
POV Jono.*
Rana sudah dibawa ke suatu ruangan sementara Jono dan adik perempuannya hanya boleh sampai di depan pintu saja.
"kamu sudah puas menyakiti istriku?"
"dasar bego....
kamu masih mengganggap nya istri setelah mengetahui semua perselingkuhannya?
dasar bodoh......
Lebih baik lihat dulu keadaan anak haram istrimu."
Jono hanya terdiam dan sang adik perempuannya itu membawanya ke ruang rawat lainnya.
Kali ini ruang rawat nya berbeda dengan ruang rawat istrinya yang berada di bangsal umum.
"itu anak hasil selingkuhan istri mu."
Dila menunjuk ke arah ranjang seseorang, dan mendorong kursi roda itu lebih dekat lagi ke ranjang itu.
"gimana kabar mu anak haram? wajah mu sungguh menyeramkan, seseram perbuatan mu yang menjadi simpanan om-om."
Ternyata itu adalah Suci dan wajahnya tidak di perban lagi.
"Papa.....
tolong suruh diam perempuan gila itu."
"Papa kamu bilang? ngak salah?.....
sadar kau anak haram, kau itu lahir atas perselingkuhan mama mu, sang perempuan binal itu.
Oh iya mama disini juga loh, keadaan nya sungguh tragis. dimana kewanitaan koyak karena selingkuh dengan pria lain di Thailand.
Mama dan putrinya sama aja ya, sama-sama suka sama suami orang."
Suci menangis mendengar ucapan Dila, akan tetapi Jono tidak bisa berbuat apapun.
"kok nangis......
Takut ya kalau om-om kamu itu tidak memakai mu lagi karena sudah seperti monster.
kasian anak haram ini......
cup ...... cup ....... cup....."
Lalu Dila menoleh saudara laki-lakinya dan menatap nya seraya tersenyum.
"mas Jono.....
Putri hasil selingkuhan istri mu, ngak bisa melahirkan lagi.
Karena rahim nya sudah diangkat, alasannya karena mulut rahim nya infeksi karena gonta-ganti pasangan tidur.
Kasian bangetttttt......
Masih muda tapi rahim nya udah ngak ada, sudah gitu pun wajahnya seperti wajah monster.
Makanya jangan merebut laki orang, gini akibatnya nya."
"bude bisa diam ngak?"
__ADS_1
"bude.....
saya ngak sudi menjadi bude anak haram seperti kau, lebih baik anjing memanggilku bude dari pada kau anak haram sang perebut laki orang.
Sakit ya ......"
Suci hanya bisa menangis sementara Jono hanya bisa tertunduk, dan tiga orang pasien lainnya serta keluarganya menatap ke arah mereka dengan tatapan aneh.
"ibu-ibu....
hati-hati sama anak ini ya, nanti suami ibu-ibu direbut nya.
Wajahnya seperti monster seperti ini, karena ulah para istri, dimana suaminya di rebut oleh anak iblis ini.
Hati-hati loh bu......"
Ucap Dila kepada dua ibu-ibu yang menjaga keluarga nya di ruangan itu.
"cukup Dila, kasihan Suci."
"waouuuuu......
mas Jono hebat ya, masih aja membela anak haram dari istrinya.
Kalau aku sih malu ya, istriku perebut suami orang, penghancur keluarga orang lain.
eh.....
anak haram istri dari istrimu sama juga, sama-sama binal dan brengsek."
Suci hanya bisa menangis dan menangis, terlihat Dila meraih handphonenya.
"anak haram.....
nanti jangan lupa lihat akun Facebook mu ya, disana mengenai kabar mama mu sudah tersebar.
hakkkkkkk...... hakkkkkkk.....
Suci menangis hingga cekukan dan kemudian menatap Dila.
"kenapa bude melakukan ini semua?"
"sekali saya katakan ya anak haram......
saya tidak sudi kau panggil bude, anak hasil perselingkuhan seperti kau tidak pantas memanggilku bude.
Karena kau penasaran, biar ku jelaskan duduk permasalahannya.
