PENGANTIN PRIA TERKUTUK

PENGANTIN PRIA TERKUTUK
Aji Melamar Desi.


__ADS_3

Aji yang tertunduk karena barusan mengungkapkan isi hatinya yang menyatakan kalau Desi adalah tipe gadis yang diinginkannya.


"apa Desi sudah punya pacar?"


Pertanyaan yang tiba-tiba yang bersifat pribadi dilontarkan oleh Aji kepada Desi, seketika itu Desi menatapnya.


"belum mas, karena terlalu sibuk kerja sehingga tidak ada waktu untuk cinta."


Hal yang tidak diduga-duga oleh Desi, karena Aji beranjak dari duduknya dan kemudian berlutut dihadapan seraya membuka kotak yang berisi cincin.


"bersedia kah engkau menikah dengan Ku?"


Pertanyaan itu membuat Desi bengong dan cincin itu diarahkan kepadanya.


"m....a....u......


tapi ada syaratnya."


"katakan apa syarat nya, dan semoga saya bisa menyanggupi syarat yang kamu ajukan."


Desi mengangkat wajahnya, sepertinya dia menahan air matanya lalu menatap Aji.


"saat ini adik laki-laki sedang menjalani dokter internship yang sedang ditempatkan di salah satu kecamatan di Sukabumi.


Tahun depan baru dia bisa kembali karena masa tugasnya akan segera berakhir, nantinya adikku itu akan mengambil spesialisasi di sini dan bisa tinggal di rumah kami.


Desi ingin menikah setelah adikku itu sudah mendaftar Speaslis yang dia inginkan.


Jika kelak mas Aji membawa kemanapun, Desi ngak khawatir meninggalkan kedua orang tua ku dan adikku yang paling kecil.


Syarat yang kedua, Desi menginginkan mas Aji melamar ku dihadapan ke-dua orang tua dan memberikan bukti keseriusan."


"saya terima."


Aji menjawabnya dengan begitu cepat tanpa berpikir, lalu berdiri dan kemudian meraih tangan Desi lalu melingkarkan cincin tersebut di jari manisnya.


"mas memang sudah punya rumah pribadi, tapi selama ini mas tinggal di rumah pak Yogi.


Tidak masalah bagiKu mau tinggal dimana asal kita selalu bersama.


Mas tahu kok kalau mpok itu cerewet, tapi mas sudah terbiasa menghadapi mpok Uni yang cerewet.


Sekiranya itu latihan bagiKu, lagi pula calon mertua itu tidak akan ngomel jika kita tidak melakukan kesalahan."


Ujar Aji sambil melingkarkan cincin itu ke jari manisnya dan kemudian menuntun Desi duduk kembali di kursi nya.


Lalu Aji meraih kursi yang lain dan duduk berhadapan dengan gadis pujaannya.


"Jujur ya, sejak pertama kali melihat mu di kantor ini. mas sudah jatuh hati kepada Mu, tapi sangat sulit bagiku untuk mendekati mu.


Tapi setelah calon istri pria kaku itu datang ke kantor ini, dan mas bisa melamar mu disini.


Berikan mas waktu untuk melamar mu dihadapan ke-dua orang tua mu.


Karena mas mengurus warisan peninggalan kedua orang tua Ku, dan mas berjanji tidak lebih dari tiga bulan."


"iya mas...


lagi pula kami sedang membangun tambahan kontrakan dibelakang rumah yang diperkirakan waktunya tiga bulan lagi, kalau bisa sekaligus nantinya mas datang ya untuk peresmiannya."


Aji mengganguk dan kemudian tersenyum manis saat menatap gadis pujaannya.


muach......

__ADS_1


Aji bengong karena Desi tiba-tiba mencium pipi nya.


"kok main cium aja."


Desi tidak menanggapinya dan langsung keluar dari ruangan Aji.**


Sudah menjelang siang hari dan Desi masih konsentrasi menyelesaikan pekerjaannya dan kemudian.....


"kak Desi cantik....."


"Lusiiii.........."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Seketika ruangan itu menjadi heboh karena kedatangan Lusi yang membuat Desi kaget.


"kalian berdua masuk ke ruangan saya, sekarang....."


