
Setelah memberikan album itu kepada Aji lalu Ia duduk kembali di kursi tersebut dan menatap Aji.
"adik kecilku sudah dewasa dan sudah mulai jatuh cinta."
"haaaaa....."
Aji bengong setelah mendengar kalimat itu dari Yogi.
"Itulah photo ayah dan ibu mu, waktu itu kamu masih berumur tiga tahun dan photo itu di ambil di salah satu studio di Texas."
Kemudian Yogi bangkit lagi dari duduknya dan melangkah ke arah lemari besar itu.
Membuka lemari dan mengambil map berwarna biru dan juga plastik kresek berwarna hitam dan plastik sudah usang.
"di dalam map ini adalah surat tanah tanah tempat tinggal kalian yang terbakar, dan tanah itu masih dalam pengawasan Binsar Batara group.
Berikut juga asuransi jiwa kedua orang tua mu, dan deposito jangka panjang milik orang tua mu serta tabungan emas milik ibu mu dan semua itu berada di pengawasan Binsar Batara group.
Itulah yang di inginkan oleh pembunuh kedua orang tua mu adik kecilku."
Aji menatap wajah Yogi karena kalimat terakhirnya itu.
"Saya tidak bisa mencegah keserakahan keluarga mu.
apa artinya tuan?"
Yogi membalas tatapannya dan kemudian menoleh ke map yang dipegang oleh Aji.
"saya tidak bisa ikut campur dalam masalah keluarga dari orang-orang kepercayaannya Ku, karena itu akan menimbulkan malapetaka yang dahsyat.
Bisa saja aku menyelamatkan kedua orang tua mu, tapi nantinya kamu akan mengalami kesialan yang sangat-sangat menyakitimu dan kelak seluruh keturunan mu.
Tapi aku berjanji kepada kedua orang tua mu kalau aku harus menjaga mu jika kelak terjadi sesuatu kepada mereka.
Terutama ibu mu, beliau sebenarnya sudah mengetahui kalau keluarga mengincar harta kekayaan mereka.
Itulah mengapa kedua orang tua mu membeli asuransi jiwa.
Apakah kamu bisa mengenali siapa yang membunuh ke-dua orang tua mu?"
"tidak tuan, tapi mereka yang ada di photo ini adalah pembunuh kedua orang tua Aji."
Kemudian Aji menunjukkan lembaran album itu kepada Yogi dan sepertinya Yogi mengenali ketiga pria dalam photo itu.
"ketiga pria itu om kamu, adik laki-laki dari pihak mendiang ibu mu.
Tapi ketiga om mu sudah berada di rumah sakit jiwa, karena sesuatu hal.
Kamu bisa mendatangi keluarga nya, mereka tinggal di kompleks perumahan subsidi itu."
Aji lalu berdiri dan tiba-tiba memeluk tubuh Yogi.
"terimakasih tuan atas semua kebaikan tuan."
"sama-sama adek kecil."
__ADS_1
Yogi kemudian menarik tubuh Aji dan menatap nya.
"saya sudah lama mencabut kutukutan itu dari keluarga mu, dan jika mengumpulkan semua harta kekayaan orang tua mu, Aji ngak butuh lagi pekerjaan."
"tidak.....
saya akan tetap menjadi asisten pribadi mu tuan, karena selain atasanku, tuan juga sudah sebagai ayah ku.
Aji berharap bisa menjadi asisten pribadi mu tuan, sampai tiba waktunya pensiun."
Yogi mengganguk kemudian tersenyum ke arah Yogi.
"Aji menyukai Desi, apakah kemungkinan keluarga Desi akan menyakiti Ku? seperti keluarga ibu ku yang menyakiti keluarga kami sendiri?"
"menurut ngak, karena keluarga Desi dibesarkan dengan cinta. lagipula keluarga Desi sudah kaya raya dan tidak terlalu membutuhkan uang.