Rena, anak perempuan ku bunuh diri, karena fitnah yang di sebar oleh mama mu dan juga kau anak haram.
Rena dan Lusi bisa membeli pakaian baru dan sedikit perhiasan, karena mereka berhasil menjual hasil jahitan Ku.
Lusi adalah gadis yang kuat dan berbeda dengan putri ku Rena, yang terlalu lembut hati nya sehingga mudah rapuh.
Kau mengedit foto putriku bersama pria hidung belakang, padahal itu foto sendiri.
Bersama Lusi, dan kami berusaha membujuknya agar tidak nekad bunuh diri.
Tapi usaha kami gagal, lalu kehilangan Rena untuk selamanya hanya karena fitnah kau dan mama mu perempuan ****** itu.
Sekarang kau dan mama mu, sudah hancur dan berakhir.
itulah sumpah serapah yang di ucapkan oleh orang banyak yang kalian berdua sakiti."
__ADS_1
"maafkan Suci...."
"percuma kau minta maaf, karena maaf mu tidak bisa mengembalikan mama, Rena, dan mbak Mawar."
Dila menghapus air matanya yang mengalir, dan kemudian berusaha tegar.
"saya harus pulang, karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Dila.....
Mas mintak tolong sama mu, berikan kami pertolongan mu."
"itu urusan mu mas Jono, seperti yang dulu kamu ucapkan kepada Dila. kalau harus mengurus rumah tangga masing-masing."
"tolonglah Dila, mas benar-benar butuh pertolongan Mu."
"baik....
tapi ada syaratnya, ceraikan perempuan ****** itu, dan hanya mas jono serta Zahran yang bisa Dila tampung.
Kalian harus mengosongkan rumah peninggalan mbak Mawar, karena saya tidak sudi penyebar fitnah itu tinggal di rumah itu."
Sejenak Jono terdiam lalu menatap lirih ke saudara perempuannya itu.
"setidaknya Rana dan Suci keluar dari rumah sakit."
"tidak ada tawar menawar mas Jono, lagi pula istrimu yang doyan selingkuh itu masih memiliki keluarga lain dan sudah Dila hubungi untuk segera datang kemari.
Mas Jono dan Zahran akan tinggal di belakang lapak jahit, dan selama Dila masih sehat, aku memberikan bantuan untuk kalian berdua."
"tapi....."
"tidak ada tapi-tapian, dan tidak ada tawar menawar.
Mas Jono yang membuat pilihan yang minim ini dan mas Jono sendiri yang menempuh jalan yang salah.
Sekarang juga mas putuskan dan saya akan membantu pengurusnya, termasuk perceraian kalian berdua."
Dila melangkah hendak keluar, karena Jono tidak kunjung memberikan pilihan nya.
"tunggu dulu..."
Dila berhenti lalu kembali melangkah ke arah saudara laki-lakinya itu.
"apa keputusan mas?"
"saya akan menceraikan Rana dan hanya hidup dengan Zahran dan jika bertemu dengan Lusi, aku memohon ampunan nya agar bisa kembali seperti dulu."
"bagus.....
tapi apa alasannya mas Jono memilih ini?"
Tiba-tiba saja Jono menangis dan air mata itu semakin mengalir deras.
Kemudian Jono mendorong kursi roda agar bisa menghadap Dila dan langsung memeluk adik perempuannya itu.
"maafkan mas Jono Dila, mas mintak maaf....mas mintak maaf, mas mintak maaf."
Jono meminta maaf kepada adik perempuan dan itu di ucapkan secara berulang-ulang diperlukannya.
Dari ranjang itu, terlihat Suci menangis. seakan-akan dia menyesali semua perbuatannya.
Tangisan itu seperti sahut menyahut, antara Jono dan putri selingkuhan istinya itu.
__ADS_1
Tangisan Jono semakin menjadi-jadi dan Dila berusaha membuat nya tenang.
Segenap usaha Dila dan akhirnya saudaranya itu bisa diam juga dan kemudian menatap dengan raut wajah yang sedih.