PENGANTIN PRIA TERKUTUK

PENGANTIN PRIA TERKUTUK
Terlalu Asyik Ngoceh.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Lusi sudah selesai memasak dan seperti menunggu seseorang di meja makannya.


"haduh.....


wanginya enak banget, buat lapar aja."


Ujar adik laki-lakinya Desi yang datang bersama kedua orangtuanya dan juga Desi yang sudah tiba di meja makan itu.


"sekali lagi Lusi mintak maaf ya karena sudah menggangu tadi malam.


Sebagai permintaan maaf Lusi, mohon di santap masakan yang telah aku masak."


"walaupun ini namanya penyuapan, tapi karena sudah terhipnotis dengan aroma makanan ini, dengan ikhlas bapak akan makan masakan mu ini."


Mereka akhirnya makan bersama-sama di meja makan yang tidak terlalu besar itu.


Mie goreng, ikan goreng dengan sajian saus dan juga sayur rebus lalap yang tersaji di atas meja berikut dengan nasi putih yang terhidang.


"Lusi kapan belanja ikan?"


"ngak belanja kok mpok, itu ikan mpok dari kulkas yang Lusi ambil tadi pagi."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Mereka hanya bisa tertawa akan pengakuan Lusi, karena dirinya mengambil ikan dari kulkas milik mpok Alfa dan di masak nya untuk di hidangkan.


"bukan hanya ikan mpok, berikut dengan bawang merah tiga siung, bawang bombai setengah dan juga sedikit cabe.


kalau mie putih ini kemarin Lusi beli ketika membeli beras dan minyak di warung.


mpok marah ya?"


"ngak Lusi, toh juga ikan itu mau mpok masak untuk sarapan.


terimakasih ya Lusi atas semua hidangan lezat mu ini.


mpok dan keluarga langsung makan begitu mata melek."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Mereka tertawa lagi, dan kemudian melanjutkan sarapan.


Selesai sarapan lalu Lusi membuat minuman yang hangat dan diberikan kepada anggota keluarga.


"namanya teh cinta ala Lusi, resep dari almarhumah mama ku.


Bahannya adalah akar alang-alang kering, jahe merah dan jahe badak, serta sedikit daun kunyit lalu diberikan gula aren asli yang Lusi ambil langsung dari dapur mpok."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Lagi dan lagi mereka tertawa, seperti keluarga besar yang sedang menikmati kebersamaan di pagi hari yang indah.


"enak lagi loh, tenggorokan terasa lega dan tubuh rasa nya langsung hangat.


ngak sia-sia Lusi nyolong gula aren dari dapur Istriku."


Sanggahan dari ayahnya Desi yang membuat mereka tertawa lagi.


"maaf ya mpok, karena Lusi sudah merampok dapurnya mpok.

__ADS_1


Lusi belum mengisi kulkas, karena baru selesai ujian nasional mpok."


"santai aja Lusi, toh juga kamu buatkan menjadi makanan dan minuman enak yang juga dinikmati oleh keluarga.


itu semua memang mpok stok untuk beberapa hari aja.


Tapi Lusi yang meledakkan dapur mpok kan?"


"pokoknya aman terkendali mpok?"


Mereka kemudian tertawa dan sepertinya melupakan waktu.


"hello.....


sudah mau jam tujuh nih, siap-siap kerja dan ke sekolah."


muach......


Adik laki-laki Desi mencium pipi nya Lusi dan mengucapkan terimakasih atas masakan lezat yang disajikan oleh Lusi dan langsung menarik ayahnya keluar dari kontrakan Lusi.


Kini tinggallah Lusi dan Desi yang masih duduk di kursinya tapi mpok Alfa melotot ke arah mereka berdua.


"kalian berdua kok masih duduk aja, emangnya Lusi ngak sekolah?


Desi libur ya, makanya terlihat santai begitu."


Desi seketika hendak beranjak dari tempat duduknya lalu di cegat oleh Lusi.