Perintah Aji yang kebetulan lewat, sebenarnya sih karena Desi makanya Aji ada di sana.


Tanpa merasa bersalah, Lusi menggandeng tangan Desi dan berjalan ke arah ruangan Aji.


"mas Yogi kemana?"


Lusi langsung bertanya ketika masuk ke ruangan Aji.


"duduk..."


Tanpa menjawab pertanyaan dari Lusi, dan memerintah kedua gadis itu untuk duduk dihadapannya.


Aji memberikan kode kepada Desi, agar menceritakan tentang keberadaan Yogi, akan tetapi Desi menolak nya.


"Lusi....


"mas Yogi menghindari Lusi ya?"


"tidak Lusi, kamu tetap calon istrinya dan semua yang dilakukan pak Yogi demi masa depan kalian berdua.


Lusi masih kok menelpon pak Yogi, dan janjinya untuk melindungi mu tetap.


Disekitar tempat tinggal kalian itu sudah ditempatkan orang-orang kepercayaannya pak Yogi, demikian juga di area sekolah mu.


pak Rado akan selalu standby untuk mu Lusi, dan apapun keinginan mu pasti akan dipenuhi oleh pak Yogi."


"kapan mas Yogi pulang?"


"tidak tahu pasti Lusi, nanti kamu telpon aja ya, tapi yang jelas kalau Lusi adalah calon istri tuan Ku.


Jika perlu sesuatu, sampaikan sama Desi atau pak Rado, atau langsung menelpon pak Yogi."


"begitu ya....."


Ucap Lusi dengan lemas, dan kemudian Aji mengeluarkan dua kartu berwarna hitam dan memberikan kartu itu kepada kedua gadis itu.


"tidak jauh dari tempat tinggal kalian, ada supermarket dan itu milik Binsar Batara group.


Gunakan kartu hitam itu untuk mendapatkan apapun yang kalian inginkan secara gratis.


Terkhusus untuk Lusi, jangan pernah berpikir kalau pak Yogi meninggal mu atau menjauhi mu.


paham...."


"paham.....

__ADS_1


kak Desi, yuk kita belanja....."


"uhmmm.....


masih......"


"pergilah dan belanja sesuka hati kalian, masalah pekerjaan biar mas yang ngatur disini."


Tangan Desi langsung di tarik oleh Lusi dan mereka berdua sama-sama pergi meninggalkan ruangan itu.


"hei dua gadis mentel, mau kemana jam segini?"


Farel kepala bagian designer mengagetkan mereka berdua yang baru saja keluar dari ruangan Aji.


"ke salon, shopping dan makan steak."


Jawaban dari Lusi yang spontan dan terlihat begitu centil.


"emangnya punya duit?"


"punya dong kak, kan bonus sudah cair dan lagi pula kami berdua punya kartu hitam ini."


"ikuttttt......


bosan tau kerja mulu, sesekali bolos kerja lah."


"mari......"


Ujar Lusi seraya mengulurkan tangannya agar di raih oleh Farel.


slasss......


Pak Rado yang sudah tiba dihadapan mereka, langsung menepis tangan Farel agar tidak meraih tangan gadis belia itu.


"dengar ya Farel, saya di tugaskan oleh tuan Yogi untuk melindungi non Lusi dari semua pria yang mencoba mendekati calon istrinya.


Singkirkan tangan jahil mu itu, kalau ngak saya memotong tangan mu itu."


"ihhhhh....


dasar pak tua, ikut campur aja.


ladies.....


let's go......"


Ujar Farel dan mengajak kedua gadis itu dan pak Rado mengikuti mereka dari belakang.


"eh pak tua, ngapain ngikuti kami? mau ikut ke salon juga."


"idih.....


siapa ngikutin Lo.....


saya itu mengawal calon istri tuan Ku, paham...."


"whatever......"


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Jawaban spontan dari Farel, pria lentik itu membuat Desi dan Lusi tertawa.


Kemudian mereka lanjut jalan dan memasuki lift khusus itu.

__ADS_1


Mereka bertiga tetap di ikuti oleh pak Rado, dan akhirnya sampai juga di basemen.


__ADS_2