
"emas....
cek dulu emasnya, dan ayo kita periksa uang-uang kita itu."
Rana mengajak putrinya ke suatu tempat yang sunyi dan mulai memeriksa isi tas tersebut, dimana isi tersebut menurut mereka berdua adalah uang dan emas.
__ADS_1
"emas batangannya dan emas lempengan ini masih ada, dan juga uang nya masih utuh."
"gini aja, kita jual aja emas lempengan itu. hasil dari situ aja kita buat untuk membeli keperluan kita."
Ujar Rana kepada putrinya dan mereka berdua berjalan dari tempat tersebut.
"itu toko emas, yuk kita ke sana."
Ucap Suci dan mereka berjalan cepat menuju toko emas tersebut.
"mau beli atau mau jual ibu?"
Sapa penjaga toko emas, dan seketika itu juga Rana langsung mengeluarkan lempengan emas dari tas tersebut.
"apaan ini bu? inikan kulit kayu yang berbentuk bulat, kenapa ibu memberikan ini pada kami? "
Rana dan putrinya terlihat bengong akan ucapan dari penjaga atau pemilik toko emas tersebut.
"mungkin ibu ini menawarkan obat herbal kali?
tapi maaf ya bu, untuk saat ini kami tidak ingin membeli obat herbal."
"kok obat herbal? itu emas loh, mata kalian pada kenapa sih?"
Salah satu penjaga toko itu terlihat kesal melihat Rana, lalu mengambil pisau dan kemudian mengiris lempengan kayu tersebut di hadapan Rana dan putrinya.
"ibu lihat ni ya, masa emas bisa di iris seperti mengiris sayuran?
Ibu pasien dari rumah sakit jiwa mana sih? belum sehat tapi sudah berkeliaran."
"apa lagi itu bu? ini potongan dahan pohon yang sudah kering.
Capek melayani ibu, sana pergi. dasar orang gila."
Penjaga toko meminta tolong kepada juru parkir untuk mengusir Rana dan putrinya agar menjauh dari toko emas tersebut.
Kemudian mereka berdua pergi dari toko tersebut dan kemudian menuju suatu lorong yang lumayan sepi.
Di lorong itu, Rana menuangkan isi tas tersebut dan menurut penglihatannya, isi tas tersebut adalah uang dan juga emas lempengan serta beberapa emas batangan yang berkilau.
"dek.... dek....."
Rana memanggil anak-anak yang kebetulan hendak lewat dari lorong tersebut, sementara anak-anak tersebut memandang aneh ke arah mereka berdua.
"coba adek-adek lihat, apakah yang ada di hadapan ibu ini uang dan emas ya?"
"uang..... emas.....
itu daun dan potongan dahan kayu, dasar gila."
"eh bego....
ini uang bego, ngak pernah lihat uang yang banyak ya."
__ADS_1
hahahaha hahahaha hahahaha haha hahahaha haha haha haha haha
Anak-anak itu tertawa karena Rana tetap kekeh mengatakan isi tasnya itu adalah uang dan emas.
"orang gila.... orang gila.... orang gila..... orang gila..... orang gila....."
"kalian yang gila, kurang ajar....."
Rana malah mengamuk karena dikatai gila oleh anak-anak itu, dan kemudian melempari anak-anak itu dengan apapun yang ditemukan oleh Rana.
"kabur yuk....
orang gila nya ngamuk....."
Anak-anak tersebut lari untuk menghindari Rana dan putrinya yang terduduk lemas.
Tidak berapa lama kemudian, anak-anak tersebut datang lagi dengan membawa beberapa orang dewasa.
Seketika Rana langsung berdiri dan menunjukkan isi tasnya yang sudah berada di tanah.
"coba bapak ibu lihat, ini semua emas dan uang kan?"
Ck....ck.....ck.....
Para orang dewasa yang dibawa oleh anak-anak tersebut hanya berdecak, antara kasihan atau hanya sekedar mengejek atau mengolok-oloknya.
"itu daun dan potongan dahan kayu ibu."
Ujar seorang ibu-ibu dari antara kerumunan warga yang dibawa anak-anak tersebut.
"lihat pakai kedua biji matamu, ini uang dan emas yang berkilau."
Sepertinya Rana masih melihat tumpukan itu seperti uang dan emas, lalu seorang anak laki-laki mendekati Suci dan kemudian membuka paksa cadar atau penutup wajahnya Suci.
uahhhhkkkkkk.......
Begitu terkejutnya mereka yang melihat wajah Suci yang begitu buruk rupa.
"jangan-jangan mereka ini penyihir kali ya?"
"mungkin juga, mari kita usir sebelum menjadi petaka bagi warga sekitar sini."
Rana dan putrinya di usir dari lorong tersebut, para warga melemparkan apapun yang mereka dapatkan untuk mengusir mereka berdua.
Akhirnya Rana dan putrinya harus pergi dari tempat tersebut agar tidak terkena lemparan batu atau benda tajam lainnya.
Setelah agak jauh dari tempat tersebut, Rana menutup wajah putrinya agar tidak menjadi bahan olok-olokan warga lainnya.
"kita mau kemana lagi ma?"
"untuk sementara kita ke rumah itu lagi, kita bersihkan dan untuk sementara kita tinggal disana sampai kita mencari uang."
Karena tidak ada pilihan lain, dan akhirnya mereka berdua sepakat untuk kembali ke rumah.
__ADS_1
Berhubung tidak memiliki uang lagi, dan mereka berdua terpaksa jalan kaki menuju rumah dalam keadaan panas terik matahari.