"kalau Lusi sudah selesai ujian, nah kak Desi akan menemani Lusi untuk kerja pertama kalinya.


Nanti kami akan sama-sama berangkat kerja mpok, di jemput dengan mobil mewah."


Ujar Desi dan kemudian mereka berdua membersihkan meja makan.


Selesai membersihkan meja dan mencuci piring, lalu Lusi mendekati mpok Alfa yang masih minum teh di meja makan.


"mpok nanti belanja keperluan dapur?"


"rencananya gitu, tapi pulang dari kafe aja. tidak jauh dari kafe ada pasar sore yang menyediakan semua kebutuhan dapur."


"boleh Lusi nitip mpok?"


Mpok Alfa mengganguk dan langsung deh dicatat oleh Lusi segala keperluannya.


"banyak benar dah...."


"eh..... si mpok.


tar suruh aja seseorang untuk membantu mpok."


Ucap Lusi seraya menyerahkan uang sebanyak dua lembar uang lima puluh ribu rupiah.


"banyak amat...."


"iya mpok, sengaja Lusi lebihkan biar sekalian mpok susun di kulkas ya."


"idih....


asas manfaat."

__ADS_1


Mereka bertiga malah tertawa dan berakhir dengan omelan dari mpok Alfa yang menyuruh kedua gadis untuk segera mandi dan siap-siap.**


Lusi yang bersama Desi telah naik ke mobil mewah itu, yang dikemudikan oleh pak Rado.


Berhubung jalanan ramai padat, dan harus menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih. dan pada akhirnya mereka tiba di gedung mewah itu.


"neng Desi bawa adek ke kantor ya?"


"pak Ojak kepoh deh, terserah aku dong mau bawa siapapun ke kantor ini."


"ngak bisa gitu atuh neng, jelas-jelas di kantor ini tidak bisa membawa adik atau..."


"atau apa pak?"


Yogi yang sudah hadir di gedung tersebut dan menegur satpam itu.


"maaf pak, saya hanya menjalankan tugas saya pak."


"saya juga mintak maaf karena lupa memberitahu bapak kalau kita ada desainer baru."


Yogi menarik tangan Lusi demikian juga Lusi yang menarik tangan Desi.


"Lusi ini pegawai baru disini dan terserah Lusi masuk jam berapa dan kapan dia libur, bapak ingat ya wajahnya yang sok imut ini."


Lusi tidak berkutik dan hanya memandangi wajah tampannya Yogi dan kemudian tetap melangkah bersama.


Pegawai yang lain terlihat heran melihat Desi yang baik lift khusus itu, karena tangan Desi yang terus di gemgam oleh Lusi.


"Lusi salut sekali sama mas Yogi, yang menghargai orang tanpa memandang status, I love full mas Yogi."


Aji asisten pribadi nya Yogi begitu juga dengan Desi hanya bisa menahan tawa karena ocehan Lusi di dalam lift itu.


"mas....


apakah Lusi dapat ruangan yang mewah atau ruangan bagi bersama?"


"kita ngak butuh ruangan Lusi, kita hanya butuh meja dan komputer yang bisa mendesain."


"oh.....


meja dan komputer Lusi apakah sudah ada mas Yogi?"


"semuanya sudah disiapkan non Lusi."


"terimakasih pak ganteng."


Seketika Yogi melotot ke arah Aji, karena Lusi memujinya.


"maaf tuan...."


"kenapa mas? kenapa harus ada yang mintak maaf?"


Yogi tidak menjawabnya dan melihat hal itu membuat Lusi dongkol karena merasa dirinya di cuekin oleh Yogi.


"mas ngak mulut ya? atau napas mas Yogi bau?


Ngomong dong mas, apa Lusi berbuat salah? ngomong dong, jangan kayak anak gadis yang lagi menstruasi."


Yogi berhenti jalan karena semua mata tertuju kepada mereka, dan seperti Lusi tidak menyadari kalau mereka sudah keluar dari lift.

__ADS_1


__ADS_2