Kedua orang tua kerja hanya untuk mengusik kebosanan, rumah kontrakan dan homestay serta kafe yang dibangun Desi sudah lebih dari cukup untuk mereka.
tapi kamu harus ingat, kalau mama Desi itu cerewet."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Mereka berdua sama-sama tertawa dan kemudian tersenyum.
"bagaimana dengan arwah uak Santo?"
Senyuman itu menghilang dari wajahnya Yogi dan tatapan nya kosong.
"arwah itu akan lenyap setelah aku dan Lusi menikah, tapi butuh waktu yang lama. karena harus menunggu Lusi sampai dewasa.
Saya bisa mintak sama kamu."
Aji mengganguk pertanda Ia bersedia menolong Yogi.
Lalu Yogi berbisik kepada Aji dan sepertinya itu rahasia.
"baik....
aku akan melaksanakannya dan mengurusnya sembari mengurus peninggalan ke-dua orang tua Ku.
Aji akan tetap bersama mu tuan sampai tiba waktunya Aji untuk istrihat."
"terimakasih adik kecilku."
Ujar Yogi dan kemudian pergi dari ruangan itu, lalu Aji meraih handphone Nya.
Kemudian Aji menelpon seseorang dan tidak berapa lama Aji kemudian tersenyum dan mengakhiri sambungan telepon tersebut.
Selesai menelpon dan kemudian Aji membereskan dokumen yang diberikan oleh Yogi dan kemudian keluar kamar lalu turun ke bawah.**
Tok....tok.... tok.....
Pagi hari yang cerah dan secerah senyuman Desi yang menerangi hati Aji.
Setelah mengetuk pintu itu, lalu gadis cantik masuk ke ruangan Aji seraya tersenyum manis.
__ADS_1
"apa yang bisa ku bantu mas?"
"duduklah, ada yang aku sampaikan."
Desi kemudian duduk dihadapan nya dan Aji menatap gadis cantik yang ada dihadapannya.
"mau kopi atau teh?"
"kopi aja mas."
Aji langsung menekan tombol yang ada diatas mejanya dan terdengar dia meminta dua gelas kopi. selesai memesan minuman itu, Aji kembali menatap gadis cantik itu.
"rekan mu yang centil itu kemana?"
Aji memulai obrolan dengan menanyakan Lusi kepada Desi tapi belum di jawab karena kopi pesanan mereka berdua sudah di antar oleh office boy.
Mereka berdua sama-sama menyeruput kopi tersebut, dan kemudian saling bertatapan.
"hari ini hari pertama bagi Lusi masuk SMK tata busana mas, mungkin nanti siang gadis centil akan ke sini.
oh iya mas belum menjawab pertanyaan Ku dan kemana sang bos yang kaku itu."
"kamu itu ya, ngomong selalu benar. memang sih pria itu selalu kaku.
itu yang ingin aku bicarakan, agar nantinya Desi bisa menyampaikannya ke Lusi dengan pelan-pelan.
Pak Yogi saat ini berada dalam perjalanan menuju Amerika, lebih tepatnya ke Texas.
Ada beberapa hal yang di urusannya yang berkaitan dengan anak usaha Binsar Batara group.
Saya juga tidak tahu sampai kapan pak Yogi disana, jadi untuk sementara saya yang menghandle semua anak usaha Binsar Batara group yang ada di Indonesia.
Pak Yogi tidak menghindari Lusi, atau mengingkari janjinya.
Lusi tetaplah calon istri pak Yogi, tolong jelaskan kepada Lusi nanti nya ya."
hmmmm.......
Desi menghela napasnya setelah mendengarkan semua penjelasan Aji.
"kenapa ngak mas aja yang menjelaskan sama Lusi?"
"Yogi melarang Ku untuk ngobrol berduaan sama Lusi, karena cemburu.
Lusi bukan tipe ku, walaupun aku jelaskan berulang-ulang tapi pria kaku itu tidak bisa menerimanya."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Desi tertawa mendengarnya, lalu menatap pria tampan yang ada dihadapannya.
"tipe mas gadis seperti apa?"
"kamu."
Desi tersipu malu akan jawaban dari Aji, dan hanya bisa tersenyum.
__ADS_1